Loading...

Petani Muda Berguru ke Negeri Matahari Terbit

13:18 WIB | Tuesday, 19-April-2016 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Clara Agustin

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) kembali mengirim petani muda untuk magang ke Jepang. Untuk tahun 2016  setidaknya sebanyak 43 petani muda akan menimba ilmu di Negeri Matahari Terbit tersebut.

 

Perlu diketahui program magang petani muda tersebut telah berlangsung sejak tahun 1984. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan beberapa asosiasi pelaksana magang di Jepang yaitu The Japan Agricultural Exchange Council (JAEC) di Tokyo, The Niigata Agricultural Exchange Council (NAEC) di Niigata, dan International Agricultural Exchange Assosiation (IAEA) di Gunma.

 

Sampai dengan Maret 2016, BPPSDMP telah menghasilkan 1.204 alumni magang di Jepang. Pada tahun 2016 yang akan melakukan magang di Jepang sebanyak 43 orang petani muda (18 orang untuk penempatan JAEC Tokyo, 6 orang untuk penempatan Niigata dan 19 orang untuk penempatan di Gunma).

 

Keberangkatan untuk penempatan JAEC Tokyo dan Niigata dilaksanakan pada 12 Agustus 2016. Sedangkan untuk Gunma dilaksanakan Mei 2016. “Mereka ini adalah petani muda yang dapat memotivasi generasi-generasi muda lainnya agar tertarik menggeluti bidang pertanian,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pending Dadih Permana.

 

Menurut Dadih, saat ini kebanyakan petani di Indonesia berusia lanjut. Bahkan di Pantai Utara Jawa (Pantura), kebanyakan para petani berusia lebih dari 50 tahun. Data statistik pertanian 2013, rumah tangga petani mengalami penurunan selama 10 tahun terakhir. Dari 31,6 juta menjadi 26,4 juta rumah tangga petani.

 

Data tersebut membuktikan generasi muda kini makin kurang tertarik dengan dunia pertanian. Dengan adanya magang ke Jepang ini, Dadih berharap generasi muda kembali tertarik untuk menggeluti bidang pertanian.

 

Belajar Etos Kerja

 

Program magang Jepang yang diikuti petani muda Indonesia akan berlangsung selama 8 bulan, 1 tahun atau 2 tahun. Tujuan magang di Jepang di samping belajar terhadap persoalan pertanian, tidak kalah penting adalah membentuk watak, keterampilan, dan etos kerja bangsa Jepang (Bushido).

 

“Pertama adalah pembentukan karakternya menjadi seorang berintegritas, kapilitas, dan berkomitmen terhadap pembangunan pertanian nasional. Lalu setelah itu tercipta, mereka dapat mengembangkan teknologi-teknologi dari Jepang yang dapat dikembangkan di daerahnya (Indonesia),” tutur Dadih.

 

Dadih mengingatkan,  agar peserta magang selalu memegang teguh kebudayaan Indonesia. Pasalnya, nilai budaya adalah landasan untuk melakukan kegiatan usaha tani sesungguhnya. Selain itu, hormati adat istiadat yang ada di Jepang.

 

“Saya sangat menekankan ke peserta magang untuk selalu memegang prinsip. Terapkan kehidupan Pancasila dengan menghormati kebudayaan masyarakat Jepang,” pesan Dadih

 

Sementara itu Ketua Ikatan Alumni Magang Jepang (IKAMAJA), Henda mengatakan, yang terkenal di Jepang adalah disiplin, kejujuran, dan tepat waktu. Karena itu yang paling melekat di benak para alumni (IKAMAJA) adalah etos kerjanya. Tak heran banyak jebolan magang Jepang, sukses menjalankan agribisnis di Indonesia.

 

“Etos kerja di sana luar biasa sekali. Orang-orangnya mau bekerja keras. Makanya tak heran disiplin, kejujuran, dan tepat waktu menjadi hal yang paling kami ingat,” cerita Henda.

 

Dengan integritas yang tinggi di dalam kehidupan masyarakat Jepang, bukan sembarangan petani yang dapat magang. Para peserta magang merupakan yang terpilih berdasarkan hasil seleksi di tingkat lapangan atau hasil identifikasi kebutuhan lapangan (IKL) yang dilaksanakan oleh widyaiswara, staf, dan pada saat di lapangan didampingi oleh IKAMAJA atau Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) tingkat kabupaten/kota dan rekomendasi dari dinas/instansi. Cla/Yul/BPPSDMP

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162