Loading...

Penyaluran Tersendat, Gudang Bulog Penuh

15:00 WIB | Monday, 27-March-2017 | Nasional | Penulis : Clara Agustin

Program serap gabah petani (sergap) yang pemerintah gencarnya telah mampu meningkatkan serapan gabah petani. Tapi sayang tingginya pengadaan gabah petani tersebut tak diikuti penyaluran.

 

Distribusi beras Bulog hingga kini masih tersendat, karena belum jelasnya program beras sejahtera (rastra) untuk masyarakat kurang mampu. Rastra merupakan ‘baju baru’ dari program raskin (beras untuk masyarakat miskin).

 

"Hingga saat ini beras rastra belum didistribusikan karena ada kendala di masalah pendataan jumlah penerima di pusat dan daerah," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat acara Akselerasi Serap Gabah Petani oleh Mitra Bulog, Minggu (26/3) di Jakarta.

 

Masalah pendataan ini terjadi akibat data masyarakat ekonomi ke bawah yang dikeluarkan Kementerian Sosial (Kemensos) berbeda dengan data Pemerintah Daerah (Pemda). Angka dari Kemnsos lebih rendah dibandingkan dari Pemda. "Makanya beras rastra ini masih menumpuk di gudang yang menyebabkan Bulog serta mitra Bulog bingung menyimpan beras hasil Tim Sergap," kata Amran.

 

Kinerja Tim Sergap

 

Namun di balik kebingunan pemerintah menyalurkan beras, Amran menganggap penuhnya gudang-gudang penyimpanan menjadi satu keberhasilan kinerja Tim Serap Gabah. Data menyebutkan, selama periode Januari-Maret 2017 serapan gabah petani mencapai 754.330 ton gabah atau setara dengan 377.165 ton beras. “Ini meningkat 420% dibandingkan periode yang sama pada tahum lalu,” kata Amran.

 

Daerah yang paling tinggi dalam penyerapan gabah masih dipegang Jawa Timur. Selanjutkan Sulawesi Selatan yang mengalahkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Data Bulog, realisasi serapan setara beras periode Januari-24 Maret 2017 di Jawa Timur kurang lebih sebanyak 110 ribu ton, Sulawesi Selatan 70 ribu ton, Jawa Tengah 60 ribu ton, dan Jawa Barat 40 ribu ton.

 

Rencana penyerapan gabah periode Maret (26-31Maret 2017) dan April 2017 yakni, Sumsel 164.625 ton GKG (gabah kering giling), Lampung 302.622 ton GKG, Banten 138.724 ton GKG, Jabar 600.133 ton GKG, Jateng 484.732 ton GKG, Jatim 776.701 ton GKG, NTB 336.398 ton GKG, dan Sulsel 396.064 ton GKG.

 

"Kita harus mampu menyerap sebanyak-banyaknya. Optimalkan 50 ribu PPL dan Babinsa, perluasan kemitraan dengan swasta dan poktan/gapoktan yang memiliki sarana pengeringan,” kata Amran.

 

Tingginya penyerapan gabah Tim Sergap tak lepas keluarnya peraturan baru, yakni Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No.3/2017 mengenai Pedoman Harga Pembelian Beras di Luar Kualitas oleh Pemerintah. "Jadi yang kadar airnya 25-30% dibeli juga oleh Bulog dengan harga sesuai HPP  Rp 3.700/kg," kata Amran.

 

Agar kualitas gabah baik, Amran menyarankan agar waktu panen juga diperhatikan. Jangan panen di antara jam 6-7 pagi kadar airnya lebih dari 30%. Sedangkan kalau pukul 8 pagi kadar air 22% dan siang hari 20%. “Di musim penghujan waktu panen pun harus tepat. Jangan pagi hari nanti kadar airnya tinggi,” himbau Amran. Cla

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162