Loading...

Panen di Mana-mana, Tak Perlu Lagi Impor

12:27 WIB | Monday, 05-October-2015 | Nasional | Penulis : Kontributor

Polemik impor beras mencuat dalam beberapa pekan terakhir. Pangkalnya wacana impor bahan pangan pokok ini karena Perum Bulog sulit melakukan penyerapan gabah dan beras. Terlebih lagi kondisi iklim yang kurang bersahabat untuk usaha tani padi, karena kemarau berlangsung cukup lama.

 

Wacana impor sempat terlontar dari Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Ancer-ancer impor beras sebanyak 1,5 juta ton. Alasannya, dikuatirkan stok cadangan beras pemerintah makin menyusut menyusul dampak El Nino.

 

Saat ini stok beras yang berada di gudang Bulog masih kurang. Stok beras untuk masyarakat miskin (raskin) kurang lebih 1,5 juta hingga akhir tahun. Sementara itu, stok makanan untuk seluruh penduduk Indonesia diperkirakan 2,5 hingga 3 juta ton/bulan.

 

Namun jika melihat perkembangan produksi padi nasional, ternyata Indonesia belum perlu untuk impor beras. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan angka ramalan (ARAM) I, produksi padi diperkirakan sebesar 75,55 juta ton GKG, meningkat 4,71 juta ton GKG atau 6,64% dibandingkan tahun 2014.

 

Bahkan Presiden RI, Joko Widodo juga menegaskan bahwa tahun ini tidak ada impor beras dan belum memutuskan untuk mengeluarkan kebijakan terkait impor beras, meski banyak pihak yang mendesak agar pemerintah segera mengeluarkan kebijakan tersebut. “Ini masih jalan perhitungan dampak El-Nino. Masih dalam perhitungan semuanya. Kita harus punya cadangan yang betul-betul aman untuk semuanya. Yang jelas stok beras saat ini di Bulog aman yakni 1,7 juta ton dan ditambah lagi produksi sampai November dan Desember  2015 sekitar 200 hingga 300 ribu ton,” kata Jokowi saat panen raya padi varietas IPB 3S di Desa Cikarang, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, beberapa waktu lalu.

 

Jokowi pun menegaskan, jika pemerintah mengimpor beras, maka masyarakat pasti akan menolak dengan tegas. Pasalnya, impor beras dikhawatirkan dapat memukul harga beras lokal dan merugikan petani. Apalagi tanpa perhitungan matang. “Karena itu, produksi dan stok beras nasional harus benar-benar dipastikan dengan data akurat,” ujar Jokowi.

 

Jokowi juga mendukung upaya Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi pangan, khususnya beras. Termasuk penggunaan varietas unggul, seperti hasil penelitian IPB yakni varietas IPB 3S.

 

Dari hasil uji coba,  produktivitas ubinan varietas tersebut mencapai 13,4 ton/ha gabah kering panen (GKP) atau setara 9,4 ton/ha gabah kering giling (GKG). “Kalau semuanya berpikir peningkatan produksi, maka lonjakan produksi padi akan besar,” kata Jokowi.

 

Panen di Mana-mana

 

Sementara itu Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman juga menegaskan, bahwa impor beras belum diperlukan. Di atas kertas masih ada panen sebanyak 15 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 9 juta ton beras di 6 provinsi penghasil utama beras.

 

Keenam daerah tersebut yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan (Sumatera Utara), Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan masih ada panen. “Enam daerah tersebut diperkirakan panen sampai Desember  yang akan menghasilkan 15 juta ton (GKG),” kata Amran saat mendamping Presiden Jokowi panen padi di Karawang.

 

Amran mengatakan, pihaknya telah berupaya keras meningkatkan produksi beras secara signifikan. Buktinya, sampai hari ini di usia pemerintahan genap satu tahun, kebutuhan beras nasional masih terpenuhi tanpa adanya impor. Padahal, ancaman El Nino sekarang lebih dahsyat dibanding  tahun 1998. Jumlah penduduk juga jauh lebih banyak dibanding tahun 1998.

 

Saat El-Nino tahun 1998, bangsa Indonesia mengimpor beras sebanyak 7,71 juta ton, padahal jumlah penduduknya jauh lebih sedikit dibanding sekarang. Tapi sampai hari ini kata Amran, Indonesia belum ada impor. “Upaya keras kita menunjukkan hasil yang signifikan,” ujarnya.

 

Bukan hanya di Karawang, panen padi di tengah ancaman kemarau panjang akibat El-Nino, juga terjadi di beberapa wilayah di  Jawa Timur, seperti Blitar dan Tuban.  Dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian di sejumlah daerah, meski dilanda musim kemarau parah, ternyata tidak terpengaruh terhadap kegiatan panen dan tanam.

 

“Ini buktinya kita lakukan panen dan panen,” kata Amran di sela-sela panen padi di Blitar. Bahkan di Blitar, dalam setahun bisa tiga kali tanam, sehingga ada atau tidak ada El-Nino tidak mempengaruhi kegiatan petani.

 

Panen padi tersebut merupakan upaya nyata yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk memastikan secara langsung bahwa di tengah musim kemarau panjang akibat dampak El-Nino, masih banyak aktivitas panen padi di sejumlah daerah sentra produksi pangan. Dengan demikian dapat dipastikan produksi gabah melimpah dan stok beras nasional sampai akhir tahun 2015 aman.

 

“Dampak El-Nino tidak begitu terasa di daerah utara khatulistiwa seperti Kalimantan dan Sumatera. Namun, untuk daerah selatan khatulistiwa memang akan terasa terkena dampaknya,” ujarnya.

 

Seperti diketahui kejadian El-Nino moderat yang diprediksi masih menguat sampai Nopember 2015 akan berdampak pada kekeringan dan puso pada pertanaman padi di beberapa wilayah.  Namun demikian melalui upaya penanggulangan kekeringan akibat El-Nino yang didukung dengan terobosan kebijakan justru memberikan dampak positif terhadap pengurangan areal pangan terkena kekeringan dan puso. 

 

Selama ini sering disalahtafsirkan seolah-olah El-Nino yang berdampak kekeringan berkepanjangan ini akan mempengaruhi luas panen yang mencapai 14,1 juta ha.  Anggapan tersebut keliru. Faktanya adalah dari total luas panen padi 14,1 juta ha tersebut, seluas 78,4% telah berproduksi sebanyak 58,64 juta ton GKG pada periode Januari-Agustus 2015. Areal yang terdampak langsung El-Nino hanya seluas 1,80 juta ha, terutama terjadi pada periode September-Oktober. 

 

Upaya penanggulangan kekeringan, Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai cara untuk meningkatkan ketersediaan air. Pertama,   rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang sampai kini telah mencapai 1,5 juta ha. Kedua, pengembangan sumber-sumber air yang meliputi pembangunan 1.000 unit embung/dam parit, pembangunan long storage, pembangunan 1.000 unit sumur air tanah dangkal. Ketiga, bantuan pompa air yang telah terealisasi sebanyak 21.953 unit. 

 

Dampak upaya penanggulangan kekeringan tersebut adalah terjadinya pengurangan luas pertanaman padi yang mengalami puso. Jika dibandingkan periode Oktober 2013-Agustus 2014 dan periode yang sama 2014/2015, pertanaman padi yang dapat diselamatkan dari puso seluas 114.710. Ini kerja nyata dan konkrit Kementerian Pertanian. Biro Hukum dan Humas Sekjen Kementerian Pertanian

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162