Loading...

Pendekatan Baru Mengatasi Salinisasi Tanah

17:14 WIB | Monday, 25-May-2015 | Teknologi, Iptek | Penulis : Kontributor

Salinisasi tanah menyebabkan areal irigasi di bumi berkurang 1-2% per tahun.  Salinisasi  menekan pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil  yang berakibat  pendapatan petani berkurang. Sejumlah petani bahkan terpaksa meninggalkan  tanah mereka karena tidak lagi layak diusahakan.

 

Gambaran demikian dikemukakan dalam artikel di satu edisi  majalah Caravan yang diterbitkan Pusat Internasional Riset Pertanian di Lahan Kering (ICARDA). Kegagalan mengatasi  salinisasi  secara efektif dipandang sebagai hambatan kritis terhadap ketahanan pangan nasional maupun regional.  Salinisasi sebagai peningkatan kadar garam-garam dalam tanah merupakan masalah kronis yang mempengaruhi kehidupan jutaan petani yang memproduksi pangan di lahan-lahan kering beririgasi dunia. 

 

Diakui adanya berbagai usaha menanggulangi  proses salinisasi dan dampak negatifnya. Namun upaya itu ada yang justru menimbulkan kerumitan bagi para perencana dan pembuat kebijakan. Cara-cara menanggulangi yang dilakukan di banyak areal  ternyata menghambat atau bahkan meniadakan upaya  penanggulangan yang dilakukan dalam skala yang lebih luas, atau sebaliknya.

 

Banyak di antara solusi di waktu lalu hanya memindahkan masalah ke hilir, atau dari skala lokal ke skala regional. Untuk  memperoleh solusi yang langgeng  terhadap salinitas tanah, maka perlu melakukan integrasi  pendekatan skala kecil dan skala luas.   Apalagi solusi  di satu lokasi  belum tentu sesuai bila diterapkan di lokasi lain. Tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua lokasi,  masing-masing tergantung pada masalah spesifik  sistem pertanian setempat.

 

Pendekatan Terpadu

 

Menghadapi masalah salinitas yang mengganggu  keberlanjutan pertanian dunia, Kelompok Konsultatif untuk Riset Pertanian Internasional (CGIAR) telah meluncurkan dua program riset yang diselenggarakan oleh ICARDA bersama sejumlah mitra kerja.  Program riset yang telah berlangsung selama beberapa tahun itu  adalah mengenai lahan kering  dan mengenai  air, tanah dan ekosistem.

 

Para peneliti dari ICARDA, Pusat Riset Pertanian Internasional Australia (ACIAR), AusAid, dan mitra-mitra nasional melakukan tugas pada skala pertanian lokal dan skala regional  dengan pendekatan terpadu. Melalui cara itu basis pengetahuan baru sedang dibangun, yang akan membantu para perencana menghadapi secara simultan masalah salinitas pada skala yang berbeda. Mereka memadukan pendekatan  skala  pertanian lokal dan regional kedua program untuk merumuskan manajemen salinitas berkelanjutan.

 

Para peneliti memperhatikan rangkaian faktor yang luas untuk dinilai. Ini meliputi aspek teknis air, tanah, tanaman, ternak, sistem pertanian, praktek agronomi yang biasa dilakukan, perubahan iklim dan pendapat petani tentang masalah dan solusinya. Mereka mecatat  lokasi dan peran usahatani dalam lanskap, untuk melihat kaitan  salinitas pada skala lokal  dan regional. Pengamatan yang luas itu dinilai penting dalam mengembangkan  manajemen solusi  salinisasi yang terkoordinasi  yang dapat menghindari  berpindahnya masalah salinitas dari satu lokasi ke lokasi lain di hilir.

 

Ada lima tahap dalam prosedur kerja yang ditempuh para ilmuwan untuk membantu petani mengatasi  masalah salinitas. Diawali dengan  menilai kondisi ladang pertanian bersangkutan, dilanjutkan dengan penentuan beberapa solusi yang kemungkinan dapat menanggulangi salinitasnya, lalu memilih solusi yang paling baik bagi sistem pertanian individual. Setelah itu baru menerapkan solusi yang dipilih, yang kemudian  kinerjanya dievaluasi dan direevaluasi.  Dalam melakukan penilaian, peneliti mengamati lokasi  dan peran ladang dalam lanskap, mengaitkan salinitas pada skala ladang dengan skala regional.  

 

Peneliti selama bertahun-tahun telah menghimpun pengalaman praktis  manajemen salinitas di lapangan dalam satu database strategi yang berdasarkan riset yang dapat dilakukan oleh para perencana pertanian untuk menanggulangi salinitas tanah. Database itu menginformasikan pengalaman-pengalaman tentang bagaimana salinitas dikelola pada situasi spesifik. Ketersediaan informasi dari database tersebut secara luas akan membantu  petani dan para pengelola air memahami  pilihan manajemen salinitas terbaik untuk lingkungan spesifik mereka. Database itu memberi tuntunan bagi pemilihan dan prioritas strategi salinitas terbaik.

 

Pelayanan online untuk akses ke situs database ini sedang dibangun. Sistem ini akan dikembangkan agar dapat diakses peralatan bergerak yang menggunakan sistem android  dan operasional lainnya.

 

Delta Sungai Nil

 

Salah satu contoh yang dikemukakan tentang proyek penelitian dengan pendekatan terpadu terhadap salinitas  itu adalah yang diaplikasikan di kawasan Delta Sunga Nil. Garam-garam yang terbawa air irigasi dan angin  menumpuk di  areal pertanian.

 

Garam-garam dapat dicuci menggunakan jumlah air yang cukup, tetapi itu sering memindahkan salinitas ke lahan lainnya. Ini dihindari dengan  manajemen salinitas terpadu pada tingkat ladang, tingkat lokal, tingkat provinsi, tingkat nasional  dan tingkat internasional. 

 

Di area yang terkena salinitas, para  ilmuwan bersama petani dan para manajer membangun saluran-saluran penguras (drains) ladang  yang akan mengalirkan air pencucian salinitas. Air kurasan yang dialirkan dipastikan  terpisah dari dan tidak tercampur dengan air irigasi. Cara ini dilakukan agar salinitas dari ladang  di hulu tidak berpengaruh ke ladang di hilir.

 

Untuk informasi lebih jauh mengenai hasil riset ini hubungi  Dr. Richard Soppe, Senior Marginal Water Use and Salinity Management Specialist ICARDA and IWLMP, e-mail r.sopping@cgiar.org. Olson PS.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162