Loading...

e-paper tabloid Sinar Tani - Penghargaan untuk Penggerak Swasembada Kedelai

10:48 WIB | Wednesday, 14-March-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper tabloid Sinar Tani - Penghargaan untuk Penggerak  Swasembada Kedelai

 

Setelah berhasil memantapkan produksi padi dan jagung, tahun ini pemerintah mengibarkan bendera sebagai tahun swasembada kedelai. Berbagai regulasi pun diterbitkan untuk mendongkrak produksi komoditas pangan yang selama ini menjadi nomor tiga, setelah padi dan jagung.

 

arget pemerintah itu bukan tanpa alasan. Selama ini untuk menutupi kebutuhan dalam negeri yang mencapai 2,3 juta ton/tahun, sebagian besar harus didatangkan dari impor. Sedangkan produksi dalam negeri rata-rata lima tahun terakhir hanya 982.470 ton biji kering atau 43% dari kebutuhan.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan, perkembangan produksi kedelai memiliki tren yang cenderung meningkat.  Terlihat dari rata-rata produksi kedelai pada periode 2011-2013 sebesar 824,81 ribu ton meningkat menjadi 934,58 ribu ton pada periode 2014-2016 atau naik sebesar 109,77 ribu ton (13,31%).

Rata-rata produktivitas kedelai juga naik. Pada periode 2011-2013 sebesar 14,23 kuintal (ku)/hektar (ha) meningkat menjadi 15,42 ku/ha pada periode 2014-2016 atau naik sebesar 12 ku/ha (4,43%). Begitu juga rata-rata luas panen kedelai. Jika pada periode 2011-2013 hanya sebesar 580.220 ha meningkat menjadi 605.920 ha pada periode 2014-2016 atau naik seluas 12.360 ha (8,34%).

Jika melihat potensi lahan untuk pengembangan, maka cukup beralasan pemerintah mencanangkan swasembada ke­delai. Menurut Sekretaris Dit­jen Tanaman Pangan, Maman Suherman, lahan yang bisa dipakai untuk program pengembangan kedelai adalah lahan tidur seperti lahan bekas pertambangan, perkebunan tanam yang belum menghasilkan, lahan pasang surut dan lahan bekas tanaman sayuran ataupun tanaman jagung. 

“Kita akan memanfaatkan lahan-lahan kering di 20 propinsi. Di Pulau Jawa, gerakan pertanaman kedelai akan dilakukan di lahan perkebunan tebu dan Perhutani. Sedangkan di Luar Pulau Jawa pada lahan perkebunan kelapa dan lahan bekas tambang,” tuturnya

Maman berharap, dengan mendorong penanaman pada musim tanam ini, akan bisa panen pada periode Januari-Maret 2018 mendatang. Kalkulasinya, jika lahan pertanaman kedelai yang ada saat ini sekitar 1,5 juta ha (existing) lalu  ditambah lahan baru 500 ribu ha, maka pada tahun 2018 akan ada lahan kedelai seluas 2 juta ha. 

Kalkulasinya, dengan pro­duktivitas tanaman kedelai sekitar 1,5 ton/ha, pada tahun depan paling tidak akan ada produksi sebanyak 3 juta ton. Jika kebutuhan dalam negeri hanya 2,8 juta ton, maka produksi akan berlebih. “Adanya gerakan ini, kita berharap pada tahun 2019, Indonesia sudah swasembada kedelai,” ujarnya.

Sesuai rancangan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAKL) tahun anggaran 2018, sasaran program Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) pengembangan kedelai 1,5 juta ha. 

 

Pendampingan Penyuluh

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, Ditjen Tanaman Pa­ngan bersinergi dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) dalam hal ini Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk pendampingan dan pengawalan budidaya kedelai. 

Dirjen Tanaman Pangan, Ke­menterian Pertanian, Sumardjo Gatot Irianto mengatakan, peme­rintah akan mengawal dan mem­berikan pendampingan melalui penyuluh pertanian. Dari mulai pendataan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), olah tanah, per­tanaman, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), panen serta sinkronisasi data dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

“Penyuluh bertugas mencatat serta melaporkan luas pertanaman kedelai di wilayah kerjanya. Para PPL juga didorong untuk memaksimalkan tidak hanya per­tanaman kedelai program, namun juga pertanaman kedelai swadaya,” kata Gatot.

Sebagai bentuk apresiasi ter­hadap kinerja penyuluh dalam melaksanakan dan menyukseskan kegiatan kedelai pada APBNP 2017, Ditjen Tanaman Pangan memberikan penghargaan kepada PPL berprestasi. Penghargaan tersebut berupa sertifikat, plakat dan PIN emas. 

Empat penyuluh pertanian mendapatkan Penghargaan Pe­nyuluh Berprestasi dalam rangka Pengawalan dan Pendampingan Upaya Khusus (UPSUS) Kedelai Program Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017. Mereka adalah Gunawan (PPL Kecamatan Ban­jarwangi, Kabupaten Garut); Deeby Renny Hosiana Lembong (PPL Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan); Muslikah (PPL Kecamatan Penawangan, Kabupaten Grobogan) dan Joko Suseno (PPL Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur).

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162