Loading...

SAATNYA PETANI MENERAPKAN GAP BAWANG PUTIH

20:29 WIB | Friday, 25-October-2013 | Mimbar Penyuluhan | Penulis : Ahmad Soim

 

 

Bawang putih (Allium sativum) termasuk salahsatu komoditas sayuran yang harus dibudidayakan dengan menerapkan Budidaya yang Baik dan Benar/GAP, karena dikonsumsi sebagai bumbu. Bawang putih juga dikonsumsi sebagai obat karena mengandung beberapa bahan aktif, antara lain: senyawa dialit sulfide atau alsilin yang berfungsi sebagai antioksidan, anti trombotik, anti radang, penurun tekanan darah dan kolesterol. Selain itu, bawang putih juga dapat untuk obat sakit gigi dan kena gigitan ular. Bawang putih dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, misalnya digunakan untuk acar, manisan atau dimakan langsung.

 

 

 

 

GAP Bawang Putih

 

Dalam rangka menambah pengetahuan penyuluh pertanian dan petani untuk menerapkan GAP bawang putih atau Budidaya Bawang Putih yang Baik dan Benar, perlu mempelajari dan menerapkan  Standar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Bawang Putih yang telah disusun berdasarkan pengalaman petani bawang putih di Desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah, dilengkapi dengan rekomendasi dari Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi Hortikultura, BALITSA, BPTP Jawa Barat dan BPTP Jawa Tengah.

 

SOP bawang putih tersebut meliputi: pemilihan lokasi, penentuan waktu tanam, penyiapan lahan, penyiapan bibit, penanaman dan pemupukan dasar, pengairan, pemupukan susulan, penyiangan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), penentuan saat panen, panen, pasca panen dan distribusi.

 

 

 

  1. Pemilihan Lokasi

 

Lokasi yang sesuai dengan persyaratan tumbuh bawang putih, antara lain: 1) Tanah subur dengan top soil cukup tebal, berpasir, gembur, pH tanah 6,9–7,2  dan bebas penyakit atau bukan bekas tanaman sejenis/sefamili hingga tiga musim tanam; 2) Lahan terbuka tidak ada naungan sehingga sinar matahari dapat langsung menyinari tanaman; 3) Lahan yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian  kurang dari 1.500 m dpl; 4) Kemiringan lahan kurang dari 30%; 5) Suhu antara 15–20oC, suhu malam agak dingin diperlukan untuk pembentukan umbi bawang putih, sedangkan suhu terlalu tinggi dan tanah terlalu basah akan mempersulit pembentukan umbi; 6) Curah hujan kurang dari 1.500 mm per tahun; dan 7) Sumber air cukup, tetapi drainase baik.

 

  1. Penentuan Waktu Tanam

 

Waktu tanam bawang putih perlu ditetapkan agar memperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal. Waktu tanam bawang putih pada akhir musim hujan, antara bulan Mei–Juni atau awal musim kemarau dengan syarat tersedia sumber air yang cukup. 

 

  1. Penyiapan Lahan

 

Penyiapan lahan untuk menanam bawang putih, meliputi: pembersihan lahan, pengolahan tanah, pembuatan parit dan bedengan serta penetapan jarak tanam.

 

  1. Pembersihan Lahan

 

Lahan yang akan ditanami bawang putih harus dibersihkan dari segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, antara lain: batu-batuan, sampah, gulma, sisa-sisa tanaman dan lain-lain. Batuan dan sampah anorganik (plastik dan lainnya) dikumpulkan, lalu dibuang di luar areal tanam. Sedangkan sisa-sisa tanaman, semak-semak belukar dan sampah organik dikumpulkan, lalu dibenamkan di tempat yang masih di dalam areal tanam bawang putih.  

