Loading...

Optimalisasi Alsintan Mampu Genjot Produksi Padi

17:02 WIB | Tuesday, 15-May-2018 | Sarana & Prasarana | Penulis : Gesha

Pemerintah terus aktif mendorong optimalisasi pemanfaatan alsintan untuk bisa meningkatkan produksi padi dan pendapatan petani. Kabupaten Purbalingga adalah satu diantara sentra produksi padi yang dinilai sudah berhasil mengoptimalkan pemanfaatan alsintan.

 

Ada pemandangan berbeda saat dilakukan pencanangan Gerakan Percepatan Tanam di Kecamatan Bukateja, Kab Purbalingga beberapa waktu lalu. Tak kurang Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Anggota Komisi IV DPR RI, Darori Wonodipuro dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia, Momon Rusmono ikut memantau langsung bagaimana petani mengolah lahan menggunakan beragam mesin pertanian.

 

Petani tampak sudah familiar dengan traktor roda empat dan roda 2, mereka juga mahir bermanuver dengan rice transplantter untuk bertanam padi di lahan seluas 221 ha tersebut.

 

Menteri Pertanian menyatakan mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang telah mengoptimalisasi pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) bantuan pemerintah.

 

"Purbalingga ini luar biasa. Kami berterima kasih kepada Pak Dandim, Pak Danrem, Ibu Kepala Dinas (Dinas Pertanian) dan seluruh pihak terkait. Optimalisasi alsintan dalam mengolah lahan sawah di Desa Kembangan merupakan contoh yang sangat bagus." katanya.

 

Pemanfaatan alsintan lebih menguntungkan karena dapat menghemat waktu pengolahan tanah, menekan biaya produksi dan masa tanamnya bisa lebih cepat, sehingga dalam satu tahun bisa dua atau tiga kali tanam.

 

Perhitungan Kementan, dengan total bantuan traktor yang telah mencapai 250 – 300 unit, maka lahan yang bisa diolah mencapai 50.000 ha per hari atau 1,5 juta ha sebulan. Artinya kebutuhan untuk menanam padi, jagung, dan lainnya sudah lebih dari cukup.

 

“Adanya mekanisasi juga kita bisa bertani tepat waktu. Jangan berikan kesempatan lahan tidur, petani tidur. Purbalingga harus terbebas dari kemiskinan. Tanah subur di sini. Enggak boleh ada yang miskin," tegas Amran.

 

Kurang lebih ada sekitar 754 alsintan beragam jenis yang telah digelontorkan Kementan kepada Pemkab Purbalingga dan semua sudah dioptimalkan untuk mengejar target luas tanam 44 ribu ha.

 

“Ada 3 traktor yang kita jalankan bersama dan dalam waktu 5 jam bisa mengolah 5 ha. Kalau roda empatnya ada 6 traktor sehingga dalam satu hari (8 jam) bisa 10 ha,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kab Purbalingga, Lily Purwanti.

 

Lily menegaskan, pihaknya selalu berupaya agar alsintan yang sudah ada, tidak mangkrak, tidak terpakai sepanjang tahun. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan hasil panen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 148.519 ton beras. Di tahun 2017, Kabupaten Purbalingga mampu surplus 40 persen dan tertinggi sejak tahun 2014.

 

Oleh sebab itu, luas tanam dan produktivitas ditingkatkan dengan mendatangkan lebih banyak traktor roda empat. Satu kelompok tani dengan luas lahan 25 ha hanya membutuhkan waktu 20 jam mengolah tanah menggunakan 3 unit traktor.

 

Lily juga yakin jika semua petani memaksimalkan penggunaan alsintan, maka penggarapan lahan bisa dipercepat dan menghemat biaya produksi hingga 30%. Diperkirakan, untuk menggarap lahan satu ha menggunakan traktor roda empat hanya menghabiskan dana sekitar Rp1 juta.

