Loading...

Penguatan Kelembagaan Petani Lada

17:14 WIB | Tuesday, 23-September-2014 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Kontributor

Kelembagaan petani lada perlu ditingkatkan menjadi kelembagaan yang kuat dan mandiri sehingga berdampak terhadap akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, aksesibilitas pada informasi pertanian, aksesibilitas pada modal, infrastruktur dan pasar serta adopsi inovasi pertanian.

 

Lada (Piper nigrum L) merupakan salah satu jenis rempah yang merupakan komoditas andalan ekspor bagi Indonesia. Pasokan lada Indonesia dalam perdagangan dunia sebagian besar dipenuhi dari Provinsi Bangka Belitung yaitu lada putih dengan sebutan Muntok White pepper dan Provinsi Lampung yaitu lada hitam sebagai Lampung black pepper yang sudah dikenal sejak sebelum perang dunia II dan mempunyai cita rasa serta aroma yang khas dan tidak dimiliki oleh jenis lada lainnya. Prospek lada yang tetap cerah ini antara lain disebabkan karena berkembangnya usaha makanan, berkembangnya industri jamu farmasi, kosmetika yang menggunakan lada sebagai salah satu bahan baku, meningkatnya konsumsi dunia, konsumsi dalam negeri semakin meningkat dengan bertambahnya produk-produk industri makanan berbasis lada. Diversifikasi produk melalui pengembangan produk hilir (a.l tepung lada, minyak lada, oleoresin, green pepper, lada segar) dalam kemasan dan meningkatnya kebutuhan industri dan obat-obatan (herbal).

 

Hampir seluruh pertanaman lada (99,7%) diusahakan oleh rakyat, sehingga dapat berperan sebagai penyedia lapangan kerja dan sebagai sumber pendapatan petani. Mengingat hampir seluruh pertanaman lada diusahakan oleh rakyat, maka dalam meningkatkan produktivitas lada masih menghadapi berbagai permasalahan. Kenyataan yang harus diakui bahwa pertanaman lada di Indonesia sebagian besar dibangun oleh petani dengan skala usaha yang relatif kecil. Keadaan pelaku usaha pertanian tersebut setiap tahun semakin bertambah jumlahnya dengan tingkat kesejahteraan yang masih rendah. Skala usaha pertanian yang masih kecil juga menghambat petani dalam meningkatkan pendapatannya sehingga sulit ke luar dari lingkaran kemiskinan.

 

Permasalahan umum yang dihadapi dalam usahatani lada antara lain adalah:

 

1.   Rendahnya produktivitas tanaman karena banyaknya tanaman tua dan rusak, serangan hama penyakit, belum menggunakan benih unggul serta kurangnya pemeliharaan tanaman;

 

2.   Mutu produk pada umumnya masih rendah, produk masih berbentuk primer dan pengolahannya masih tradisional;

 

3.   Rantai tata niaga belum efisien, informasi pasar belum berkembang di sentra produksi dan harga yang diterima petani masih rendah;

 

4.   Koperasi dan asosiasi petani belum optimal yang mengakibatkan posisi tawar lemah;

 

5.   Kemitraan antara petani dengan perusahaan yang bergerak di komoditas ini belum optimal dan

 

6.   Terbatasnya permodalan dan fasilitas kredit untuk petani.

 

Untuk mengatasi permasalahan dalam usahatani lada tersebut, kebijakan yang ditempuh pemerintah yaitu peningkatan produksi, produktivitas dan mutu tanaman lada melalui: pengembangan komoditi lada, peningkatan kemampuan SDM, pengembangan kelembagaan dan kemitraan, peningkatan investasi usaha serta pengembangan sistem informasi pasar dan manajemen. Strategi yang dilakukan adalah melalui cara revitalisasi lahan, revitalisasi perbenihan, revitalisasi infrastruktur dan sarana, revitalisasi SDM, revitalisasi pembiayaan petani, revitalisasi kelembagaan petani, serta revitalisasi teknologi dan industri hilir. Implementasi untuk mensejahterakan petani lada salah satunya adalah dengan meningkatkan kemitraan petani lada melalui penguatan kelembagaan petani.

