Loading...

Peredaran Pestisida Palsu dan Ilegal Terbesar di Pantura Jawa

16:48 WIB | Wednesday, 18-April-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Indarto

foro: sumber croplife

 

 

Peredaran pestisida palsu dan ilegal  di masyarakat sampai kini sudah pada tahap mengawatirkan. Paling besar peredarannya di wilayah sentra pangan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

 

Direktur Eksekutif CropLife Indonesia, Agung Kurniawan mengatakan, pestisida palsu banyak beredar di daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa. Seperti di Brebes sebanyak 90%, Karawang 80%, Subang 70%, Jember 53%, dan Probolinggo 40%. Sedangnan pestisida ilegal yang ditemukan di Brebes sebanyak 60%, Karawang 40%, Subang 33%, Jember 75%, dan Probolinggo 5%. Pangsa pasar dari pestisida palsu dan ilegal besarnya sekitar Rp 400 miliar. Agung mengestimasi jumlah pestisida palsu dan ilegal di masyarakat sekitar 10% dari total pasar pestisida nasional di pasaran.

 

Saat diskusi bertajuk "Mitigasi dan Penanggulangan Penyebaran Produk Perlindungan Tanaman Palsu di Indonesia-Anti Counterfeiting," di Jakarta, Rabu (18/4), Agung mengatakan, survei Croplife Indonesia pada tahun 2017 kepada petani, PPL, dan petugas Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) di tujuh tempat lebih dari 60% mengetahui adanya pestisida palsu dan ilegal. 

 

Data yang dihimpun Insight Asia mengenai survei pemasaran pestisida palsu tahu 2017 menyebutkan sebanyak 80% aparat kepolisian telah mengetahui keberadaan pestisida palsu dari laporan  petani atau anggota tim reserse. Produk pestisida palsu yang beredar di masyararakat umumnya jenis pestisida untuk tanaman hortikultura. " Ada juga untuk tanaman pangan dan perkebunan. Tapi, yang paling banyak dipalsukan itu pestisida untuk tanaman hortikultura," ujarnya.

 

Lantaran sudah banyak pestisida palsu dan ilegal di masyarakat, pihaknya bersama aparat kepolisian, KP3, dinas pertanian dan kementerian atau lembaga terkait terus melakukan penanganan. "Kami juga sudah memberikan pengetahuan dan pembinaan ke petani tentang bahayanya menggunakan pestisida palsu. Bagi si pelaku atau pengedar pestisida palsu atau ilegal juga dilakukan penegakan hukum oleh aparat kepolisian," papar Agung.

 

Dalam kesempatan yang sama, Kanit Subdit I Direktorat Tindak Pidana Tertentu, AKBP Sugeng Irianto membenarkan maraknya peredaran pestisida palsu dan ilegal. Berdasarkan laporan, pestisida palsu dan ilegal  pada tahun  2016 banyak beredar di Malang, Brebes, dan Solo.Sedangkan Tahun 2017  banyak beredar di Brebes, Sukoharjo, Solo, dan Klaten.

 

Menurut Sugeng, tiap tahun ada sekitar 4-5 kasus pestisida palsu atau ilegal yang ditangani aparat kepolisian. Penanganan kasus pestisida palsu dan ilegal ini sudah sampai ke penyidikan. "Sudah ada beberapa yang divonis sesuai hukum yang berlaku," ujarnya.

 

Seperti diketahui, bagi siapa saja yang terbukti memalsukan atau mengedarkan produk pestisida palsu/ ilegal seperti diatur dalam UU No.12 tahun 1992  tentang sistem budidaya tanaman akan dikenakan hukuman 5 tahun penjara dan denda maksimum Rp 250 juta. 

 

Bahkan, sesuai UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, bagi siapa saja yang memalsukan atau mengedarkan produk pestisida palsu/ilegal bisa dikenakan hukuman 5 tahun penjara atau denda Rp 2 miliar. Sedangkan bagi siapa saja yang memalsukan atau mengedarkan produk pestisida palsu/ilegal  juga bisa dikenakan ancaman hukuman penjara 4 tahun atau denda Rp 800 juta ,( sesuai UU No. 15 tahun 2001 tentang merek. Idt

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162