Loading...

Populer Sebelum Lahir

10:11 WIB | Tuesday, 30-May-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Adopsi teknologi di tingkat masyarakat selama ini terkesan lamban, kadang kalah cepat dengan perusahaan swasta. Kelemahan ini ternyata sudah sangat disadari oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), untuk itu paradigma adopsi teknologi kini dirubah, populerkan dulu inovasinya baru kemudian dilepas,  sehingga tidak ada inovasi yang mangkrak di meja kerja.

 

Calon Varietas Unggul Hibrida NASA 29 adalah salah satu produk inovasi yang menggunakan pendekatan itu. “Bukan Layu Sebelum Berkembang, tetapi Populer Sebelum Lahir”.

 

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Kapuslitbangtan), Andriko Noto Susanto menjelaskan salah satu kendala pengembangan varietas unggul baru adalah lambannya diadopsi oleh petani, karena pada umumnya baru diperkenalkan kepada petani setelah varietas unggul tersebut dirilis.

 

Untuk mempercepat diseminasi jagung hibrida tongkol ganda, Kepala Balitbangtan mengambil kebijakan untuk memperkenalkan calon varietas tersebut sebelum diirilis sehingga setelah dirilis, dapat dengan cepat diadopsi oleh petani.

 

Untuk mewujudkan kebijakan Bapak Kepala Balitbangtan, dilakukan uji coba produksi benih seluas 10 ha di KP. Bajeng, Gowa Sulawesi Selatan dan KP. Sandubaya, BPTP NTB. Benih yang dihasilkan dari kegiatan ini sebagian disumbangkan oleh Bapak Mentan yang dihasilkan oleh Bapak Presiden RI sebanyak 5 ton pada acara puncak HPS di Boyolali.

 

Benih yang dihasilkan ini  digunakan pada kegiatan pengenalan calon VUB tongkol ganda dilakukan di beberapa sentra pengembangan jagung hibrida yaitu: 20 ha di Sulawesi Selatan dengan provitas 11,5 – 12,6 t/ha, 20 ha di NTB dengan provitas 12,13 – 13,41 t/ha, 10 ha di Sulawesi Utara dengan provitas 12,15 - 13,0 t/ha, 5 ha di Sulawesi Tenggara dengan provitas 11,25 – 12 t/ha,  15 ha di Jawa Timur dengan provitas 12,5 – 13,5 t/ha,  10 ha di Jawa Barat dengan provitas 11,5 – 12,5 t/ha dan 5 ha di Jambi dengan provitas 11,35 – 12 t/ha.

 

Setelah masa pengujian ini, Andriko sangat bahagia, karena respon petani pada setiap lokasi pengembangan sangat baik. “Keunggulan yang dimiliki oleh jagung ini ternyata menjadi solusi atas masalah yang dihadapi petani saat ini,” ujarnya menambahkan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162