Loading...

Pasokan Aman, Harga Cabai-Bawang pun Stabil

14:33 WIB | Wednesday, 01-November-2017 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian memastikan pasokan dan harga komoditas pangan, khususnya cabai dan bawang merah relatif terjaga. Dengan menjamin pasokan dan harga, pemerintah berharap daya beli masyarakat juga terjaga.

 

Berdasarkan data berbagai sentra di sejumlah daerah, harga cabai dan bawang merah masih stabil dan cenderung menurun dibanding pekan lalu,” kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Spudnik Sujono, di Jakarta, beberapa saat lalu.

 

Data Ditjen Hortikultura, harga cabai merah keriting di tingkat petani pada 31 Oktober, tertinggi terjadi di Agam Rp 30 ribu/kg dan terendah di Maros Rp 9 ribu/kg. Sedangkan di Jakarta Rp 20 ribu/kg. Sementara harga cabai rawit merah terendah di Jeneponto dan Lombok Timur Rp 7 ribu/kg, tertinggi di Kepulauan Yapen Rp 55 ribu/kg dan di Jakarta Rp 13 ribu/kg.

 

Lalu, harga tertinggi cabai rawit hijau di Simalungun dan Tapanuli Selatan Rp 25 ribu/kg, terendah Ciamis Rp 9 ribu/kg dan Jakarta Rp 11 ribu/kg. Kemudian, harga cabai rawit merah besar terendah di Maros Rp 8 ribu/kg, tertinggi Simalungun Rp 33 ribu/kg, dan Jakarta Rp 17 ribu/kg.

 

Selanjutnya, harga terendah cabai merah besar di tingkat petani terjadi di Jeneponto Rp 4.500/kg, tertinggi di Kupang Rp 40 ribu/kg dan Jakarta Rp17 ribu/kg. Adapun harga bawang merah Rp 19 ribu/kg. “Jadi, tidak ada gejolak. Pasokan dari daerah juga aman,” katanya.

 

Spudnik menegaskan, pihaknya selalu berupaya menjaga stabilitas harga dan stok pangan untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Beragam cara dilakukan untuk mewujudkan target tersebut, tanpa mengabaikan kesejahteraan petani.

 

Misalnya, mendorong petani tak melakukan tanam cabai dan bawang merah pada satu waktu bersamaan, menciptakan sentra-sentra produksi baru, membangun infrastruktur, memberikan bantuan berupa pupuk dan benih hingga alat dan mesin pertanian (alsintan). serta sarana prasarana (sapras) pendukung. “Kami juga mendorong lahirnya champion (petani berprestasi) untuk membantu merealisasikan kegiatan-kegiatan pemerintah di lapangan,” katanya.

 

Kementan, sambung Spudnik, juga mendorong hilirasi pertanian di desa-desa melalui mekanisasi. Sehingga, petani mendapatkan langsung nilai tambah (add value) dari hasil panennya yang telah diolah. “Kami juga memfasilitasi pelaku industri dengan petani, agar hasil panen dapat langsung terserap dan terjual dengan harga layak, tidak merugikan petani,” katanya. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162