Loading...

Pertumbuhan Ayam Lambat, Kualitas DOC Dipertanyakan

15:26 WIB | Wednesday, 28-January-2015 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Ika Rahayu

Kalangan peternak mengeluhkan munculnya kasus kekerdilan pada ayam dan serangan penyakit akibat virus di musim hujan kali ini. Mereka mencurigai maraknya kedua kasus itu di lapangan antara lain karena rendahnya kualitas bibit ayam (DOC) yang beredar di pasaran.

 

Musim hujan musim penyakit. Ini sudah diketahui oleh peternak ayam ras pedaging (broiler) mengingat biasanya serangan penyakit memang lebih tinggi di musim penghujan. Karenanya menjelang masuk musim hujan peternak umumnya ekstra waspada dan telah melakukan langkah antisipasi dengan berbagai upaya seperti memvaksinasi ternaknya.

 

“Tapi entah kenapa di musim hujan kali ini bukan hanya ancaman penyakit, tetapi kami juga dibayangi oleh kejadian lambatnya pertumbuhan anak ayam alias kekerdilan,” kata Ketua Umum Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Sigit Prabowo, dalam perbincangan dengan Sinar Tani, di Bogor.

 

Laporan mengenai terjadinya kasus ayam kerdil, menurut Sigit, cukup banyak diterimanya akhir-akhir ini. Anak ayam umur sehari (DOC) biasanya sudah bisa mencapai berat badan hidup 1 kg di usia pemeliharaan 23 hari, tetapi saat ini berat 1 kg bisa dicapai setelah usia ayam 30 hari.

 

Kondisi ini dirasakan merugikan peternak karena berarti masa panen ayam mundur dan peternak harus menambah biaya pembelian pakan yang tidak kecil. “Secara teknis, FCR menjadi tinggi. Ini jelas memberatkan peternak apalagi harga pakan dari waktu ke waktu terus naik,” jelas Sigit.

 

Akibat sulitnya membesarkan broiler maka kini di lapangan pasokan ayam besar (ayam dengan berat hidup di atas 1,8 kg) sangat terbatas yang berimbas harga jualnya meningkat. Menurut catatan Ketua Umum PPUN, per tanggal 21 Januari 2015 di tingkat peternak harga ayam besar sudah mencapai Rp 19.000 per kg, sedangkan harga ayam kecil (ukuran berat hidup 8 ons sampai 1 kg) hanya Rp 17.700 per kg. Padahal biasanya harga per kg berat hidup ayam besar lebih rendah dari ayam kecil.

 

Ayam besar selama ini memang selalu volumenya lebih sedikit di pasaran, mengingat pembelinya juga terbatas seperti kalangan industri kuliner dan pengusaha UMKM termasuk pedagang kaki lima ayam goreng (fried chicken) yang belakangan banyak muncul di berbagai daerah.

 

Penyakit ND

 

Sigit sendiri sejauh ini tidak bisa memastikan mengapa sampai bisa terjadi broiler lambat pertumbuhannya atau dalam dunia kesehatan hewan sering disebut menderita “Sindroma Kekerdilan”. “Bisa jadi perusahaan pembibitannya yang memproduksi DOC dengan kualitas kurang baik misalnya DOC berasal dari bibit muda atau bibit tua sekali,” ujarnya.

 

Kalau dalam hal ayam kerdil peternak umumnya hanya bisa pasrah, tidak demikian dengan upaya penanggulangan penyakit akibat virus yang kerap muncul di musim penghujan. Ayam-ayam yang dipelihara peternak mandiri (yang populasinya tak terlalu besar), menurut pantauan Sigit, jarang yang terserang penyakit mematikan seperti penyakit New Casttle Desease (ND) atau yang lebih dikenal dengan penyakit tetelo karena peternak memang memvaksin satu per satu ternaknya.

 

Kejadian penyakit ND yang mematikan justru banyak terjadi di farm-farm besar (company farm) termasuk farm milik perusahaan perunggasan terintegrasi. Mereka biasanya melakukan vaksinasi massal tidak satu per satu melakukan penyuntikan sehingga beberapa ternaknya ada saja yang tidak teraplikasikan vaksin. “Padahal penyakit ND ini sangat cepat menular, kalau sampai satu ayam saja terkena maka bisa terjadi dalam satu malam ayam satu kandang akan mati,” jelas Sigit.

 

Dengan meningkatnya kasus kekerdilan ayam dan serangan penyakit ND tersebut di samping Sigit berharap adanya perhatian dari pihak pembibit menyangkut kualitas DOC broiler yang dihasilkan, peternak dihimbau juga meningkatkan kewaspadaan mengingat adanya faktor intern di farm juga bisa menjadi pemicu munculnya kedua kasus tersebut.

 

“Penyimpanan pakan misalnya juga harus diperhatikan karena di musim hujan jamur sangat cepat tumbuh dan pakan yang tercemar jamur bisa menjadi racun bagi ternak kita,” tandasnya. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162