 

Kelembagaan Petani Lada

 

Salah satu permasalahan dalam pengelolaan usahatani lada adalah masalah kelembagaan pertanian yang tidak mendukung, salah satunya adalah kelembagaan petani lada, sehingga perlu adanya pembangunan kelembagaan petani lada menjadi kelembagaan yang kuat dan mandiri.

 

Kelompok Tani

 

Kegiatan penyuluhan pertanian di lapangan tidak mungkin dilakukan dengan pendekatan individu, sehingga harus dilakukan melalui pendekatan kelompok. Pendekatan ini mendorong petani untuk membentuk kelembagaan tani yang kuat agar dapat membangun sinergi antar petani, baik dalam proses belajar, kerjasama maupun sebagai unit usaha yang merupakan bagian dari usahataninya. Kelembagaan petani lada di perdesaan berkontribusi dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, aksesibilitas pada informasi pertanian, aksesibilitas pada modal, infrastruktur dan pasar serta adopsi inovasi pertanian. Di samping itu, keberadaan kelembagaan petani lada akan memudahkan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain.

 

Kelompok tani pada dasarnya adalah organisasi non formal di perdesaan yang ditumbuhkembangkan dari, oleh dan untuk petani. Kelompok tani dapat berfungsi sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi.

 

  1. Kelas Belajar: Kelompok tani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusahatani sehingga produktivitas meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera;
  2. Wahana Kerjasama: Kelompok tani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama di antara sesama petani dalam kelompok tani dan antar kelompok tani serta dengan pihak lain;
  3. Unit Produksi: Usahatani yang dilaksanakan oleh masing-masing anggota kelompok tani secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.

 

Petani lada yang tergabung dalam suatu kelompok tani dibimbing agar mampu menggali permasalahan yang dihadapi dan potensi yang mereka miliki serta mampu secara mandiri membuat rencana kerja untuk meningkatkan pendapatannya melalui usahatani dan usaha agribisnis berbasis perdesaan.

 

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)

 

Tujuan utama pembentukan dan penguatan Gapoktan adalah untuk memperkuat kelembagaan petani yang ada, sehingga pembinaan pemerintah kepada petani akan terfokus pada sasaran yang jelas. Gapoktan akan senantiasa dibina dan dikawal sehingga menjadi lembaga usaha yang mandiri, profesional dan memiliki jaringan kerja yang luas. Unit-unit usaha dalam Gapoktan dapat menjadi penggerak perekonomian di perdesaan. Gapoktan juga dibangun dalam upaya untuk memperkuat posisi tawar petani dalam berhadapan dengan pihak luar. Gapoktan menjadi lembaga gerbang yang menjalankan fungsi representatif bagi seluruh petani dan kelembagaan-kelembagan lain yang levelnya lebih rendah. Ia diharapkan menjadi gerbang tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tapi juga untuk pemenuhan modal, kebutuhan pasar dan informasi.

 

Untuk meningkatkan skala usaha ke arah komersial, kelompok tani lada dapat dikembangkan melalui kerjasama antar kelompok dengan membentuk Gapoktan. Pengembangan kelompok tani diarahkan pada peningkatan kemampuan setiap kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggotanya dalam mengembangkan agribisnis, penguatan kelompok tani menjadi organisasi yang kuat dan mandiri. Beberapa kelompok tani dalam satu desa yang telah dibina selanjutnya difasilitasi untuk membentuk Gapoktan. Gapoktan tersebut merupakan kumpulan dari beberapa kelompok tani yang mempunyai kepentingan yang sama dalam pengembangan komoditas usaha tani lada untuk menggalang kepentingan bersama.

