Loading...

Puluhan Telur Burung Nuri, Gagal Diselundupkan ke Taipei

08:42 WIB | Tuesday, 26-September-2017 | Non Komoditi, Karantina | Penulis : Kontributor

Berbagai macam cara digunakan untuk menyamarkan dan mengelabui petugas agar mereka bisa menyelundupkan satwa langka dan dilindungi. Ada yang menyamarkannya dengan makanan ringan, mie instan, baju-baju bahkan dimasukkan dalam paralon.

 

Kali ini petugas Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya berhasil menggagalkan penyelundupan telur yang diduga telur burung Nuri  di Bandara Internasional Juanda - Sidoarjo pada 7 September. Telur tersebut dibawa dalam travel bag dimasukkan kaleng potato chips oleh seorang penumpang pesawat dengan tujuan Taipei.

 

Kecurigaan awal bermula saat salah seorang penumpang pesawat dikeberangkatan Internasional (Terminal 2) melewati X Ray petugas bandara (Aviation security/Avsec), terlihat benda seperti telur dalam travel bag penumpang tersebut. Selanjutnya petugas Avsec memberitahukan kepada petugas karantina tentang hasil X Ray  dan  bersama-sama melakukan pemeriksaan terhadap travel bag dimaksud. Setelah diperiksa terdapat 6 (enam) kaleng potato chips yang di dalamnya berisi 40 butir telur burung. Berdasar pengakuan pemilik, telur-telur tersebut adalah telur burung Nuri yang notabene termasuk satwa dilindungi.

 

Petugas Avsec lalu melakukan penolakan muat. Selanjutnya petugas karantina menanyakan kelengkapan dokumen karantina kepada pemilik, namun pemilik bergegas pergi dengan alasan sudah boarding/takut ketinggalan pesawat. 

 

Barang bukti berupa telur-telur diamankan petugas karantina untuk dilakukan pengujian  laboratorium apakah mengandung Virus Avian Influenza atau tidak. Apabila tidak, telur-telur tersebut dicoba untuk ditetaskan dalam mesin penetas.

 

Kepala BBKP Surabaya Dr. Ir. Musaffak Fauzi  menghimbau kepada seluruh petugas karantina utamanya yang bertugas di bandara untuk memperketat pengawasan terhadap media pembawa yang dibawa oleh penumpang dan meningkatkan kerjasama dengan instansi terkait di dalam bandara  meliputi Bea Cukai dan Avsec.

 

Pelaku penyelundupan seperti ini jelas Kepala BBKP Surabaya dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) karena melanggar pasal 7 dalam Undang-Undang No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

 

Dijelaskannya, dalam Pasal 7 dinyatakan bahwa Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina, yang akan dikeluarkan dari wilayah Republik Indonesia wajib:

a.    dilengkapi sertifikat kesehatan bagi hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, kecuali media pembawa yang tergolong benda lain,

b.    Melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan

c.    Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina. herny

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162