Loading...

Potensi Peningkatan Produksi Jagung Sangat Besar

09:00 WIB | Thursday, 03-August-2017 | Komoditi, Pangan | Penulis : Indarto

Potensi peningkatan produksi jagung sangat besar. Baik dari sisi penambahan luas areal, maupun produktivitas. Regional Business Manager (RBM) Monsanto area Jawa Timur (Jatim), Heru Sucahyo mengatakan, rata-rata produktivitas jagung yang ditanam petani Nganjuk mencapai 8 ton/ha.

 

“Padahal potensi lahan pengembangan jagung di Nganjuk cukup luas. Ada lahan khusus jagung seluas 15 ribu ha. Di lahan tersebut paling tidak perlu benih jagung sebanyak 300 ton,” katanya.

 

Menurut Heru, jika petani diarahkan menanam jagung dengan benih berkualitas (hibrida), dipastikan produksinya akan meningkat. Apalagi, saat menaman jagung dilakukan dengan cara yang benar dibarengi teknologi, seperti jarak tanam, penggunaan pupuk yang seimbang dan perawatan selama tanam dengan bagus, hasilnya dipastikan akan meningkat.

 

Makin banyak petani menanam jagung dengan kualitas benih yang bagus, produksi jagung nasional hingga akhir tahun 2017 bisa mencapai 30,5 juta ton. Karena itu petani harus diajarkan menanam jagung dengan benih berkualitas supaya hasilnya juga maksimal.

 

Selain dari benih unggul, potensi peningkatan produksi bisa datang dari tambahan luas areal penanaman. Heru berpendapat, kawasan Jatim sangat potensial untuk pengembangan produksi jagung. Bahkan budidaya jagung di Jatim tak hanya pada daerah irigasi, tapi dikembangkan pada lahan tadah hujan dan lereng hutan bekerjasama dengan Perum Perhutani.

 

Karena itu ungkap Heru, sepanjang tahun ini pihaknya fokus melakukan pengembangan jagung di Jatim. Daerah yang menjadi fokus pengembangan adalah Nganjuk, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Ngawi (satu area bagian utara). Sedangkan untuk area Jatim bagian selatan, meliputi, Kediri, Jombang, Mojokerto-Tulung Agung. Blitar, dan Ponorogo. Jatim bagian timur di antaranya, Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.

 

Menurut Heru, pengembangan jagung di Jatim dilakukan sejumlah pendekatan teknologi. Jagung yang ditanam di daerah pegunungan berbatu, maka jarak tanamnya agak jarang. Sedangkan, jagung yang ditanam di daerah irigasi, jarak tanamnya rapat. “Kita juga lakukan cara tanam tumpang sari dengan Perum Perhutani,” ujarnya. Idt/Yul/Humas Ditjen Tanaman Pangan

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162