Loading...

Pupuk Berimbang, Kunci Lesatkan Produksi Dengan Tetap Menjaga Tanah

20:32 WIB | Tuesday, 10-July-2018 | Sarana & Prasarana | Penulis : Clara Agustin

Pupuk seharusnya bisa dilakukan secara berimbang agar tepat melesatkan produksi tetapi tetap menjaga tanah

Penggunaan pupuk dan pestisida tidak sesuai dosis menyebabkan tanah pertanian di Indonesia mengalami kerusakan. Unsur hara di dalam tanah menjadi hilang, sehingga banyak terjadi kegagalan panen. Padahal dengan penggunaan pupuk berimbang, produksi bisa melesat tetapi tetap bisa menjaga tanah.

 

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Taruna Tani, Desa Gandu, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, Susanto mengatakan bahwa tanah pertaniana di Nganjuk sebagian besar sudah rusak karena penggunaan pestisida yang berlebihan. “Bukan hanya penggunaan pestisida saja yang berlebihan, penggunaan pupuk yang tidak sesuai pun menjadikan tanah menjadi rusak,” katanya saat Diskusi Terbatas Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) ‘Produktivitas vs Importasi, Ada Apa?’ di Jakarta, Senin (9/7).

 

Tanah yang rusak tentu akan mempengaruhi hasil panen. Sudah menggunakan varietas unggul, ketika di tanam di tanah yang rusak, hasilnya tentu tidak maksimal. Susanto mengatakan pertama kali yang dilakukan petani untuk memulai kegiatan budidaya adalah mengukur pH tanah dengan menggunakan alat pH tanah. Ketika pH-nya sudah diketahui, otomatis menjadi tahu takaran pupuk yang harus diberikan,” jelasnya.

 

Untuk tanah yang sudah rusak, sebelum ditanam, tanahnya harus diberi kapur/gamping dahulu karena mudah diserap oleh tanah. Ketika ditaburkan kapur/gamping, tanaman dapat lebih mudah menyerap pupuk yang diberikan. “Pupuk ini kan sumber makanannya tanaman. Kalau tanahnya rusak, tidak bisa menyerap pupuk yang ada malah gagal panen,” terang Susanto.

 

Penggunaan pupuk berimbang tentu menjadi hal yang sangat penting. Disamping produksi meningkat, tanah pun tidak akan rusak. Susanto menjelaskan untuk menanam padi di lahan 1 hektar diperlukan Pupuk NPK sebanyak 500 kg dan pupuk organik sebanyak 3-4 ton per ha.

 

“Permasalahan di kita ini petani akan memberikan Pupuk Urea secara berlebihan, padahal tidak bagus untuk tanaman. Apalagi tidak menggunakan pupuk organik sama sekali, yang ada mikroba di dalam tanah mati. Seharusnya menggunakan pupuk berimbang (Pupuk NPK dan organik) menjadi kunci untuk peningkatan produksi. Makanya saya menyarankan jerami atau gabah itu jangan dibuang begitu saja. Harus dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” tutupnya. Cla

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162