Loading...

Optimalisasi Peran Petani Air

16:55 WIB | Monday, 25-January-2016 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

Sebagian besar, produksi beras nasional berasal dari daerah sawah beririgasi. Karena itu sawah irigasi merupakan faktor utama pencapaian ketahanan pangan nasional.

 

Agar produksi beras di lahan beririgasi maksimal, jaringan irigasi harus dikelola dengan baik. Untuk mewujudkan sistem pengembangan dan pengelolaan air irigasi yang baik dan berkelanjutan, tidak hanya sebatas perbaikan irigasi, melainkan diperlukan kelembagaan petani yang kuat, mandiri dan berdaya saing.

 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sumarjo Gatot Irianto mengatakan, dalam peraturan, dinas yang menangani tanaman pangan bertanggungjawab dalam melakukan pembinaan dan pemberdayaan Petani Pengguna Air (P3A) dan Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A).

 

Pasalnya, tata kelola penggunaan air di pertanian belum berjalan secara maksimal, sehingga peran P3A dan GP3A harus lebih ditingkatkan kembali. “Inipun mengacu di dalam Pementan No.79/2012 mengenai pembinaan dan pemberdayaan P3A dan GP3A,” katanya.

 

Menurut Gatot, dengan memaksimalkan peran P3A dan GP3A, tata kelola pengairan di pertanian dapat berjalan dengan baik. Lembaga tersebut bertindak sebagai motor penggerak dalam mengelola irigasi secara baik dan efisien, sehingga mampu menghasilkan produksi beras secara optimal.

 

“Mereka tidak hanya sebatas memaksimalkan penggunaan irigasi saja, melainkan air permukaan, embung, parit dan air tanah akan dikelola sebagaimana mestinya,” ujarnya.

 

Gatot kembali menjelaskan, pembinaan dan pemberdayaan P3A yang tercantum di dalam Permentan No. 79/2012 berisikan pembinaan dan pemberdayaan kelembagaan P3A. Fokusnya kepada pemberdayaan organisasi/lembaga dan sumberdaya manusianya sebagai penyelenggara irigasi partisipatif.

 

Dengan mengembangkan sumberdaya manusia yang berkualitas agar dapat membangun keterpaduan sistem antara pengelolaan jaringan irigasi dan agribisnis pangan. “Dengan peran mereka tidak ada lagi yang namanya puso akibat kekeringan atau kebanjiran karena mereka mengelola air tidak semena-mena. Sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman,” katanya.

 

P3A Sejahtera

 

Salah satu contoh yang berhasil mengoptimalisasi pemanfaatan air adalah Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Sejahtera, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Dengan luas lahan sawah seluas 44.958,80 ha, P3A Sejahtera mampu memberikan kontribusi produksi hingga 20% untuk pengadaan stok pangan di Sulawesi Selatan.

 

Lokasi P3A Sejahtera merupakan daerah irigasi Sadang yang mengairi sawah seluas 83 ribu ha. Dengan adanya irigasi, P3A Sejahtera memaksimalkan penggunaan air untuk pertanian dengan memanfaatkan DAM yang sudah ada sejak dahulu.

 

Operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi, meliputi pendistribusian air ke setiap anggota dengan petugas pengairan (PPA), pengaturan bergilir pada musim kemarau, pembersihan saluran tersier 2 kali setiap musim tanam, perbaikan irigasi yang rusak, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan pemeliharaan saluran primer dan sekunder.

 

Dengan cara tersebut, air dapat digunakan seefisien mungkin sebelum sampai di saluran pembuangan. Selain itu, memudahkan saat panen dan penggunaan sarana lebih efisien. Dengan demikian, petani dapat melaksanakan kegiatan usaha tani dengan maksimal.

 

Makanya tak heran kegiatan usaha tani di wilayah itu tergolong maju. Ada Unit Pengolahan Pupuk Organik, Koperasi Sejahtera, jasa alsintan (traktor, mesin tanam dan masih banyak lainnya), penangkaran benih, mina padi, integrasi padi-sapi dan kios saprodi. Selain itu, P3A Sejahtera juga menerapkan pertanian terpadu yang ramah lingkungan dan keamanan pangannya terjaga. Ini dituangkan dalam penerapan teknologi System Rice of Intensification (SRI).

 

Paket teknologi SRI yang digunakan adalah penggunaan pupuk kompos (1-2 ton per ha), penggunaan varietas unggul, tanam benih muda, sistem penanaman jajar legowo (jarwo) 2:1, dan pengairan berselang (sesuai kebutuhan tanaman padi).

 

Penerapan SRI mampu mengurangi penggunaan air pada daerah irigasi Sadang. Dampaknya terhadap suplai air pada daerah hilir, meningkatkan produksi hingga 20%, hemat (hemat air, benih), dan tanah menjadi lebih subur karena adanya pengembalian bahan organik tanah.

 

Sistem pengaturan air yang baik, tentu membuka kesempatan penerapan mekanisme pertanian modern. Penggunan alat dan mesin pertanian (alsintan) modern dapat menjangkau ke semua areal. Menekan biaya produksi, mengurangi kehilangan hasil, mempercepat masa panen (peningkatan IP), meningkatkan produksi padi dan solusi terhadap terbatasnya tenaga kerja. Cla/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162