 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia yang juga menjadi Penanggung Jawab Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan, Momon Rusmono menuturkan, Kabupaten Purbalingga menjadi satu diantara kabupaten sentra produksi padi yang telah berhasil mengoptimalkan lahan dengan menggunakan alsintan yang ada dan bisa ditiru oleh Kabupaten lainnya di Indonesia.

 

Brigade Alsintan

 

Dinas Pertanian Purbalingga dan Kodim 0702/Purbalingga sejauh ini telah bersinergi mengawal dan memaksimalkan alsintan yang diberikan Kementan dengan membentuk Brigade Alsintan dan memperbanyak UPJA.

 

Brigade Alsintan dikelola oleh Dinas Pertanian dengan Korem/Kodim/UPJA. "Brigade Alsintan ini bisa mengoptimalkan mesin, mempermudah kontrol penggunaan mesin dan perbaikan, biaya murah dan hasilnya bisa 3 kali lipat," urai Amran Sulaiman.

 

Amran menilai pentingnya dibentuk Brigade Alsintan dibandingkan hanya Poktan sebagai pengelola yang kadang kepemilikan alsintan hanya untuk pribadi atau kelompoknya sehingga setelah selesai mengolah tanah, traktor disimpan begitu saja. "Ini gak boleh. Kita bentuk Brigade Alsintan seluruh Indonesia untuk bisa memanfaatkan alsintan secara optimal," tukasnya.

 

Brigade akan memonitor jika ada alsintan yang tidak optimal maka alat dipindah ke kelompok tani tetangganya. Cara melihatnya, traktor roda 4 diminta untuk kerja 2 ha per hari, hand traktor 0,2 ha per hari.

 

Hal ini yang harus dipenuhi petani dari penggunaan alsintan. "Kami ingin alat dan mesin pertanian betul-betul optimal. Karena ada yang terjadi setelah selesai pengolahan disimpan. Sehingga traktor optimal, lahan, dan petani optimal," tuturnya.

 

Komandan Distrik Militer (Dandim) 0702/Purbalingga, Letkol Inf. Andi Bagus menuturkan pihaknya sebagai bagian dari Brigade Alsintan untuk pertanian senantiasa mempermudah petani meminjam alsintan yang diberikan negara.

 

Petani tinggal berkoordinasi dengan Babinsa dan membuat surat permohonan yang berisi peminjaman Alsintan kepada Komandan Kodim 0702 Purbalingga melalui Gapoktan. Mekanisme peminjaman tersebut untuk memperjelas siapa yang bertanggung jawab atas peminjaman.

 

Terkait biaya sewa, Dandim menjelaskan, petani hanya cukup mengganti biaya bahan bakar transportasi penempatan saja. Anggota Kodim juga siap membantu petani mengoperasikan Alsintan tersebut. “Petani hanya mengganti bahan bakar. Untuk pengoperasian Alsintan anggota siap membantu,” tuturnya.

 

Petani bisa menebus solar bersubsidi di SPBU terdekat menggunakan surat rekomendasi dari Dinas Pertanian. Kepala Dinas Pertanian Kab Purbalingga, Lily Purwanti menuturkan perlu adanya surat rekomendasi dari Dinas untuk menegaskan bahwa solar bersubsidi tersebut memang dipergunakan untuk pengoperasian alsintan.

 

Lily menambahkan, untuk mendapatkan surat rekomendasi ini, petani memang diminta datang ke kantor Dinas Pertanian di Kabupaten, namun yang menandatangani tidak harus Kadis. "Kita sudah delegasikan kepada Kepala Bidang sehingga bisa setiap saat diambil saat petani membutuhkan," tukasnya.

 

Di dalam surat rekomendasi tersebut tertera kebutuhan solar seharian untuk dipergunakan alsintan. Pemberlakuan 1 bulan surat rekomendasi tersebut karena mengacu pada lamanya pengolahan tanah dengan menggunakan alsintan. "Surat rekomendasi itu berlaku satu bulan sehingga setelahnya bisa diperbaharui lagi. Setelah 1 bulan kan tanah sudah langsung ditanam," tutupnya. Ggs/Ira/Ditjen PSP)

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162