Loading...

Tumpangsari yang Menambah Keuntungan bagi Petani Singkong

09:49 WIB | Friday, 07-November-2014 | Pangan, Komoditi | Penulis : Ahmad Soim

Bagi petani yang terbiasa menanam ubi kayu, namun ingin mendapatkan tambahan penghasilan dari kacang-kacangan, padi gogo, kedelai, atau jagung, dapat menerapkan budidaya tumpangsari secara baris ganda (double row).

 

Menurut hasil penelitian Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) dengan pengaturan tanam double-row, petani dapat menanam dua kali tanaman kedelai, tanpa mengurangi hasil panenan ubi kayu. Petani bisa lebih cepat mendapat hasil tunai dari panen kedelai sembari menunggu tanaman ubi kayu bisa dipanen.

 

Sistem budidaya (pola tanam) tumpangsari ubikayu dengan kedelai di lahan kering sudah biasa dilakukan petani di Pulau Jawa. Beberapa keuntungan yang diperoleh petani dari sistem budidaya tumpangsari ini antara lain: 1) ruang kosong antar barisan tanaman muda ubikayu dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman kedelai, 2) petani memperoleh hasil panen dalam waktu singkat (80-85 hari) dari tanaman kedelai; 3) daun kedelai yang rontok dan perakaran kedelai yang membentuk bintil rhizobium menambah kesuburan tanah; 4) produktivitas lahan dan nilai ekonomi usahatani dalam satu tahun meningkat.

 

Teknik tumpangsari yang direkomendasikan Balitkabi ini menggabungkan tiga macam budidaya, yakni: 1) budidaya monokultur tanaman kedelai pada musim pertama (awal musim hujan), 2) tumpang-sisip dengan penanaman ubi kayu yang diatur secara baris ganda (double-row) (umur kacang tanah 20 hari), 3) budidaya lorong tanaman kedelai di antara ubi kayu pada musim kedua (menjelang akhir musim hujan). Walaupun populasi ubi kayu sedikit lebih rendah dibanding populasi monokultur (sekitar 90%), namun pada penanaman tumpangsari, hasil ubi kayu per pohon lebih tinggi sehingga hasil total lebih tinggi daripada monokultur.

 

Cara Tanam

 

Cara penanaman kedelai dan ubi kayu double-row. Pertama, waktu tanam pada awal Musim Hujan Pertama (MH-1). Kedua, kacang tanah ditanam dengan populasi 100% (sebagaimana budidaya monokultur biasa); Ketiga, stek ubi kayu ditanam setelah tanaman kedelai berumur 20 hari;

 

Keempat, ubi kayu ditanam secara baris ganda dengan jarak tanam (60x70) x 260 cm. Jarak tanam 60 x 70 cm adalah jarak tanam ubi kayu dalam baris ganda, sedangkan 260 cm adalah jarak antar baris ganda ubi kayu (lihat gambar); Kelima, penanaman kedelai kedua akhir MH-2; Keenam, setelah kedelai dipanen, maka tersedia ruang di antara baris ganda ubi kayu selebar 260 cm. Di antara lorong tersebut dapat ditanam kacang-kacangan sebanyak 5 (lima) baris dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 35 x 20 cm. Dengan jarak tanam ini populasi sekitar 70% dari

monokultur. Som/Balitkabi

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162