Loading...

Perkebunan Berkelanjutan sebagai Salah Satu Pilar Ekonomi Nasional di Sektor Pertanian

13:02 WIB | Tuesday, 09-December-2014 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Soedjai Kartasasmita - Presiden Komisaris PT. Bakrie Sumatra Plantations, Tbk

 

Tahun 2014 sudah hampir berakhir dan dengan penuh harapan kita menatap ke depan menyongsong pergantian tahun pada akhir bulan ini. Namun harus diakui bahwa berbagai tantangan berat baik di tingkat nasional maupun global akan menghadang perkembangan ekonomi dalam tahun 2015. Salah satu di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang melambat di banyak negara yang belakangan ini menyebabkan menurunnya harga berbagai komoditas antara lain kelapa sawit dan karet, 2 produk unggulan yang selama ini menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Harga minyak sawit sudah anjlok hingga USD 722/MT CIF Rotterdam, padahal pada tahun-tahun sebelumnya masih berfluktuasi di antara USD 1.100 sampai USD 1.300 per metrik tonnya.

 

Harga karet yang tercatat di Singapore Commodity Exchange pada 28 November 2014 masih pada kisaran USD 160/ton dan kelihatannya sulit diharapkan akan meningkat secara signifikan dalam waktu yang dekat ini.

 

Anjloknya harga ke-2 komoditas unggulan tadi disebabkan oleh 3 faktor, yaitu : Pertama, merosotnya permintaan sebagai akibat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara konsumen seperti sudah disinggung di atas. Kedua, efek dari turunnya harga minyak bumi dari sekitar USD 120 menjadi kurang lebih USD 70/barrel (Brent) sekarang ini. Ketiga, persaingan dari produk-produk tandingan seperti kedelai untuk minyak kelapa sawit dan setelah anjloknya harga BBM karet sintetik untuk karet alam.

 

Kemerosotan harga BBM memang berdampak pada harga minyak kelapa sawit seperti dijelaskan oleh Dr. James Fry dari LMC International London karena adanya korelasi antara harga ke-2 komoditas tersebut; kalau harga BBM naik maka harga minyak kelapa sawit juga akan naik demikian pula kalau harga BBM turun harga minyak kelapa sawit juga akan turun.

 

Dalam kondisi seperti ini banyak stakeholders yang merasa galau namun kita tidak boleh mengambil sikap pesimistis karena di balik tantangan pasti ada peluang-peluang yang positif bagi industri perkebunan.

 

Untuk itu perlu ada pemikiran-pemikiran baru, diikuti dengan langkah-langkah penjabarannya supaya perkebunan di Indonesia tetap berjaya dan tetap mampu untuk bertahan sebagai pilar ekonomi Indonesia.

 

Prospek ke Depan dalam Kaitan dengan Pangan dan Enerji

 

Ada beberapa produk perkebunan yang memiliki manfaat yang bersifat multiguna karena selain bisa dipakai untuk konsumsi sehari-hari dalam bentuk pangan juga bisa digunakan untuk keperluan lain yang bersifat non-pangan.

 

Contoh yang relevan adalah minyak sawit karena bisa dipakai untuk keperluan konsumsi sehari-hari a.I. dalam bentuk minyak goreng, tapi juga bisa dipakai sebagai bahan baku untuk kosmetik, es krim malahan juga sebagai bahan untuk substitut coklat.

 

Selain itu minyak kelapa sawit juga bisa dijadikan bahan baku untuk enerji terbarukan seperti biodiesel yang dalam penggunaannya dicampur dengan solar atas dasar rasio tertentu.

 

Apabila penggunaan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku untuk biodiesel di Indonesia ditingkatkan misal sampai 5 juta ton atau lebih per tahunnya maka efeknya akan positif terhadap perkembangan harga minyak kelapa sawit di pasar internasional.

 

Hal ini diungkapkan dalam IPOC 2015 (INDONESIA PALM OIL CONFERENCE 2015)-GAPKI di Bandung baru-baru ini sehingga membuka mata kita bahwa Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit di dunia sebenarnya bisa berperan dalam penentuan harga minyak kelapa sawit melalui mekanisme supply and demand seperti yang dilakukan oleh Brazil dalam posisinya sebagai produsen gula terbesar di dunia untuk produk gulanya.

