Loading...

Waspadai Ancaman Antimikroba, Pemerintah Gelar Pekan Kesadaran Antibiotik

15:12 WIB | Wednesday, 08-November-2017 | Nasional | Penulis : Julianto

Bahaya di balik penggunaan antibiotik ternyata ada di depan mata. Untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba dari mengonsumsi antibiotik, Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menggelar “Pekan Kesadaran Antibiotik”, mulai 13 – 19 November 2017. 

 

“Kegiatan ini merupakan kampanye global peduli penggunaan antibiotik sebagai salah satu wadah untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat mengenai ancaman resistensi antimikroba”, kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita saat Media Briefing, di Jakarta, Rabu (8/11).

 

Ketut Diarmita mengakui, antibiotik merupakan salah satu temuan yang sangat penting bagi dunia, mengingat manfaatnya bagi kehidupan, terutama melindungi kesehatan manusia, hewan, dan kesejahteraan hewan. Namun ibarat “pisau bermata dua”, penggunaan antibiotik yang tidak berlebihan, justru menjadi pemicu terhadap kemunculan bakteri yang tahan atau kebal terhadap efektivitas pengobatan antibiotik tersebut.

 

Penggunaan antibiotik yang berlebihan akan menimbulkan Resistensi Antimikroba (AMR) dalam tubuh. Hal ini telah menjadi ancaman tanpa mengenal batas-batas geografis, dan berdampak pada kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

 

“Untuk itu, harus kita sadari bahwa ancaman Resistensi Antimikroba juga merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan ketahanan pangan, khususnya bagi pembangunan di sektor peternakan dan kesehatan hewan,” ungkapnya.

 

Laporan berbagai negara mencatat adanya peningkatan laju resistensi dalam beberapa dekade terakhir. Disisi lain penemuan dan pengembangan jenis antibiotik (antimikroba) baru justru berjalan sangat lambat.

 

Para ahli di dunia memprediksi, jika masyarakat global tidak melakukan sesuatu dalam mengendalikan laju resistensi ini, maka AMR akan menjadi pembunuh nomor satu didunia pada tahun 2050. “Tingkat kematian akibat AMR mencapai 10 juta jiwa per tahun, dan kematian tertinggi terjadi di kawasan Asia,” ujar Ketut.

 

Ketut berpendapat, bahaya resistensi antimikroba erat kaitannya dengan perilaku pencegahan dan pengobatan, dan sistem keamanan produksi pangan dan lingkungan. Karena itu, diperlukan pendekatan “One Health” yang melibatkan sektor kesehatan, pertanian (termasuk peternakan dan kesehatan hewan) serta lingkungan. “Penanganan AMR membutuhkan pendekatan yang multi dimensi, multi faktor, dan multi stakeholder,” tegasnya. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162