Rabu, 17 Oktober 2018


Terapi Kecantikan dengan Pangan Lokal

06 Okt 2018, 06:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Dirjen Hortikultura Suwandi melihat test pangan lokal buat terapi kesehatan dan kecantikan internal di daerah wisata Bali | Sumber Foto:Ditjen Hortikultura

Pangan lokal dengan terapi tertentu bisa memberikan kesehatan badan dan kecantikan internal.



Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) bersama praktisi kesehatan untuk meningkatkan konsumsi atau kecintaan terhadap pangan lokal melalui uji kinesiologi semakin ramai disosialisasikan di kalangan masyarakat terutama daerah wisata. Kali ini, bertempat di Danau Batur Kabupaten Bangli, Bali yang ramai dikunjungan wisatawan domestik maupun manca negara menjadi tempat sosialisasi keunggulan pangan lokal terhadap stamina tubuh, Jumat (5/10).

Kegiatan ini dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, praktisi kesehatan, dr. Hanson, Jajaran SKPD Kabupaten Bangli, Buleleng dan Karangasem serta Dinas Pertanian Provinsi Bali, Asosiasi dan Pengelola Usaha Wisata, Tour Guide, Pelaku Usaha Pangan Lokal, Tokoh Adat dan Petani.

Praktisi kesehatan, dr. Hanson menjelaskan bahwa pangan lokal seperti kopi, kedelai, kentang dan lainnya dapat meningkatkan dan mengembalikan stamina tubuh seperti stamina nenek moyang dan menampilkan inner beauty. Pangan lokal merupakan warisan nenek moyang ini untuk disebar luaskan kepada publik, sehingga mereka memahami manfaatnya.

“Uji kinesiologi tentang kehebatan pangan lokal ini juga dapat dijadikan salah satu atraksi daya tarik wisatawan asing di wilayah Gunung Batur dan Danau Batur.  Para wisatawan dikenalkan dengan mencicipi pangan lokal dan diterapi cara pernapasan dan naik turun tangga semakin terasa ringan, kaki tidak pegel, ada dorongan dan tidak lelah. Bahkan malam harinya saat tidur pulas dan bangun tidur terasa enteng, enak di badan,” demikian jelas dr. Hanson.

“Tidak hanya beragam, tanaman pangan, buah,  sayur, serta hasil perkebunan yang tumbuh di Indonesia memiliki kualitas tersendiri yang mampu bersaing dibanding negara lain. Secara tidak langsung, ternyata ada korelasi antara kualitas tanaman dengan kondisi psikolgis masyarakat sekitar,” tambahnya.

Terapi dilakukan dengan cara melalui uji terhadap peserta yang hadir di Danau Batur. Menurut dr. Hanson, Kinesiology adalah teknik untuk melihat kemampuan tubuh melalui respon otot. Dengan metode ini, tubuh mampu memilih makanan yang cocok dan baik melalui respon otot.

Lebih lanjut dijelaskanya, secara ilmiah tubuh memiliki kecerdasan tubuh untuk mengenal makanan yang baik. Mengonsumsi makanan yang baik juga perlu ditunjang dengan olah dan sikap tubuh yang baik. Ini dikenal dengan Langkah Hanara (Happy, Natural, Radiant ).

“Ilmu ini digunakan praktisi kesehatan di seluruh dunia untuk menemukan hal ideal bagi kesehatan tubuh melalui tes otot. Prinsipnya sederhana. Respon uji kinesiologi pada setiap input positif akan menguat. Bila tidak, terjadi sebaliknya. Secara sederhana disebutkan bahwa tubuh tidak pernah berbohong,” bebernya.

‘Setelah mengenal manfaat pangan lokal ini diharapkan masyarakat lebih mencintai pangan nusantara, menghargai produk petani sendiri.  Bahkan wisatawan mancanegara pun menjadi tertarik pada pangan Indonesia, karena mereka butuh sehat dan stamina kuat,” sambungnya.

Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi mengatakan program konsumsi pangan lokal dan cintai produk petani ini dipastikan lebih banyak menjangkau banyak kalangan. Sehingga, konsumsi pangan impor semakin berkurang dan produksi pangan lokal semakin bergairah.

“Minat wisatawan mengonsumsi pangan lokal akan menggairahkan petani kita memproduksi lebih banyak dan lebih bagus lagi,” ujarnya.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018