Loading...

Usaha Ternak Ayam Masih Terbelit Banyak Masalah

09:44 WIB | Tuesday, 08-May-2018 | Komoditi, Ternak | Penulis : Gesha

Para peternak ayam mandiri masih menghadapi banyak masalah dalam menjalankan usaha budidaya ternaknya sehari-hari. Diperlukan solusi yang komprehensif agar mereka bisa bertahan melanjutkan Usahanya.

 

“Melalui rakernas kali ini kami akan membahas langkah strategis jangka pendek, menengah dan jangka panjang dalam menghadapi permasalahan yang ada dan agar kesejahteraan peternak ayam di tanah air meningkat,” ujar Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan), Herry Dermawan saat pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gopan di Bogor, Jumat lalu (4/4).

 

Herry menjelaskan, peternak kini dihadapkan pada hal-hal yang semakin sulit, bukan hanya menyangkut teknis berbudidaya tetapi juga persoalan di luar kemampuan peternak sendiri seperti kondisi iklim, peningkatan harga sarana produksi sampai pada dampak pelarangan penggunaan antibiotic growth promoters (AGP).

 

“Belum lagi yang terkait dengan kebijakan atau regulasi pemerintah serta Keputusan WTO terkait perunggasan,” ujarnya. 

 

Permentan tentang perunggasan sudah tiga kali di update, namun menurut Herry, belum berdampak positif bagi peternak. Mulai dari Permentan 26/2016, Permentan 61/2016 sampai Permentan 32/2017 isinya sangat ideal untuk peternakan Indonesia, namun implementasinya di lapangan masih belum berjalan baik.

 

"Contohnya, ada aturan DOC distribusinya nanti 50 persen untuk peternak kecil (mandiri) dan 50 persen untuk peternak plasma. Tetapi kenyataannya, peternak mandiri masih kesulitan memperoleh DOC," tuturnya. 

 

Tak hanya itu, permasalahan HPP DOC yang sudah diatur dalam Permendag 27/2017 juga masih belum bisa diterapkan di pasar. "Harga acuan DOC Rp 4.600, tetapi hingga hari ini harga sudah mencapai Rp 5.800. Itu juga kalau beli langsung, beli ke agen bisa sampai Rp 7.500 per ekor," tukasnya. 

 

Diberlakukannya pelarangan Antibiotic Growth Promoter (AGP) juga ternyata berakibat pada masa panen ayam yang mundur 3 hari sehingga dibutuhkan penambahan biaya pakan. "Mundur 3 hari itu berarti nambah biaya sekitar 10 persen," tutur Herry.

 

Kebijakan lainnya yang tengah memukul peternak adalah kekalahan Indonesia dalam WTO atas Brazil dalam upaya pemasukan produk unggas dari negara Samba tersebut. "Peternak di sana sudah sangat efisien dan biaya produksi sangat murah. Kalau dia masuk dengan harga murah maka harga ayam akan turun drastis, peternak akan rugi dan akhirnya tutup," urainya.

 

Herry menilai peranan peternak mandiri menjadi sebuah keniscayaan dalam isu tersebut. "Tentunya menjadi tugas pemerintah dalam penguatan dan perlindungan pelaku perunggasan khususnya peternak ayam mandiri," tegasnya. Gsh/Ira

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162