Loading...

Padat Karya atau Kontraktual

09:18 WIB | Friday, 10-February-2017 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

Setidaknya ada dua mekanisme pengembangan sumber air yakni padat karya dan kontraktual. Untuk lokasi atau wilayahnya juga tidak sembarangan, harus ada kriteria agar pengembangan sumber air benar-benar bermanfaat bagi petani.

 

Kepala Sub Bidang Mitigasi Iklim dan Konservasi Air, Direktorat Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Rahmanto mengatakan, untuk kegiatan padat karya akan melibatkan masyarakat atau petani sekitar, karena mereka yang mengetahui kebutuhannya. Masyarakat nantinya membangun dan mengawasi kegiatannya secara langsung.

 

“Sedangkan kontraktual, dinas yang menentukan. Jadi masyarakat tidak turut campur. Kalau padat karya dari dana desa, sedangkan kontraktual yang dari DAK,” katanya.

 

Untuk wilayah yang menjadi sumber airnya dapat dikembangkan, menurut Rahmanto, tidak sembarangan. Ada kriterianya bahwa daerah tersebut layak untuk pengembangan sumber air. Berpotensi dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), dapat meningkatkan produktivitas, adanya sumber air dan adanya lahan pertanian yang diusahakan.

 

Rahmanto mengatakan, pembuatan embung, long storage, dan dam parit biasanya memerlukan waktu paling lama 2 bulan, tergantung cuaca. Jika hujan, pengerjaan berhenti sehingga akan menghambat. “Makanya pembuatannya sebaiknya dilakukan pada saat musim kemarau,” sarannya.

 

Kriteria lokasi untuk pembuatan embung adalah daerah cekungan atau dapat melakukan penggalian tanah, tidak dibangun pada daerah berpasir, dekat dengan lahan usaha tani dan bukan lahan sengketa. Untuk long storage, diupayakan pada saluran drainase alami, dekat dengan lahan usaha tani dan pemanfaatannya dapat menggunakan pompa atau alat lainnya, dan bukan lahan sengketa.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162