Rabu, 17 Oktober 2018


Kreatif, Buat Kincir untuk Putar Air Saat Kekeringan

24 Sep 2018, 17:17 WIBEditor : Gesha

Kincir air jadi andalan petani untuk bisa memutar air saat kekeringan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Sebagian wilayah Indonesia terutama di Pulau Jawa saat ini tengah dilanda kekeringan. Tak mau berpangku tangan pasrah pada kondisi yang terjadi, petani di sejumlah daerah pun harus putar otak. Salah satunya dengan membuat kincir air.

Seperti yang dilakukan masyarakat petani di Kampung Palagantiga, Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi yang membuat kincir air tradisional secara gotong royong.

“Debit air di saluran irigasi terus menyusut, jika ini dibiarkan para petani disini yang lahan sawahnya mengandalkan air dari sarana irigasi tidak bisa melakukan penanaman,” kata warga Kampung Palagantiga, Desa Bojongtipar, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Amin Nursalim.

Warga secara gotong royong membuat kincir air raksasa dan dibuat secara swadaya. "Kami tempatkan di Sungai Cikaso, fungsinya menaikkan air dari sungai lalu mengalirkannya ke sawah warga,” tuturnya.

Cara kerja kincir ini masih sederhana. Air dari sungai diambil oleh potongan bambu yang menempel di kincir tersebut. Potongan bambu yang terus berputar lalu menumpahkan air saat posisi bambu berada di atas.

Tumpahan air kemudian ditampung di sebuah talang yang kemudian mengalirkan air ke sawah yang kekeringan. “Satu kincir bisa mengairi dua ha sawah,” katanya.

Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kincir air tersebut meliputi bambu, papan, kayu, dan paku dengan empat batang bambu yang masing-masing panjangnya 10 meter.

“Total biaya untuk bahan saja sekitar Rp 1,5 juta. Kalau ongkos tukang tidak dibayar, karena kami membuatnya secara gotong royong. Warga menyumbang tenaga, dalam waktu sehari kincir air ini sudah beres,” ucap Amin.

Teknis perawatan kincir air buatan warga Jampang Tengah ini cukup simpel. “Hanya perlu dikontrol saja, khawatir ada bambu yang lepas. Kincir ini juga awet, bisa tahan setahun. Sepanjang ada air sungai, kincir tidak akan berhenti,” katanya.

Pembuatan kincir air oleh masyarakat Jampang saat musim kemarau sudah dilakukan sejak dulu dan merupakan upaya turun temurun. Bahkan, jika kemarau panjang cukup lama, jumlah kincir yang berada di aliran Sungai Cikaso bisa lebih banyak. “Dulu pernah ada sebelas kincir,” katanya.

Manfaat kincir ini dirasakan betul oleh petani, salah satunya Eva. Sawah milik ayahnya seluas 2 ha sebelumnya tidak bisa diairi. Beruntung, ada kincir air yang dibuatnya bersama warga lain. “Sudah tidak bisa ditanami jika tak ada kincir air,” tegasnya.

Kehadiran kincir air buatan warga, lanjut Eva, membuat hasil produksi padi meningkat. “Kualitas air dari Sungai Cikaso sangat bagus. Produksi padi bisa naik sekitar 15 persen,” ucapnya.

Pengairan sawah dengan kincir air juga sangat hemat jika dibandingkan dengan pemakaian genset. “Genset kan butuh bahan bakar. Kalau kincir tidak perlu, dan bisa beroperasi siang-malam 24 jam,” pungkasnya.

Reporter : Gesha

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018