Loading...

Sinergi Penyuluh Swadaya Untuk Swasembada Pangan

10:08 WIB | Wednesday, 28-December-2016 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

 

Oleh: Yoyon Haryanto

 

Dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Bogor Mahasiswa Program Doktor Ilmu Penyuluhan Pembangunan IPB

 

Sepuluh tahun sejak diundangkannya sistem penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (UU No 16/2006, posisi penyuluh swadaya masih dipandang sebagai pembantu dari penyuluh pemerintah dalam menyampaikan program.

 

 

Penyuluh swadaya adalah petani yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. Upaya khusus (upsus) peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai (pajale) yang digencarkan oleh pemerintah saat ini, apakah dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menjaga eksistensi penyuluh swadaya?

 

Partisipatif

 

Penyuluh swadaya hadir karena adanya tuntutan pendekatan partisipatori agar petani dapat menjadi subjek dalam program pembangunan pertanian mulai dari tahap mengidentifikasi masalah, merencanakan, melaksanakan hingga tahap mengevaluasinya. Penyuluh swadaya memiliki keunggulan dalam melaksanakan perannya sebagai agen perubahan di perdesaan karena bagian dari komunitasnya dan lebih dipercaya oleh sesama petani. Hadirnya program upsus pajale seharusnya menjadi pembuktian keberadaan penyuluh swadaya di tengah-tengah petani.

 

Banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat dalam program upsus swasembada pangan, namun optimalisasi penyuluh swadaya secara eksplisit belum maksimal. Kenyataan di lapangan lebih dikenal dengan kontak tani, pemuda tani ataupun tokoh informal lainnya dibandingkan sebagai penyuluh swadaya, padahal secara nyata mereka adalah penyuluh swadaya yang telah diformalkan oleh instansi penyuluhan di level kabupaten.

 

Peran utama yang dapat dilakukan oleh penyuluh swadaya adalah menjadi pendamping teknis dan motivator sesama petani. Selama ini posisi tersebut dilakukan oleh penyuluh pemerintah (PNS dan Penyuluh Kontrak), namun dengan terus berkurangnya tenaga penyuluh karena moratorium pengangkatan dan tidak tercapainya satu desa satu penyuluh, petani seakan ditinggalkan oleh mitranya dalam mendampingi inovasi pertanian yang terus berkembang setiap saat. Prof Sumardjo, Guru Besar Ilmu Penyuluhan IPB mengatakan, keterbatasan kuantitas dan kualitas tenaga penyuluh merupakan kendala utama penyuluhan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162