 

  1. Pengolahan Tanah, Bedengan dan Pembuatan Parit

 

Lahan yang akan ditanami dipersiapkan untuk memperoleh media tanam yang optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang putih, dengan mengolah tanah sampai gembur, diratakan, dibuat parit dan bedengan dengan arah timur datangnya sinar matahari. Pengolahan tanah dilakukan sampai gembur dengan cara mencangkul atau membajak tanah sedalam 20–30 cm dan diulang 2 sampai 3 kali dengan jarak waktu sekitar satu minggu. Jarak waktu sekitar satu minggu tersebut, maksudnya membiarkan tanah untuk memperbaiki aerasi tanah serta menghilangkan gas-gas beracun dan panas hasil dekomposisi/penguraian sisa-sisa tanaman. Setelah tanah benar-benar gembur diratakan, lalu dibuat bedengan dengan jarak antar bedengan 40 cm, tinggi bedengan 15–30 cm dan lebar 100–120 cm. Kemudian dibuat parit untuk menjaga drainase (pembuangan air) tetap baik, dengan ukuran lebar 30–40 cm dan kedalaman 30 cm. Pada lahan miring, dibuat terasering dan ditanami tanaman penguat pematang, lalu   bedengan dibuat melintang atau memotong arah kemiringan lahan.

 

  1. Penetapan Jarak Tanam

 

Penetapan jarak tanam dilakukan  agar diperoleh tempat benih bawang putih dan pupuk dengan jarak yang sama dalam semua bedengan. Jarak tanam bawang putih yang ideal berukuran 15 x 15 cm dan ditetapkan dengan memberi tanda belahan bambu, lalu dibuat lubang tanam dengan tugal.

 

  1. Penyiapan Benih

 

Penyiapan benih untuk menjamin benih yang ditanam jelas varietasnya, seragam, berproduksi tinggi dan sehat. Benih bawang putih yang akan ditanam dipilih yang mempunyai kriteria sebagai berikut: 1) Umbi yang telah selesai masa dormansi (telah disimpan 6–7 bulan); 2) Benih unggul, bermutu, bersertifikat dan berlabel; 3) Bebas hama dan penyakit; 4) Berukuran besar (bobot 1,5–2 gram), ukuran sedang (bobot 1-1,5 gram), dan kecil (bobot kurang dari 1 gram atau rata-rata 0,77 gram); 5) Tidak cacat fisik dan bentuk umbi seragam; 6) Pangkal batang berisi penuh dan keras; dan 7) Umbi siap tanam yang ditandai bagian tengah siung sudah berwarna hijau.

 

Kemudian benih yang memenuhi kriteria tersebut dipisahkan menjadi siung-siung dan dipisahkan siung yang paling dalam yang akan ditanam di tempat tersendiri untuk produksi bawang tunggal (lanang). Benih bawang putih yang dibutuhkan sekitar 9 kuintal per hektar. Benih bawang putih sangat mahal, oleh karena itu dapat digunakan umbi siung yang ukuran  sedang.

 

  1. Penanaman dan Pemupukan Dasar

 

Penanaman benih adalah meletakkan benih bawang putih dengan benar, sedangkan pemupukan dasar adalah memberikan hara dasar dalam tanah agar tersedia hara yang dapat diserap oleh benih yang baru ditanam. Cara penanaman dan pemupukan dasar sebagai berikut: 1) Sebelum benih bawang putih ditanam, sebarkan pupuk kandang sebanyak 10–15 ton per hektar pada lahan yang telah diolah dan siap ditanami bawang putih, lalu pupuk ditutup dengan tanah setebal 5 cm dan dibiarkan selama 10 hari; 2) Menjelang tanam benih, sebarkan anorganik dengan jenis dan dosis per hektar sebagai berikut: 250 kg SP-36, 300 kg KCl, 100 kg urea dan 100 kg ZA; 3) Lalu tanamlah setiap siung benih bawang putih pada lubang yang telah disiapkan, dengan cara membenamkan pangkal siung ke permukaan tanah secara tegak lurus sampai ¾ panjang siung masuk tanah dan diupayakan benih tidak bersinggungan dengan pupuk karena dapat berakibat pembusukan; 4) Setelah benih ditanam, tutuplah bedengan dengan jerami setebal 3–5 cm; 5) Setelah tanaman berumur 15 hari, diberi pupuk urea sebanyak 100 kg per hektar, dengan cara pupuk ditanam dalam tanah dengan menggunakan tugal pada 5–10 cm di kiri/kanan barisan tanaman; dan 6) Setelah tanaman berumur  30 hari, diberi pupuk ZA sebanyak 100 kg per hektar.  