 

Apa Rupanya yang Dilakukan Brazil?

 

Apabila harga gula di pasar New York naik maka produksi dan ekspor gulanya akan lebih digenjot, dan apabila harga gula turun produksi ethanol dan produk-produk derivatif lainnya seperti ragi dan listrik akan lebih ditingkatkan sehingga suplai gula ke pasar internasional menjadi berkurang.

 

Dengan lain perkataan Brazil dengan menggunakan strategi tersebut mampu mengatur supply and demand gula di pasar yang pada gilirannya akan berdampak positif pada perkembangan harga gula di pasar.

 

Ada satu hal yang menarik bagi industri kelapa sawit: prospeknya ke depan akan tetap baik sebagai akibat meningkatnya jumlah penduduk dunia yang diperkirakan akan mencapai 9,5 miliar orang pada tahun 2050. Untuk itu perlu dirumuskan strateginya dengan baik; ekspansi atau intensifikasi, dua-duanya tentunya dengan dukungan riset yang kuat.

 

Gula juga mempunyai posisi yang sama: seiring dengan pertumbuhan penduduk dunia; permintaan akan terus meningkat. Karet juga mempunyai potensi yang sama karena jumlah pengguna kendaraan pasti akan naik. Sama halnya dengan teh, kopi dan kakao. Dari uraian ini jelas bahwa prospek perkebunan ke depan akan tetap baik, bahkan mungkin lebih baik lagi.

 

Kontroversi dalam Industri Kelapa Sawit

 

Walaupun kelapa sawit menghasilkan banyak produk unggulan namun seperti tidak terelakkan bermunculanlah kontroversi-kontroversi yang menimbulkan persepsi negatif publik terhadap kelapa sawit.

 

Ada 2 kontroversi yang mempunyai pengaruh besar; yang pertama adalah yang berkenaan dengan lingkungan dan yang kedua adalah yang berkenaan dengan konflik sosial. Dalam kaitan dengan kontroversi yang pertama kelapa sawit sering mendapat tuduhan-tuduhan dari berbagai kalangan terutama LSM-LSM sebagai perusak lingkungan karena melakukan deforestasi dan menyalah gunakan lahan gambut sehingga menambah parahnya efek rumah kaca karena meningkatnya emisi C02.

 

Di bidang sosial banyak persoalan di lapangan telah memicu konflik sosial dan perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebabnya. Untuk menanggulangi kontroversi-kontroversi tersebut dibentuklah oleh para stakeholder kelapa sawit sebuah lembaga yang bernama RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang mengeluarkan sertifikat untuk para pelaku bisnis yang mematuhi kaidah-kaidah lingkungan dan sosial seperti yang ditetapkan dalam prinsip-prinsip dan kriteria RSPO.

 

Sertifikat yang dikeluarkan RSPO berlaku untuk 5 tahun dan dalam periode ini kegiatan perkebunan yang bersangkutan akan terus diawasi dan ditelusuri oleh RSPO. Pemerintah Indonesia juga menetapkan sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) yang sifatnya wajib; berbeda dengan sertifikasi RSPO yang sifatnya sukarela.

 

Malaysia sebagai negara produsen ke-2 terbesar juga tidak mau ketinggalan dan melaksanakan sertifikasi MSPO (Malaysia Sustainable Palm Oil) untuk keperluan yang sama. Perlu difahami bahwa inti dari RSPO, ISPO dan MSPO ialah wajibnya para stakeholder untuk menegakkan usaha yang berkelanjutan atas dasar sustainability seperti yang ditetapkan oleh Komisi Brundtland dari PBB dengan rumusan sebagai berikut:

 

“Pengembangan yang berkelanjutan ialah pengembangan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi-generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya”.

 

("Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs").

 

Di Indonesia sudah banyak perusahaan yang mendapatkan sertifikat RSPO dan ISPO dan jumlahnya pasti akan terus bertambah. Tantangan yang berat ialah sertifikasi untuk para petani yang menguasai 43 persen dari seluruh areal kelapa sawit Indonesia yang luasannya diperkirakan mencapai 10 juta hektar lebih.

