Loading...

Teknologi Cabai di Musim Hujan

10:13 WIB | Monday, 15-February-2016 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Cabai kini menjadi komoditi yang mendapat sorotan tajam. Pasalnya, komoditi bumbu dapur ini kerap membuat ‘pedas’ pemerintah karena menjadi salah satu pengerek laju inflasi. Karena itu pemerintah memantau terus perkembangan komoditi ini. 

 

Dengan kebutuhan yang selalu meningkat tiap tahun. Tapi di sisi lain, pasokan tak selalu ada sepanjang bulan membuat harga cabai kerap bergejolak. Kondisi tersebut kemudian berimbas pada perekonomian nasional.

 

Dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 dari luas panen 126.790 ha, produksi cabai mencapai 1.061.428 ton. Dengan kebutuhan dalam negeri berkisar antara 720 ribu-840 ribu ton/tahun, Indonesia surplus cabai.  Dengan kebutuhan yang hampir tetap sepanjang bulan, perlu adanya pengaturan pola produksi agar tidak tergantung musim. 

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Yanuardi mengatakan, melihat kebutuhan yang terus meningkat, pihaknya mendapat tugas untuk bisa menye­diakan pasokan cabai tiap saat. “Salah satu yang kini tengah dilakukan adalah pengaturan pola tanam di sentra-sentra cabai,” katanya. 

Jika selama ini produksi cabai hanya fokus di Pulau Jawa, tapi kini pemerintah mendorong pengem­bangan di Sumatera, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara hingga Irian. Tujuannya agar bisa mandiri cabai bawang di daerah tersebut.

Dengan demikian, kebutuhan nasional selama setahun bisa terbagi-bagi pada masing-masing sentra. Untuk tahun 2016 ini, pengembangan budidaya aneka cabai akan dilaku­kan pada lahan seluas 15.167 ha di beberapa kawasan. 

Sementara itu Kepala Pusat Pene­litian Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, M. Prama Yufdi mengatakan, biasanya petani mena­nam cabai di musim penghujan kare­na terkait dengan pengairan. Padahal di musim penghujan, cabai lebih rentan terkena hama dan penyakit.  Karena itu, dia menghimbau, sebaik­nya petani menanam di musim kemarau. “Kalau dari kami (Puslit Horti), lebih baik menanam di musim kemarau dan panen musim penghujan. Sehingga tidak ada yang namanya gejolak harga,” sarannya.

Budidaya cabai seharusnya di­la­kukan pada April-September (in-season). Saat itu curah hujan mu­lai menurun dan serangan hama penyakit berkurang. Sedangkan pada Oktober-Maret (off season), produksi cabai mengalami penurunan 40-50% dan biaya produksi meningkat 30%. 

Prama mengaku, kendala uta­ma petani menanam cabai pada musim kemarau karena masalah air. Pasalnya, cabai merupakan tanaman yang banyak membutuhkan air, tapi tidak boleh berlebihan. Karena itu. petani lebih senang menanam cabai pada musim penghujan, meski resiko gagal panen lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. 

Untuk mengantisipasi agar pe­ta­ni mau menanam cabai di musim kema­rau, ada alternatif yang peme­rin­tah sarankan, yakni sistem irigasi sprinkle (teknologi penyiraman seca­ra semprot). Teknologi sprinkle ini meliputi tampungan air/tangki, pom­pa air dan pipa. Jadi nanti air keluar dari pipa tersebut.

 

Lebih Intensif

Tidak dapat dipungkiri untuk meng­hemat biaya usaha tani, petani cabai cenderung memilih tanam saat musim hujan. Namun yang patut petani perhatikan saat menanam cabai musim penghujan harus lebih intensif dibandingkan musim kemarau.

Sebab, menurut Yanuardi, saat musim hujan lebih banyak penyakit yang timbul. Misalnya, penyakit patek, penyakit karena bakteri Pseu­domonas solanacearum hingga penyakit keriting daun. Jadi meski cabai tergolong tanaman yang mem­butuhkan banyak air, tapi tidak bisa tergenang air. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah sekitar 600-1.200 mm/tahun. 

“Jika air hujan langsung jatuh ke tanah bisa menimbulkan bercak-bercak dan menimbulkan penyakit,” tuturnya. Untuk mengatasi penya­kit, lanjut Yanuardi, banyak tekno­logi seperti rain shelter yakni menggu­nakan plastik UV untuk memayungi pohon-pohon cabai. Teknologi ini, bisa mencegah air hujan agar tidak langsung terkena tanaman karena berbahaya bagi tanaman. 

Sedangkan dalam pembuatan naungan, Yanuardi mengingatkan, harus dirancang sesuai kondisi cua­ca di Indonesia. Bangunan screen­house merupakan bangunan semi permanen yang kerangkanya terbuat dari bambu.

Sementara Prama menyarankan, agar dalam pembuatan shading net tidak asal-asalan. Ada kriteria lubang pori agar cahaya dapat masuk sempurna, tidak mudah terkena terpaan air hujan dan angin. Lebih penting lagi, tidak mudah masuk OPT yang menyebabkan kerusakan pada tanaman.

Menurut Prama, banyak keun­tung­an menggunakan shading net. Di antaranya, intensitas caha­ya matahari berkurang 30-40%, kelembaban udara di sekitar ta­juk lebih stabil (60-70%), laju eva­po­transpirasi berkurang, terjadi kese­im­bangan antara ketersediaan air de­ngan tingkat transpirasi tanaman.

“Keuntungan lain adalah pro­duksi lebih tinggi, masa panen lebih panjang, dapat dikombinasikan dengan penggunaan predator dan parasitoid, serta penggunaan pestisida sintetik dapat ditekan,” tuturnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162