Loading...

Sistem Pertanian Cerdas-Iklim Sedang Melaju

11:15 WIB | Tuesday, 10-May-2016 | Teknologi, Iptek | Penulis : Kontributor

Pasca Revolusi Hijau bermunculan  berbagai  konsep sistem pertanian yang menekankan keramahan terhadap lingkungan selain meningkatkan produksi.  Tetapi popularitas  aneka sistem baru seperti tersalib oleh konsep sistem Pertanian Cerdas-Iklim (climate-smart agriculture/CSA) yang muncul belakangan ini.  Hanya dalam 4 tahun sejak  kemunculannya, PBB sudah secara resmi menyatakan dukungan dan komitmen untuk penyebar luasan aplikasi CSA secara global, khususnya pada tingkat petani kecil.  

 

Dukungan itu ditandai dengan peluncuran Global Alliance for Climate-Smart Agriculture (GACSA) 14 September 2014 dalam Pertemuan Puncak PBB tentang Iklim (UN Climate Summit) di New York. Tujuan GACSA yang dikoordinasi oleh CGIAR itu adalah membantu sekitar 500 juta petani kecil dunia untuk mengadopsi sistem pertanian cerdas-iklim.  Gerakan aliansi global itu disusul terbentuknya aliansi-aliansi regional dan semacamnya untuk mempercepat aplikasi sistem CSA. Sementara itu inisiatip individual berbagai negara telah mulai menunjukkan  sejumlah contoh keberhasilan. Di antaranya sebagaimana diungkap oleh CGIAR  adalah wanatani (agroforestry) di Tanzania, keragaman genetik di Peru, dan lahan merumput berkelanjutan di Tiongkok.

 

Konsep CSA muncul dari tantangan perlunya terus meningkatkan  produksi pangan di tengah rongrongan perubahan iklim terhadap keberlanjutan produksi dan ketahanan pangan global. Konsep CSA diperkenalkan pertama kali oleh Badan Pangan dan Pertanian (FAO) PBB tahun 2010 pada Konferensi Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perubahan Iklim di Den Haag. FAOP mendefinisikan CSA sebagai “An approach that help to guide actions needed to transform and reorient agricultural systems to effectively support development and ensure food security in a changing climate” (suatu pendekatan yang dapat menuntun tindakan-tindakan yang dibutuhkan untuk mengubah dan mengarahkan kembali sistem pertanian agar secara efektif mendukung pembangunan dan  memastikan ketahanan pangan dalam iklim yang terus berubah”.

 

Tiga hal utama yang  menjadi sasaran pencapaian melalui CSA adalah: 1. Peningkatan berkelanjutan produktivitas dan pendapatan pertanian, 2. Mengadaptasi dan membangun ketangguhan  terhadap perubahan iklim, dan 3. Sedapat mungkin mengurangi dan atau meniadakan emisi gas rumahkaca.  Jadi, pada dasarnya CSA merupakan pendekatan pada pengembangan strategi pertanian untuk mengamankan ketahanan  pangan berkelanjutan dalam kondisi perubahan iklim.

 

Sebagai pedoman untuk adopsi dan aplikasi CSA, FAO tahun 2013 telah menerbitkan “Sourcebook on Climate-Smart Agriculture, Forestry and Fishery”. Buku ini dimaksudkan sebagai pedoman dan rujukan bagi para perencana, pengambil keputusan dan praktisi di semua tingkat. Buku ini berisi indikasi tentang unsur-unsur yang diperlukan untuk merumuskan pendekatan pertanian cerdas-iklim di sektor pertanian, termasuk pilihan-pilihan dan penghalang yang ada.

 

Pendekatan Terpadu

 

Mengenai dasar ilmiah CSA, salah satu Kertas Kerja Program Riset tentang Perubahan Iklim, Pertanian dan Ketahanan Pangan (CCAFS) CGIAR menekankan bahwa CSA bukan suatu perangkat praktek  untuk dilakukan oleh petani, tetapi lebih merupakan pendekatan terpadu implementasi kebijakan dan program pembangunan pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan, kehidupan dan ketangguhan dalam realita perubahan iklim, sementara secara bersamaan, di mana mungkin, meraih kemanfaatan  mitigasi.

 

Ada tiga prinsip yang perlu dipegang pada praktek manajemen tingkat usahatani. Pertama, CSA menghadapi risiko, yakni teknologi  yang digunakan bertujuan  menghadapi risiko yang terkait dengan iklim atau cuaca  seraya meningkatkan ketahanan pangan. Kedua, CSA memiliki manfaat berganda, yakni teknologi yang digunakan meraih paling sedikit dua manfaat di antara produktivitas, ketangguhan dan mitigasi, sementara produktivitas  merupakan prioritas bagi negara berkembang. Ketiga, CSA bersifat spesifik konteks ruang dan waktu, yakni teknologi yang digunakan secara sosial dan kultural sesuai untuk lokasi penggunaannya pada waktu tertentu.

 

CGIAR juga menekankan bahwa CSA bukanlah satu perangkat yang dapat digunakan  secara universal, tetapi lebih merupakan pendekatan yang melibatkan aneka unsur yang terdapat secara lokal.  Aneka unsur  berbeda tersebut yang perlu dipadu meliputi : Manajemen sumberdaya pertanian yang lebih baik, yakni menghasilkan lebih banyak dengan asupan lebih sedikit, seraya meningkatkan ketangguhan; Manajemen ekosistem dan lanskap untuk melestarikan pelayanan ekosistem yang berarti efisiensi sumberdaya dan meningkatkan ketangguhan; Lainnya, pelayanan pada petani dan manajer pertanahan untuk memungkinkan pelaksanaan perubahan yang diperlukan.

 

Kunci Keberhasilan

 

Direktur CCAFS CGIAR, Bruce Campbel menyebutkan elemen kunci yang diperlukan untuk keberhasilan CSA meliputi mekanisme komunikasi dengan petani yang  berjumlah besar yakni pelayanan informasi menggunakan mobile phones, radio dsb, kelompok petani yang terorganisasi dengan baik, kebijakan yang mengamankan hak penggarapan tanah dan lainnya.

 

CGIAR (2014) menginformasikan sejumlah contoh adopsi CSA yang mengindikasikan peluang melakukan perubahan cepat di bidang pertanian.  Di antaranya adalah pembangunan desa-desa cerdas-iklim (climate-smart villages) di Asia Selatan dan  Afrika yang menguji teknologi baru. Di India CSA dapat menghemat air irigasi secara drastis (30%) oleh perataan tanah dengan teknologi laser. Bekerjasama dengan ilmuwan, sekitar 1.000 desa cerdas-iklim di negara bagian Maharashta berhasil dalam berbagai upaya seperti penghematan pupuk hingga diversifikasi tanaman.

 

Masih di India, 13 juta petani memperoleh asuransi cuaca-terdaftar (weather-indexed insurance) yang didukung pemerintah untuk melindungi tanaman atau hewan peliharaan mereka.

 

Teknologi mobile termasuk mobile telephone sudah digunakan sebagai alat komunikasi dengan ratusan juta petani untuk mencegah gagal panen, tuntunan investasi, pelayanan lainnya. Petani di lokasi yang tak terjangkau penyuluh pertanian dapat terlayani untuk  berbagai informasi. Di Nigeria 14 juta petani  dilayani dengan telepon genggam  yang juga digunakan untuk mengirimkan kupon benih dan pupuk. Olson PS

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162