Loading...

Perhatikan Suara Rakyat

16:06 WIB | Tuesday, 25-August-2015 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Untuk kesekian kalinya kita menyaksikan dan membuktikan dengan kasat mata bahwa partai politik memang sering tidak berpihak pada rakyat. Lihat saja, pelaksanaan Pilkada serentak yang nyaris gagal di beberapa daerah hanya karena jumlah peserta Pilkada cuma ada satu pasangan. Artinya, hanya ada satu pasangan calon peserta Pilkada yang mendafar dan tidak memiliki lawan untuk berkompetisi dalam Pilkada. Sungguh sangat ironis, partai politik yang diberi amanah untuk mencalonkan pemimpin daerah ternyata sama sekali tidak memiliki calon dalam Pilkada. Alasannya sederhana, mereka tidak mau kalah karena lawan yang dihadapi cukup berat. Daripada ‘kalah sebelum bertanding’ lebih baik tidak mengajukan calon.

 

Warga Surabaya menjadi contoh jelas korban ketidakpedulian partai politik pada rakyat. Walikota Tri Rismaharini, yang selama ini terbukti mampu berprestasi hingga tingkat dunia dan sangat dicintai rakyat Surabaya, akhirnya justru tidak bisa mengikuti Pilkada tahun ini. Itu artinya, walikota Surabaya akan kosong dan dijabat pejabat sementara yang kekuasaannya terbatas. Konsekwensinya, banyak kebijakan yang selama ini telah berjalan baik dan menguntungkan rakyat terpaksa dihentikan atau ditiadakan. Bayangkan, seorang pemimpin yang sudah terbukti berprestasi baik justru ‘tersingkir’ dan dipaksa ‘berhenti’ sementara oleh partai yang seharusnya justru melahirkan pemimpin yang lebih baik.

 

Cara berpikir egois hanya untuk kepentingan partainya dengan mengesampingkan kepentingan rakyat juga tampak pada berbagai hal terkait dengan kebijakan di negeri ini. Lihat saja ketika wakil rakyat berjuang mati-matian minta dana aspirasi. Seolah mereka ‘rela mati’ untuk meng-gol-kan ambisi rakus itu. Tapi ketika saat ini ribuan petani sedang menangis akibat kekeringan, tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara. Ketika ratusan ribu hektar lahan sawah terpaksa puso, dan para petani tidak bisa panen, tidak ada satu pun di antaranya mereka yang peduli. Jangankan turun ke bawah untuk berbagi empati, mendengar jeritan tangis petani pun mereka mungkin tidak mau mendengar.

 

Kita tentu berharap, mereka yang mendapat amanah dari rakyat lebih peduli dan memperhatikan rakyat. Salah satunya dengan mendengar keluhan, tangisan dan jeritan rakyat. Jangan lagi hanya memikirkan diri sendiri atau partai dan golongannya, seharusnya mereka lebih banyak berpikir untuk rakyat, yang telah memberi amanah dan memberi mereka nafkah. Bukankah mereka makan dari gaji yang dibayar dengan uang rakyat? Bukankah mereka mendapat fasilitas yang melimpah dari ‘urunan’ seluruh rakyat negeri ini?

 

Belum terlambat bagi mereka untuk berubah dan berbenah. Perjalanan masih panjang. Masih banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk rakyat. Dari pada berjuang mati-matian untuk kepentingan diri sendiri, mengapa tidak berjuang mati-matian untuk kepentingan rakyat? Ataukah rakyat harus mengambil amanah yang telah diberikan kepada mereka, dengan tidak lagi peduli pada mereka?

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162