Loading...

Pedasnya Harga Cabai bagi Petani

15:30 WIB | Monday, 11-August-2014 | Nasional | Penulis : Nuraini Ekasari sinaga

Kado pahit menjelang Lebaran harus diterima petani cabai. Bagaimana tidak, jika sebagian masyarakat merima Tunjangan Hari Raya (THR) yang menyenangkan, justru petani cabai terpaksa menerima ‘THR’ yang menyedihkan yakni anjloknya harga cabai. Harga cabai menjadi sangat pedas bagi petani.

 

Hal tersebut terungkap dalam kunjungan Menteri Pertanian, Suswono di sentra produksi cabai di Kabupaten Cianjur. “Harga jual cabai keriting merah terlampau  murah di petani,” keluh anggota Gapoktan Multi Tani Jayagiri, Sudrajat. Padahal seharusnya petani mendapat harga yang pantas. Apalagi saat puasa dan mendekati Hari Raya Idul Fitri biasanya harga-harga kebutuhan pokok naik.

 

Harga cabai rawit merah di petani hanya sekitar Rp 3.000/kg. Harga tersebut jauh dari tingkat pedagang pasar yang mencapai Rp 10 ribu/kg. Karena itu Sudrajat meminta pemerintah mencari jalan keluar agar petani tidak dirugikan. Sebab, untuk ongkos produksi cabai, petani harus merogoh kocek sebesar Rp 6.000/kg. Padahal harga yang pantas untuk petani seharusnya sekitar Rp 10 ribu/kg.

 

Suswono mengatakan, anjloknya harga cabai di petani karena kelebihan produksi. Karena itu pemerintah akan mengusahakan agar daerah sentra cabai dibantu alat pengolahan. “Jika terjadi kelebihan produksi, cabai tersebut diolah untuk menjadi cabai kering dan dipasarkan menjadi cabai yang siap saji,” katanya.

 

Selain itu, Suswono mengatakan akan mengupayakan kerjasama antara petani cabai dengan sejumlah perusahaan produsen yang menggunakan cabai sebagai bahan bakunya. Dengan begitu, stok cabai yang berlebih dapat dimanfaatkan tanpa harus terbuang.

 

Dengan kerjasama itu, kata dia, harus ada kesepakatan kontrak antara petani dan perusahaan terkait harga yang pasti dan tidak fluktuatif.  “Kami terus berpikir, kalau bisa mereka itu kontrak dengan industri seperti dengan Indofood ataupun ABC. Saya kira ini akan efektif menyerap produksi petani berlebih dengan harga yang stabil,” katanya.

 

Namun kedua pihak menurut Suswono harus sama-sama disiplin. Misalnya, saat harga bagus di pasar, jangan sampai petani tidak menyuplai ke industri. Sebaliknya, saat harga jatuh, industri pun wajib membeli kepada petani sesuai harga kontrak, bukan malah membeli di pasar karena harganya sedang murah.

 

Pada kesempatan tersebut, Suswono juga berkunjung ke Pasar Cipanas untuk mengecek stabilitas harga bahan pokok.  Dalam kunjungan tersebut Suswono menemukan beberapa permasalahan. Misalnya, harga cabai di pasaran berkisar Rp 8 ribu – 9 ribu/kg, padahal di tingkat petani harganya hanya Rp 3 ribu/kg.

 

“Kami memang ingin datang langsung ke sentra holtikultura seperti cabai ini dan kami menyaksikan sendiri petani harganya di tingkat cabai keriting merah ini Rp 3 ribu. Tentu petani ini rugi sementara di pasar Rp 8-9 ribu. Itu baru pasar terdekat dan tentu hanya pedagang yang untung,” kata Suswono.

 

Dalam kunjungan tersebut, Suswono menemukan gula rafinasi beredar di pedagang di pasar. Seharusnya gula rafinasi itu tidak dijual bebas di pasar karena hanya untuk keperluan industri. “Ini juga yang dikeluhkan para petani tebu karena menekan harganya (gula pasir lokal. Red) menjadi lebih murah dan komitmennya gula rafinasi itu untuk penggunaan industri bukan ke pasar,” katanya. Echa

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162