Loading...

Sistem Pertanian Konservasi,Jadikan Lahan Kering Optimal Menghasilkan

10:15 WIB | Saturday, 23-June-2018 | Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Bertanam jagung d lahan kering dengan sistem konservasi

Seiring dengan ditemukannya teknologi adaptif berupa sistem pertanian konservasi, lahan kering kini semakin optimal menghasilkan sekaligus menjadi harapan baru pertanian Indonesia di masa depan.

 

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Kementan Dedi Nursyamsi menjelaskan Lahan kering beriklim kering adalah hamparan lahan yang tidak tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun dan berada di daerah iklim kering. Indonesia sendiri memiliki luasan yang cukup besar untuk lahan kering, tercatat ada sekitar 7,7 juta ha.

 

Dedi menambahkan umumnya lahan kering memiliki C-organik tanah rendah, pH tinggi, dan kekurangan hara NPK dan hara mikro tanah. "Curah hujan tahunan rendah dengan jumlah bulan kering lebih dari tujuh bulan sehingga sering mengalami kekurangan air yang mengakibatkan produktivitas tanah rendah," kata Dedi. Dengan kriteria unik tersebut, lahan kering membutuhkan sistem pertanian yang berbeda dibandingkan bertanam di daerah lainnya.

 

Indonesia sendiri mempunyai impian besar untuk bisa menjadi lumbung pangan terbesar di dunia sehingga lahan kering pun menjadi perhatian utama dalam peningkatan produksi. Impian tersebut bisa semakin nyata dengan ditemukannya teknologi adaptif terhadap perubahan iklim global di wilayah tropis seperti sistem pertanian konservasi. Teknologi ini membuat tanah di wilayah beriklim kering menjadi lebih lembap. "Lahan yang semula kering hampir sepanjang tahun menjadi dapat ditanami dengan pertanian konservasi," ungkap Dedi.

 

Sistem pertanian konservasi dapat meningkatkan produktivitas lahan kering terutama lahan kering iklim kering. Sistem ini memadukan pengelolaan bahan organik, tanah, dan tanaman yang bertujuan meningkatkan produktivitas tanah secara berkelanjutan.

 

"Sistem pertanian konservasi terbukti sangat signifikan meningkatkan indeks pertanaman (IP) di lahan kering iklim kering dari 100 menjadi 200 alias petani bisa tanam 2 kali setahun dari semula setahun," tambahnya.

 

Bertanam Jagung

 

Keberhasilan sistem konservasi sudah terbukti dalam meningkatkan produksi jagung di musim kemarau.  Sistem ini sudah diterapkan di beberapa lokasi kerjasama Kementan melalui Badan Litbang Pertanian dengan FAO yang berada di NTT dan NTB diantaranya di Lombok Utara, Sumbawa Barat, Nagekeo, dan Sikka.

 

National Project Management FAO, Ujang Suparman menjelaskan sistem pertanian konservasi lebih selaras dengan perubahan iklim sehingga hasil meningkat dan kesuburan lahan juga dapat diperbaiki. Dengan sistem ini produksi jagung meningkat pada musim terdampak kekeringan.

 

Prinsip pertanian konservasi meliputi olah tanah minimum dan pengelolaan bahan organik. Misalnya dengan penutupan permukaan tanah dengan mulsa organik atau sisa tanaman dan rotasi atau tumpangsari tanaman utama dengan tanaman leguminoseae atau kacang-kacangan.

 

Direktur Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) Syahroni mengatakan langkah pemerintah Indonesia mengembangkan pertanian di lahan kering iklim kering mirip dengan negara-negara di Timur Tengah yang menghijaukan lahan gurun. "Secara prinsip tanah di daerah kering umumnya tergolong tanah muda yang belum melapuk sehingga cadangan hara tinggi walau belum dapat diserap tanaman," kata Syahroni.

 

Lahan kering iklim kering juga relatif memiliki pH netral sehingga unsur hara mudah tersedia bila dipasok dari luar. "Kesulitannya hanya air, tapi dengan kemajuan teknologi di masa depan maka air bukan masalah," kata Syahroni. Dengan kehadiran air, maka cadangan hara dalam tanah dapat larut sehingga tersedia bagi tanaman. (gsh)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162