Loading...

Modernisasi Digital untuk Akuakultur, Tingkatkan Pendapatan Pembudidaya

16:49 WIB | Friday, 06-July-2018 | Non Komoditi | Penulis : Indarto

Kartu KUSUKA, kartu identifikasi bagi pelaku usaha kelautan dan perikanan

Tidak dapat dipungkiri jika digitalisasi kini sudah menyentuh berbagai lini dengan beragam manfaatnya. Untuk sub sektor akuakultur perikanan, modernisasi digital bisa memberikan dampak dalam peningkatan pendapatan bahkan mempermudah pembudidaya

 

Sub-sektor akuakultur menjadi bagian penting dalam perekonomian nasional. Secara nasional, akuakultur dapat menggenjot kontribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional, yang pada tahun 2017 kontribusi mencapai 2,57 persen terhadap PDB. Secara personal, akuakultur juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya dalam meningkatkan pendapatan.

 

Direktur Perbenihan Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Coco Kokarkin Soetrisno menuturkan peluang akuakultur tersebut harus ditangkap melalui pemanfaatan sumberdaya akuakultur secara optimal. Karena itu, faktor efesiensi mutlak untuk didorong untuk mempercepat pengembangan kapasitas usaha di tingkat masyarakat maupun industri.

 

“Khususnya, di era globalisasi seperti saat ini, dimana persaingan perdagangan global akan semakin ketat, jalan satu-satunya yang harus dimiliki yakni produk akuakultur yang berdaya saing tinggi," jelas Coco Kokarkin saat memberi sambutan dalam seminar bertajuk “Industri Perikanan Budidaya di Era Digitalisasi” di Jakarta (4/7).

 

Coco menambahkan agar produk berdaya saing tinggi, pembudidaya ikan tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan input teknologi yang efisien, mutu produk yang terjamin, dan rantai sistem produksi yag efisien dari hulu hingga hilir.

 

“Sub sektor akuakultur agar bisa efektif dan efisien harus mampu menangkap industrialisasi yang berbasis pada modernisasi teknologi informasi, dimana ada penggabungan antara teknologi otomatisasi dengan teknologi internet dan berbasisi digitalisasi teknologi,” jelas Coco Kokarkin.

 

Permudah Pembudidaya

 

Ia juga menjelaskan,  era digitalisasi ini harus dijadikan peluang sebagai upaya menciptakan efesiensi tata kelola dan sistem produksi akuakultur. Setidaknya ada beberapa peluang yang bisa ditangkap di era digitalisasi ini untuk pengembangan akuakultur.

 

Diantara peluang itu, lanjut Coco, perbaikan tata kelola sistem perijinan di bidang akuakultur. KKP telah menginisiasi reformasi perijinan dan rekomendasi ijin dari konvensional kearah yang berbasis online (paper-less). Aplikasi kegiatan usaha akuakultur (AKUBISA), diharapkan akan memutus mata rantai system perijinan menjadi lebih efisien, tepat waktu, transsparan dan lebih bertanggunjawab.

 

“Melalui system digital, interaksi produsen dengan buyer dapat dilakukan dengan akses lebih cepat, dan memungkinkan akses informasi supply-chain produk akuakultur lebih mudah. Sistem ini akan memutus mata rantai pasar yang terlalu panjang,” jelas Coco Kokarkin.

 

Coco juga mengatakan,  tersedianya database terkait input produksi seperti pakan dan benih menjadi penting. Melalui penerapan sistem informasi logistic di bidang akuakultur, akan memudahkan pelaku usaha dalam mendapatkan akses informasi secara cepat dan efisien.

 

“Pastinya, sistem digitaliasi akan menciptakan efisiensi produksi akuakultur, dimana operasional produksi budidaya dapat lebih mudah, terukur dan efisien. Saat ini perkembangan penerapan teknologi ini telah mulai memasyarakat seperti penggunaan mesin automatic feeder, automatic oxygen supplier dan lainnya,” papar Coco.

 

Menurut Coco, penyediaan data base pelaku usaha akuakultur saat ini sudah diintegrasikan dengan sistem database lainnya secara online. KKP telah menerbitkan kartu KUSUKA yang penerbitannya menggunakan system aplikasi online dan telah diintegrasikan dengan aplikasi satu data kelautan dan perikanan, aplikasi ketelusuran system jaminan mutu dan keamanan pangan (CPIB, CBIB, CPPIB) dan aplikasi satu kode digitalisasi pelaku industry oleh BPS yang memungkinkan untuk dapat diakses oleh sector terkait.

 

“Nah, kehadiran para anak-anak muda kreatif sebagai Start-up di bidang teknologi digital saat ini memiliki peran strategis dalam menghadirkan model bisnis akuakultur yang efisien di tengah-tengah masyarakat. Penyediaan plafform investasi seperti yang ditawarkan Growpal dan Crowde, diharapkan akan menarik lebih banyak investasi di bidang akuakultur.  Begitupula dengan kehadiran Minapoli, diharapkan akan menjadi jembatan dalam menghubungkan pembudidaya dengan pasar,” kata Coco. (idt)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162