Loading...

Penyuluhan Pertanian, Antara Idealita dan Realita

10:17 WIB | Tuesday, 18-February-2014 | Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh : RADINOPIANTO, SP

 

(Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Kelembagaan

 

BP4K Kabupaten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan)

 

Membaca Tabloid Sinar Tani dua edisi sebelumnya yang mengangkat tema “Selamatkan Penyuluh Pertanian”, penulis menjadi tergelitik untuk sedikit bercerita lepas tentang sekelumit kisah perjalanan dari kinerja seorang Penyuluh Pertanian di lapangan, realita yang begitu membentang di depan mata, melihat dengan kacamata yang lebih obyektif dari dekat seperti apa peran dan fungsi seorang penyuluh pertanian di lapangan.

 

Dalam kegamangan akan jumlah penyuluh pertanian yang semakin menipis dengan sebaran jumlah penyuluh PNS yang masih minim, diikuti dengan laju penurunan jumlah penyuluh pertanian akibat pensiun jauh lebih tinggi dibanding penambahan atau rekrutmen penyuluh pertanian itu sendiri adalah fragmen dari masalah yang menjadi blunder dan cenderung tak berkesudahan.

 

Berharap banyak dengan formasi penyuluh dari produk otonomi daerah hanyalah segelintir jumlah yang tak menyelesaikan masalah. Agak miris memang dalam kolom “Mentan Menyapa“ Sinta, Edisi 15–21 Januari 2014 No. 3540 Tahun XLIV seharusnya jumlah penyuluh seluruh Indonesia adalah 70.000 orang, sementara solusi yang ditawarkan rasanya belum menjadi jawaban dari kekurangan tenaga penyuluh. Bukan bermaksud skeptis namun cenderung sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pembina PERHIPTANI, Mulyono Machmur dalam Sinta, Edisi 29 Januari – 4 Februari 2014 No. 3542 Tahun XLIV, bahwa memang perlu kehati-hatian dalam mengangkat, melatih dan mensertifikasi petani menjadi tenaga penyuluh swadaya ini ketika daerah dengan keterbatasannya belum siap memberikan insentif/honorarium dalam jumlah yang sepadan. Sisi lain tidak sedikit penyuluh swadaya yang berharap semua fasilitas disejajarkan dengan penyuluh PNS. Permasalahan kekurangan penyuluh bukan persoalan nanti yang bisa ditangguhkan tapi sesuatu yang mendesak untuk diberikan jawaban.

 

Bisa dibayangkan jika terjadi pensiun massal penyuluh pertanian seluruh Indonesia di tahun 2017 sebanyak 50% dari total jumlah penyuluh pertanian yang ada sekarang (28.492 orang) maka berarti tinggal 14 ribu orang penyuluh pertanian lagi di tahun tersebut. Makin sedikitlah komunitas penyuluh pertanian. Akan dibawa ke mana Penyuluhan Pertanian di Indonesia??? Alhasil boro-boro mau melaksanakan amanat UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang sistem penyuluhan pertanian yang mengamanatkan satu desa satu penyuluh, hingga hari ini masih banyak penyuluh pertanian yang mempunyai wilayah binaan lebih dari 5 desa bahkan 10 desa dengan komposisi beban jumlah kelompoktani yang begitu banyaknya untuk dibina di tiap desa (5–15 kelompoktani) dengan bentangan yang memakan jarak puluhan kilometer dari desa ke desa namun demi amanah, hal ini tetap dijalankan oleh seorang penyuluh pertanian. Maka jawabannya adalah komitmen dan konsistensi pemerintah dalam menjalankan Undang Undang No. 16 Tahun 2006 tersebut adalah hal esensi untuk disegerakan, sebetulnya tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak “merekrut” tenaga penyuluh pertanian sehingga terpenuhi kebutuhan akan satu desa satu penyuluh. Setidaknya daripada menunggu waktu yang begitu panjang akan sertifikasi petani untuk diangkat menjadi penyuluh swadaya, mengapa tidak dipikirkan untuk mengangkat seluruh Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) yang secara jam terbang dalam pembinaan dan pemberdayaan petani sudah sangat mumpuni dan layak untuk diangkat menjadi penyuluh. Hal ini jauh lebih solutif.