 

Pemerintah dengan serius sudah melakukan upaya-upaya ke arah itu a.I. melakukan penyuluhan dan pelatihan petani-petani yang mempunyai usaha di bidang kelapa sawit.

 

Langkah-langkah yang Perlu Diambil untuk Kepentingan Masa Depan

 

Dalam kondisi pasar seperti sekarang kita tetap harus memikirkan langkah-langkah untuk kepentingan masa depan dengan fokus yang lebih banyak ditujukan kepada kepentingan para petani kelapa sawit maupun karet sebagai akibat dari merosotnya harga ke-2 komoditas tersebut.

 

Areal perkebunan milik rakyat sangatlah besar; dalam hal kelapa sawit misal areal perkebunan rakyat mencakup luasan sebanyak kurang lebih 4,5 juta hektar atau ekuivalen dengan luasnya negara Denmark.

 

Dilema yang dihadapi petani cukup kompleks, pada satu sisi harga mengalami kemerosotan namun pada lain sisi biaya terus naik disebabkan naiknya harga pupuk, biaya angkutan, upah dan lain-lain.

 

Perusahaan besar dalam kondisi seperti ini biasanya melakukan peningkatan efisiensi tapi kalau petani tidak mungkin melakukannya karena skala usahanya yang kecil. Pada saat yang sama perlu diadakan peremajaan karena kalau tidak produktivitasnya akan terus menurun dan jelas akan berpengaruh terhadap volume produksi nasional.

 

Masa euforia kelapa sawit untuk saat ini telah berakhir; marjin keuntungannya mengalami kemerosotan yang tidak sedikit sebagai akibat dari turunnya harga. Langkah-langkah apa yang harus diambil untuk membantu para petani? Yang jelas ialah bahwa para stakeholder, pemerintah, perkebunan besar, wakil-wakil masyarakat dan LSM-LSM perlu duduk bersama untuk mencari solusinya.

 

Hal lain yang perlu menjadi perhatian ialah perlu adanya policy yang tegas untuk mewajibkan penggunaan biodiesel di dalam negeri karena efeknya akan positif terhadap harga minyak kelapa sawit di pasar internasional. Hal lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa pembangunan infrastruktur yang diwacanakan oleh pemerintah perlu melibatkan pihak-pihak terkait di lingkungan perkebunan.

 

Dengan adanya infrastruktur yang baik biaya transportasi akan lebih murah sehingga akan meningkatkan posisi daya saing komoditas-komoditas perkebunan dengan volume yang besar seperti minyak kelapa sawit dan karet. Satu hal yang tidak boleh dilupakan ialah betapa pentingnya peran riset untuk mendukung lajunya pengembangan perkebunan karena risetlah yang mampu menghasilkan berbagai benih unggul yang mempunyai potensi produktivitas yang tinggi selain resisten terhadap hama dan penyakit seperti ganoderma yang sudah merambah di perkebunan kelapa sawit di berbagai lokasi.

 

Inovasi-inovasi berupa teknologi baru juga sangat diperlukan untuk kemajuan perkebunan sehingga ke depan kita tetap berjaya.

 

Tetap Cerah

 

Prospek perkebunan ke depan tetap cerah sekalipun belakangan ini banyak mengalami kendala sebagai akibat dari kemerosotan harga yang dialami oleh berbagai komoditas penting seperti minyak kelapa sawit dan karet. Diperkirakan bahwa permintaan pasar akan kembali normal apabila pertumbuhan ekonomi dunia sudah pulih kembali.

 

Satu hal yang menjadi faktor penentu sukses yaitu bagaimana cara menangani permintaan pasar yang meningkat seiring dengan kenaikan jumlah penduduk dunia di masa depan. Untuk keperluan ini perlu diambil langkah-langkah strategis seperti a. I. menyusun strategi yang baik untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan usaha dari perkebunan rakyat.

 

  • Ditulis untuk memperingati Hari Perkebunan Nasional yang diperingati setiap 10 Desember
  • Soedjai Kartasasmita

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162