Loading...

Pasca Erupsi Kelud, Buruh Tani Kehilangan Job

18:51 WIB | Friday, 02-May-2014 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Ika Rahayu

Kalangan buruh tani merasa sangat terpukul atas kejadian meletusnya Gunung Kelud, Februari lalu. Bencana alam tersebut membuat mereka hingga saat ini kesulitan mendapatkan pekerjaan menggarap sawah yang bisa mendatangkan penghasilan untuk membiayai kehidupan pribadi dan keluarga.

 

“Sawah yang biasa saya garap sampai saat ini masih tertutup pasir tebal. Ini saya sudah berjalan jauh tapi tidak juga dapat pekerjaan,” kata Sarpini, seorang buruh tani, saat bertemu Sinar Tani yang belum lama ini menyambangi areal persawahan yang tertutup pasir Kelud di Dusun Pait, Desa Pandan Sari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jatim.

 

Dijumpai tengah bersama rekannya sesama buruh tani, wanita 55 tahun asal Dusun Munjung, Desa Pandan Sari ini mengaku sudah berjalan berkilo-kilo meter untuk bisa mendapatkan “job”, apakah menjadi tenaga penggarap sawah atau pemelihara tanaman pangan/hortikultura.

 

Bukannya pekerjaan yang didapat, tetapi justru keluhan dari petani pemilik lahan. “Para petani yang mulai menanami lahannya malah mengeluh katanya sekarang banyak hama ayam hutan dan tikus,” jelasnya.

 

Dua bulan setelah erupsi, umumnya petani di Dusun Pait merasakan semakin tingginya gangguan hama kedua jenis hewan tersebut. Petani yang telah membersihkan lahannya dari tumpukan pasir ada yang mencoba menanam jagung tetapi pertumbuhan tanaman jagungnya tak sebaik sebelum erupsi. “Begitu daunnya agak melebar kebanyakan langsung menguning dan pertumbuhan tanaman juga tidak bagus,” kata Sarpini.

 

Sarpini yang sudah berprofesi sebagai buruh tani selama 15 tahun, merasakan bencana erupsi Kelud kali ini benar-benar membuat dirinya kesulitan mendapatkan penghasilan. Sebelum erupsi, dari pekerjaan menanam padi ia bisa mendapatkan upah Rp 40 ribu per hari atau Rp 20 ribu jika bekerja setengah hari.

 

“Untuk belanja sehari-hari sekarang ini saya lebih mengandalkan pada pemberian dari anak karena suami saya sudah lama sakit sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah,” tuturnya sambil menjelaskan bahwa dari lima anaknya, ada dua orang yang sudah bekerja sebagai kuli bangunan dan penjaga toko.

 

Ulah Penambang Liar

 

Berbeda dengan buruh tani yang mengeluhkan kurangnya order pekerjaan menggarap sawah, pemilik lahan sawah di Desa Pandan Sari kini banyak mengeluhkan ulah para penambang liar yang seenaknya menggali pasir di lahan milik petani.

 

“Sawah kami yang umumnya memang masih ditutupi pasir tebal mereka keruk semaunya. Sulit saya untuk menegur karena mereka jumlahnya banyak,” kata Jumar, petani asal Desa Pandan Sari, daerah yang tergolong terparah terdampak erupsi Kelud.

 

Ketua Kelompok Tani Pandan Arum 4 itu memang tidak sekedar bicara, karena Sinar Tani menyaksikan sendiri begitu banyaknya truk-truk pengangkut pasir keluar masuk wilayah persawahan yang kini porak poranda berubah menjadi lautan pasir. “Pasirnya sangat tebal bahkan ada yang sampai satu meter. Kalau hanya mengandalkan hand traktor yang biasa kami gunakan akan sangat lama bisa menghilangkan tumpukan pasir di sawah kami,” tandasnya.

 

Terkait dengan kian banyaknya penambang pasir di sekitar lahan sawahnya, Jumar menyatakan sudah secara resmi melapor kepada Kepala Desa dan Kapolsek tetapi sejauh ini kelihatannya belum ada tindak lanjutnya, karena para penambang liar masih saja beraktivitas mengeruk pasir di daerah yang awalnya adalah berupa sawah. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162