Loading...

Peternak Ayam Menanti Pasokan Jagung

11:26 WIB | Tuesday, 09-February-2016 | Ternak, Komoditi | Penulis : Ika Rahayu

Peternak ayam ras petelur (layer) di dalam negeri hingga saat ini masih merasakan kesulitan mendapatkan jagung di pasaran.  Mereka sangat berharap bisa memperoleh pasokan jagung segera karena komoditas itu diperlukan untuk campuran pembuatan pakan bagi ternak mereka.

 

“Ribuan peternak layer kini menjerit karena langkanya jagung di pasar. Sebagian di antaranya bahkan sudah menjual ayamnya yang masih produktif karena tak bisa lagi memproduksi pakan,” kata peternak layer yang juga Sekjen Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat  (Pinsar) Indonesia, Leopold Halim, dalam perbincangan dengan Sinar Tani, di Jakarta.

 

Berbeda dengan usaha peternakan ayam ras pedaging (broiler) yang mengandalkan pasokan pakan siap konsumsi dari pabrik pakan, menurut Atung (sapaan akrab Leopold Halim)  banyak dari  peternak layer melakukan pencampuran (mixing) sendiri bahan baku pakan  dan jagung merupakan unsur terbesar dalam penyusunan  ransum bagi ternak ayamnya.

 

Selama ini peternak mengandalkan jagung lokal dalam memproduksi pakan. Jagung diperoleh langsung dari pedagang besar yang ada di daerah produsen jagung seperti di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah  dan Lampung.

 

“Saya pribadi malah sering mengambil dari pedagang di Makassar dan Gorontalo karena di dua daerah ini pasokan jagung biasanya juga tinggi. Jadi peternak layer itu hafal betul mana daerah yang sedang panen raya. Saat ini kenyataannya memang tidak ada barang di daerah-daerah produksi jagung itu,” jelasnya.

 

Kebiasaan menggunakan jagung lokal karena ia menilai dari segi kualitas jauh lebih unggul dibandingkan jagung impor.  Jagung lokal berbau wangi alami karena tidak melalui proses fumigasi, warnanya pun lebih kuning tercermin dari warna kuning telurnya lebih kuning cerah dibandingkan jika menggunakan jagung impor.

 

Diganti Gandum

 

Sejak pasokan jagung lokal berkurang dan harganya melonjak sampai di atas Rp 6.000 per kg maka banyak dari peternak yang menyiasatinya dengan mengganti sebagian jagung dengan tepung gandum, malah ada yang 100 persen mengganti jagung dengan tepung gandum.

 

"Karena ayam tidak familiar dengan rasa gandum, akibatnya produksi telur menjadi turun drastis. Tapi upaya substitusi terpaksa harus dilakukan daripada tidak sama sekali bisa menghasilkan pakan," kata Atung yang lokasi farm layernya berada di kawasan Legok Tangerang.

 

Dalam kondisi kekurangan pasok jagung seperti sekarang ini tak mudah bagi peternak layer membeli pakan layer dari pabrik pakan karena sejauh ini pabrik pakan fokus memenuhi dulu permintaan peternak layer pelanggannya. "Sekarang ini bahkan tidak ada lagi perusahaan pakan yang menjual bahan baku jagung. Padahal dalam kondisi normal biasanya kami bisa membeli jagung dari perusahaan pakan karena ada divisi yang mengurusi penjualan bahan baku pakan,” tuturnya.

 

la berharap persoalan pasokan jagung bisa terpecahkan dengan adanya operasi pasar (OP) jagung yang digelar Bulog baru-baru ini. Apalagi OP ini mentargetkan bisa melakukan penjualan langsung kepada end user yakni para peternak ayam yang melakukan mixing sendiri.

 

Pinsar Indonesia sendiri sudah diminta oleh Bulog menjadi referensi yang akan menentukan peternak-peternak yang bisa membeli jagung OP yang dipatok berharga Rp 3.600 per kg. "Dengan cara demikian bisa dijamin bahwa yang membeli jagung OP itu adalah benar-benar peternak produsen pakan. Saya sendiri mendapat jatah pembelian 100 ton. Tapi entah karena kendala apa sampai saat ini jagung OP belum juga sampai ke tangan saya," ujar Sekjen Pinsar Indonesia itu. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162