 

Saat ini kami yakin dan tetap berpikir positif, para pemangku kepentingan telah bekerja optimal meng-implementasi-kan berbagai kegiatan, baik yang dilakukan di ibukota kabupaten maupun yang didistribusikan ke desa. Apapun itu, pola yang dilaksanakan, tidak hanya supaya pembangunan, stimulan atau bantuan yang diberikan efektif namun juga supaya tepat sasaran, berhasil dan berdaya guna yang mampu menyentuh dan menggerakkan perekonomian, jiwa kewirausahaan menuju proses kemandirian dan keswadayaan rakyat. Tak pelak dunia pertanian pun terus menggeliat, mengembangkan sayap demi membangun pertanian menuju petani yang sejahtera. Pembangunan ke depan diharapkan dapat memberikan konstribusi yang lebih besar. Untuk mewujudkan harapan tersebut, diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas, andal dengan ciri-ciri mandiri, profesional, berjiwa wirausaha, mempunyai dedikasi, etos kerja, disiplin dan moral yang tinggi serta berwawasan global. Kita tidak bisa menafikan, bahwa sumberdaya manusia yang mempunyai kompetensi di bidangnya masih rendah, sumberdaya alam belum dikelola secara optimal, dan pendidikan petani yang masih rendah. Kondisi ini memberikan dampak yang kurang menguntungkan terhadap persaingan di era global.

 

Oleh karena itu diperlukan usaha khusus pemberdayaan melalui pembangunan yang mampu membantu petani dalam memperbaiki kehidupan dan penghidupannya serta meningkatkan kesejahteraannya, penyuluh pertanian akan menjadi salah satu agen untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang handal melalui kegiatan penyuluhan pertanian yang inovatif.

 

Penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang berkualitas merupakan salah satu upaya dalam pemberdayaan masyarakat, baik melalui pendidikan formal, maupun non formal, yang pada gilirannya akan memotivasi petani ke arah yang lebih baik dalam meningkatkan produktifitas usaha, pendapatan dan kesejahteraan petani. Banyak hal yang telah dilakukan oleh penyuluh pertanian dalam mengambil perannya dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan, baik melalui pola LAKU (Latihan dan Kunjungan) anjangsana ke lahan usahatani, demonstrasi plot, demonstrasi farm, demonstrasi area, ataupun pola penyuluhan lainnya, melalui peran dan fungsinya dalam identifikasi potensi dan pemecahan masalah di wilayah kerja, identifikasi kegiatan usaha Gapoktan/Poktan, penetapan kegiatan usaha Gapoktan/Poktan sesuai potensi wilayah, mendampingi dalam proses belajar mengajar di Gapoktan/Poktan, memfasilitasi Gapoktan/Poktan dalam mengelola kegiatan usaha bidang agribisnis, membimbing dan membantu memecahkan masalah yang dihadapi anggota Gapoktan/Poktan serta memfasilitasi secara rutin kegiatan usaha, memfasilitasi Gapoktan/kelompok tani dalam mengakses teknologi, informasi pasar, peluang usaha, permodalan dan sarana produksi.

 

Ironis setiap tahun produktifitas bertambah namun belum memberikan arah yang lebih baik, dengan kesungguhan kita bersama diharapkan petani lebih punya modal inovasi teknologi, tak cuma modal otot dan omong doang. Juga sebagai langkah penggalian aset, optimalisasi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Langkah inisiatif baru dan penajaman kegiatan yang bisa menumbuhkan petani-petani yang cerdas. Meskipun dengan jumlah yang sangat sedikit tentu kita takkan pernah menyerah akan hal ini, melakukan pembinaan dan pemberdayaan kelompoktani menuju kesejahteraan dan keswadayaan masyarakat adalah cita-cita bersama. Kita akan terus optimis bahwa di era ke depan permasalahan budidaya termasuk permasalahan minimnya komunitas/jumlah penyuluh akan dapat diselesaikan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162