Loading...

Pakan Naik, Pelihara Ayam KUB

06:50 WIB | Friday, 13-September-2013 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ternyata berimbas pada naiknya harga pakan ternak. Kondisi ini membuat kalangan peternak unggas meradang. Jika peternak tidak mampu menyiasati, maka ancaman gulung tikar ada di depan mata.

 

Seperti diketahui, sebagian bahan baku pakan ternak seperti: jagung, meat bone meal dan bungkil kedelai selama ini masih harus disuplai dari luar negeri. Karena itu melemahnya nilai tukar rupiah langsung mengerek harga bahan baku pakan tersebut. 

Kenaikan harga pakan memang menjadi momok tersendiri bagi peternak ayam, khususnya ayam ras. Di satu sisi saat harga pakan naik, peternak harus mengeluarkan ongkos produksi yang lebih besar. Tapi di sisi lain, peternak tidak bisa menjual ayam yang dihasilkan dengan harga yang lebih tinggi.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro mengaku prihatin dengan lonjakan harga pakan. Karena itu persoalan tingginya impor bahan baku pakan harus menjadi perhatian semua pihak yang berkecimpung dalam dunia perunggasan.

Saat ini menurut Syukur, hampir 80-85 persen bahan baku pakan berasal dari impor. Bahkan setiap hari pihaknya harus menandatangani rekomendasi impor 142 jenis bahan baku. “Itu sudah bisa menjelaskan betapa besarnya ketergantungan produsen pakan terhadap bahan baku impor. Dengan demikian, saat terjadi gejolak rupiah bisa berdampak pada kenaikan harga pakan,” katanya.

Syukur mengemukakan menjadi tantangan bagi segenap stakeholder perunggasan untuk secara bertahap bisa mandiri dalam penyediaan pakan. Apalagi pakan merupakan sarana produksi yang menentukan mati hidupnya kegiatan usaha perunggasan dalam negeri. 

Bisnis perunggasan harus diamankan mengingat hampir 3 juta kepala rumah tangga atau sekitar 12 juta jiwa tergantung pada usaha peternakan. Belum lagi mereka yang tercakup di usaha-usaha pendukungnya seperti: usaha transportasi, perdagangan dan usaha peralatan pendukung.

Ia berharap kalangan perguruan tinggi seperti IPB juga mendukung upaya mencapai kemandirian pakan dengan melakukan riset bahan-bahan baku alternatif yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan baku impor. “Harus diingat bahwa kalau kita bicara pakan unggas, bukan hanya bicara ayam ras tapi juga ada jenis lain seperti itik dan puyuh yang harus diperhatikan,” jelasnya. 

 

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 0813175

 

 

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162