Loading...

Winarno Tohir : Hari Krida Pertanian Waktunya Bangkitkan Kebanggan Bertani

15:45 WIB | Saturday, 23-June-2018 | Opini, Kontak Tani Sukses, Suara Tani | Penulis : Gesha

Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir

Hari Krida Pertanian yang jatuh di tanggal 21 Juni setiap tahunnya sudah seharusnya menjadi waktu untuk membangkitkan kebanggaan bertani meskipun di tengah-tengah perubahan iklim ekstrim. Stakeholder pertanian pun senantiasa berjuang untuk memberikan kebijakan pro petani dan bersama-sama menapaki optimisme lumbung pangan dunia 2045.

 

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengungkapkan Hari Krida Pertanian tak hanya diperingati secara seremonial belaka tetapi bagaimana membangkitkan kebanggaan petani Indonesia. Terlebih di tengah era perubahan iklim yang terjadi secara global, dan memaksa petani beradaptasi jika tidak ingin merugi.

 

Sebelumnya, Petani selalu mengikuti pranata mangga berdasarkan ilmu alam. "Musim tanam sebelum ada anomali iklim ada istilah OKMAR dan ASEP tapi sekarang sudah berubah setelah ada perubahan iklim ekstrim," tuturnya ketika dihubungi Tabloid Sinar Tani Online.

 

Kini, Petani Indonesia terbiasa dengan kalender tanam terpadu yang diperkenalkan sejak 2007 dan semakin diperbaharui dengan sistem Informasi terkini serta agroekologi setempat.

 

Tak hanya itu, Winarno mengungkapkan petani juga diberikan subsidi oleh pemerintah dalam bentuk asuransi pertanian yang telah banyak dirasakan oleh petani. "Petani hanya cukup bayar Rp 36 ribu dan bisa mendapatkan Rp 6 juta per ha jika terjadi gagal panen," tutur Winarno.

 

Petani juga dibantu lewat program rehabilitasi jaringan irigasi seluas 3,05 juta ha (52 %) sejak awal dibangun dengan pinjaman Bank Dunia, Pembuatan embung/long storage/dam parit 3.771 unit, Bantuan alat mesin pertanian untuk mempercepat kenaikan IP 180.000 unit (2000 %),

 

Kemudanan kebijakan tersebut merupakan bentuk tindakan (krida) yang pro kepada petani dan implementasi UU Nomor 19/2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Tak hanya itu, pemerintah juga tidak menginginkan petani kehilangan kebanggaan (lost pride) akan pertanian bahkan kebanggaan akan negeri Indonesia. "Sebab, pangan (pertanian) bukan hanya merupakan komoditas dan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap orang melainkan juga merupakan kepentingan nasional dan keamanan nasional bagi sebuah negara," jelasnya.

 

Winarno menambahkan, tanpa terjamin dan ketersediaan pangan yang memadai, tidak mungkin suatu bangsa dan negara akan mampu mempertahankan keberlangsungannya. "Ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan adalah tujuan bangsa Indonesia saat ini dan dimasa datang dalam rangka mencapai cita-cita kemerdekaan," tegasnya.

 

Harapan Lumbung Pangan

 

Winarno juga optimis jika Indonesia bisa bersama menapaki cita-cita besar menjadi lumbung pangan dunia 2045 mendatang. Sebab beragam faktor pendongkrak produksi di Indonesia terus ditingkatkan bersama. Mulai dari peningkatan sarana prasarana, penggunaan lahan suboptmal dan lahan tidur hingga peningkatan Indeks Pertanaman (IP). "Apabila potensi lahan yang ada dimaksimalkan serta dicukupi sarana poduksinya maka Indonesia akan menjadi Lumbung Pangan Dunia menjadi kenyataan," tuturnya.

 

Winarno menambahkan, terget produksi sebanyak 54,4 juta ton pada tahun 2025 akan tercapai karena birokrasi yang mampu menghasilkan kebijakan yang memihak dan memberdayakan petani, sebagai bentuk insentif yang akan berkontribusi pada peningkatan produksi dan produtivitas pangan.

 

Tingginya produksi pangan nasional 2015-2025 bisa membuat surplus pangan yang akan membuat ketersediaan pangan nasional tercukupi. Terjaminnya stock pangan nasional nantinya membuat Indonesia tidak melakukan impor dan aksesibilitas masyarakat Indonesia terhadap pangan akan meluas, termasuk terjadinya pemerataan stock antar waktu dan antar wilayah yang merupkan tugas dan tanggungjawab dari BULOG . Terjaminnya stock pangan membuat stabilitas pangan masyarakat akan terjaga serta terjamin keberlanjutannya sampai tahun 2045.

 

Dengan ketersediaan pangan yang mencukupi, aksesibilitas yang meluas, dan stabilitas pangan yang terjamin, maka tingkat keamanan dan kualitas pangan rakyat Indonesia akan semakin membaik. 

 

Permasalahan masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi, busung lapar, dan kelaparan akan terselesaikan karena gizi yang baik SDM petani kelas akan benar-benar cerdas, tangguh, dan mampu bersaing di dunia internasional.

 

Kondisi tersebut ideal bagi bangsa Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah lohjinawi tata tentrem kertaraharja dengan ketahanan pangan yang kuat, kokoh, dan berkelanjutan.

 

"Kondisi ideal ini akan memperkuat ketahanan dan keamanan pangan nasional.  Bangsa Indonesia akan makmur dan sejahtera sehingga tidak ada gejolak dan politik yang dapat mengganggu keamanan nasional," tutup Winarno.

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162