 

Penggabungan kelompok tani ke dalam Gapoktan dilakukan agar kelompok tani dapat lebih efektif dan efisien dalam penyediaan saprodi pertanian, permodalan, peningkatan atau perluasan usaha tani sektor hulu dan hilir, pemasaran serta kerjasama dalam peningkatan posisi tawar. Untuk itu maka Gapoktan selanjutnya ditingkatkan kemampuannya agar dapat berfungsi sebagai unit usaha tani, unit usaha pengolahan, unit usaha sarana dan prasarana produksi, unit usaha pemasaran dan unit usaha keuangan mikro. Penggabungan dalam Gapoktan terutama dapat dilakukan oleh kelompok tani yang berada dalam satu wilayah administrasi pemerintahan untuk menggalang kepentingan bersama secara kooperatif. Wilayah kerja Gapoktan sedapat mungkin di wilayah administratif desa/kecamatan dan sebaiknya tidak melewati batas wilayah kabupaten.

 

Dengan cara ini maka petani lada akan meningkat kemampuannya dalam mengatasi masalah kemiskinan dalam suatu ikatan kelompok tani dan Gapoktan yang merupakan wahana untuk memperjuangkan nasib para anggotanya sesuai dengan aspirasi, kondisi sosial ekonomi dan budaya setempat. Masyarakat melalui Gapoktan juga diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bersama. Gapoktan melakukan usaha agribisbis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usahatani anggotanya dan petani lainnya.

 

Koperasi Pertanian

 

Dalam rangka meningkatkan akses terhadap pasar dan modal serta meningkatkan posisi tawar petani, maka kelembagaan petani yang telah ada perlu dikuatkan menjadi kelembagaan ekonomi, di antaranya adalah koperasi pertanian. Koperasi pertanian merupakan badan usaha yang berbadan hukum, beranggotakan para petani, buruh tani dan orang-orang yang terlibat dalam usaha pertanian dan memiliki ruang lingkup usaha di bidang pertanian/agribisnis dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi. Kelembagaan tani yang berbentuk Gapoktan, dapat ditumbuhkan menjadi koperasi, namun harus memenuhi tujuh kriteria umum, yaitu:

 

  1. Telah melakukan kegiatan usaha berkelompok yang berorientasi pasar;
  2. Struktur organisasi kelembagaan petani telah memiliki kepengurusan yang melakukan kegiatan usaha atau unit usaha agribisnis;
  3. Memiliki perencanaan usaha yang disusun secara partisipatif dalam kurun waktu atau siklus usaha tertentu;
  4. Memiliki pencatatan dan pembukuan usaha;
  5. Telah membangun jejaring usaha dengan kelembagaan petani lainnya;
  6. Telah membangun kemitraan usaha dengan pengusaha atau kelembagaan ekonomi lainnya;
  7. Membutuhkan dukungan aspek legal formal untuk memperkuat pengembangan usaha.

 

Koperasi pertanian dibutuhkan bagi pengembangan lada, di antaranya karena:

 

1.   Usaha tani lada relatif kecil sehingga posisi tawar lemah;

 

2.   Pasar produk pertanian umumnya dikuasai oleh pembeli yang jumlahnya relatif sedikit dibandingkan jumlah petani yang sangat banyak;

 

3.   Besarnya permintaan dari para pembeli produk pertanian ini umumnya baru dapat dipenuhi dari menggabungkan volume produksi banyak petani;

 

4.   Pengaruh aspek biologis produksi pertanian menyebabkan kualitas produksi yang bervariasi. Hal ini dapat menyulitkan dalam proses pemasaran hasil produksi pertanian. Di samping itu, akan sangat menyulitkan bagi petani yang memasarkan produknya secara individual;

 

5.   Karakter sektor pertanian yang secara geografis tersebar menyebabkan hanya sedikit kalangan petani yang berlokasi dekat dengan pasar. Hal ini juga menyebabkan rendahnya kemampuan petani menjangkau berbagai alternatif pembeli;

 

6.   Kualitas sumberdaya manusia petani yang umumnya relatif rendah, sehingga relatif sulit untuk meningkatkan usahanya jika dilakukan secara individual;

 

7.   Suasana kehidupan dan kerja para petani yang dekat dengan alam sedikit banyak berpengaruh pada pola hidup yang mengajak masyarakat secara bersama-sama berikhtiar untuk memecahkan masalah bersama. Berdasarkan alasan tersebut maka peran koperasi pertanian menjadi penting dalam peningkatan produksi serta kesejahteraan hidup petani lada. Sri Wijiastuti/dari berbagai sumber.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162