Loading...

Usaha Peternakan Kelinci Prospektif

22:49 WIB | Friday, 08-August-2014 | Komoditi, Ternak | Penulis : Julianto

Meningkatnya permintaan aneka jenis produk asal kelinci menjadikan usaha budidaya ternak kelinci kian prospektif.  Sentra-sentra peternakan kelinci pun bermunculan dimana-mana termasuk di Kabupaten Malang yang kini menjadi lokasi pelaksanaan Penas ke-14.

 

Menurut Ketua Himpunan Masyarakat Perkelincian Indonesia (Himakindo) Jawa Timur, Winarto,  di Kabupaten Malang saat ini diperkirakan jumlah populasi kelinci sudah mencapai sekitar 70 ribu ekor yang tersebar di 16 kecamatan dengan jumlah peternak mencapai 1.700-an orang.

 

Karena mayoritas masyarakat Malang memelihara kelinci maka belakangan pemerintah pusat melalui Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan  telah mencanangkan Malang sebagai Kabupaten Kelinci.  “Dominan di sini masyarakat memelihara kelinci jenis Malangan,” jelasnya.

 

Pemeliharaan kelinci oleh masyarakat Malang, menurut Winarto, bisa untuk tujuan menghasilkan kelinci “souvenir” yang dipanen pada saat masih anakan dan dijual di tempat wisata, untuk diambil dagingnya atau ada juga untuk dimanfaatkan bulunya.

 

Permintaan untuk tujuan “souvenir” dari waktu ke waktu terus meningkat seiring dengan tingginya kunjungan wisata ke wilayah Jatim khususnya sekitar Kota Malang. Seiring dengan itu harga kelinci  untuk oleh-oleh ini terus meningkat di pasaran. Kini harga per ekor mencapai Rp 17.500. ”Selain di daerah wisata, kelinci souvenir juga banyak diperdagangkan di Pasar Burung Surabaya,” tuturnya.

 

Tingginya minat memelihara kelinci karena belakangan ada permintaan besar dari dunia kedokteran dan farmasi, juga dari industri olahan termasuk hotel dan restoran. Permintaan daging kelinci ke pihaknya bisa melebihi 2 ton per minggu, sementara pihaknya baru bisa memenuhi  400 kg saja.

 

Keistimewaan

 

Saat ini banyak juga permintaan dalam bentuk daging beku dari hotel dan restoran di Jakarta dan Bali. Untuk pasar premium ini yang diinginkan adalah daging dari kelinci yang dipotong setelah berat karkas mencapai 1,2 kg  atau 2,3 kg berat hidup.

 

Usaha beternak kelinci menurut Winarto tidak sulit dilakukan. Dalam kondisi harga pakan jadi yang mahal peternak jangan hanya mengandalkan pakan jadi tetapi bisa memanfaatkan pakan berupa limbah pertanian yang ada di sekitar rumah.

 

Dari usaha peternakan bukan hanya dihasilkan daging dan bulu tetapi juga kotoran dan urin yang permintaannya juga cukup tinggi di masyarakat, Urin dalam hal ini dimanfaatkan untuk campuran memproduksi pestisida nabati yang diperlukan untuk kegiatan usaha pertanian organik.

 

Daging kelinci banyak disukai masyarakat Malang karena seratnya halus, kadar kolesterolnya paling rendah dari jenis daging lain sehingga baik bagi kesehatan. Selain itu kandungan protein daging kelinci juga tinggi.

 

Namun dalam memasarkan kelinci memang ada hambatan psikologis karena pada dasarnya kelinci banyak dipelihara sebagai hewan kesayangan. “Banyak yang tidak tega melakukan pemotongan kelinci  karena bentuknya yang lucu. Kalau sudah demikian, baiknya ya bergerak di bisnis daging kelinci beku,” tandasnya.

 

Infestasi untuk melakukan usaha peternakan kelinci juga relatif tidak besar, dengan pengeluaran modal Rp 10 juta diperkirakan setiap bulan bisa mendapatkan penghasilan Rp 1,5 juta. Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162