 

  1. Pengairan

 

Pengairan dimaksudkan memberi air pada tanaman untuk pertumbuhan tanaman dan membantu penyerapan unsur hara oleh tanaman. Cara pengairan untuk tanaman bawang putih sebagai berikut: bedengan disiram sampai basah secara rutin setiap 3 hari sekali atau sesuai kebutuhan. Waktu penyiraman pada pagi hari sebelum terik matahari. Ada cara lain untuk penyiraman bawang putih, yaitu pengairan dengan sistem leb. Cara pengairan ini untuk 1 hektar lahan dibutuhkan waktu setengah hari, bila sudah selesai air harus segera dibuang.

 

 

 

10. Pemupukan Susulan

 

Pemupukan susulan merupakan pemberian pupuk tambahan kebutuhan hara untuk pertumbuhan tanaman. Cara memberikan pupuk susulan sebagai berikut: 1) Buatlah parit untuk penempatan pupuk susulan dengan jarak 10 cm dari tanaman dan kedalaman 2–3 cm; 2) Tanaman berumur 15 hari, diberikan pupuk susulan urea sebanyak 100 kg per hektar dengan cara disebarkan secara merata di dalam parit yang telah disiapkan, lalu ditutup dengan tanah; 3) Tanaman berumur 30–35 hari, diberikan pupuk susulan ZA sebanyak 100 kg per hektar, dilanjutkan pembumbunan bedengan agar perakaran dan umbi bawang putih dapat tumbuh optimal; 4) Setelah tanaman mencapai tinggi 10 cm, dilakukan penjarangan tanaman dengan cara mencabut tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dan diganti dengan benih yang baik.

 

  1.  Penyiangan

 

Penyiangan adalah  membersihkan bedengan dari gulma dan tanaman pengganggu lainnya serta tanaman bawang putih yang sakit, untuk menjaga kebun dan kesehatan tanaman bawang putih. Penyiangan dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada tanaman berumur 25–30 hari setelah tanam (HST), 50–60 HST dan 70–80 HST. Caranya, mencabut gulma dan tanaman pengganggu lainnya, lalu dibenamkan di antara bedengan. Kemudian tanaman yang sakit dicabut dan dibakar atau dibenamkan di tempat terpisah dengan lahan bawang putih.

 

  1.  Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman

 

Organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa hama dan penyakit sering menyerang tanaman dan dapat merusak bagian-bagian tanaman, lalu tumbuhnya terhambat dan akan mati pada serangan yang hebat. Akibat serangan itu akan berdampak produksi tidak maksimal baik jumlah maupun mutunya, bahkan dapat gagal panen dan petani akan mengalami kerugian. Oleh karena itu OPT bawang putih harus dikendalikan dengan baik.

 

13. Panen

 

Panen  merupakan proses pengambilan umbi bawang putih yang sudah menunjukkan ciri masak panen optimal, yaitu ada perubahan warna tangkai daun dari hijau segar menjadi kekuningan yang bukan disebabkan oleh penyakit, pangkal batang umbi bawang putih mulai mengeras dan umbi mulai keluar di permukaan tanah. Tanaman bawang putih dapat dipanen pada umur antara 105–110 hari.

 

Adapun cara panen bawang putih, sebagai berikut: 1) Sehari sebelum panen, lakukan penyiraman pada pagi hari dan pada sore harinya lakukan penggemburan lahan pertanaman bawang putih; 2) Sehari setelah digemburkan tanahnya, lakukan pencabutan tanaman bawang putih sampai semua umbi terangkat semua dan dengan hati-hati jangan sampai umbi patah; 3) Tanaman bawang putih yang telah dicabut diikat dan dikumpulkan di tempat yang teduh; 4) Bawang putih yang sudah dipanen ditimbang lalu dibawa ke tempat pengumpulan hasil panen untuk proses pasca panen.

 

  1.  Pasca Panen

 

Pasca panen bawang putih merupakan tindakan yang dilakukan setelah panen, mulai dari pembersihan, sortasi dan grading, penyimpanan, pengemasan.

 

 

 

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 081317575066).

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162