Rabu, 17 Oktober 2018


Kebun Kakao Lampung Timur Berpotensi Jadi Agrowisata

11 Okt 2018, 18:33 WIBEditor : Gesha

Petani Kakao Lampung Timur berpotensi untuk diarahkan menjadi agrowisata | Sumber Foto:Indarto

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Budidaya kakao yang dilakukan sejumlah petani Provinsi Lampung Timur di lahan sekitar 300 ha diharapkan bisa menjadi kawasan agrowisata berbasis kakao. Bahkan petani kakao yang tersebar di Kecamatan Sekampung Udik, Marga Tiga,  Sukadana, dan Bandar Sri Bawono, Provinsi Lampung kedepannya diharapkan bisa mengolah biji kakao sendiri menjadi cokelat siap saji yang bernilai ekonomi tinggi.

“Kurun dua tahun terakhir, petani kakao di Lampung Timur sudah mulai budidaya kakao dengan teknik sambung pucuk. Setelah berhasil tanam dengan baik, petani kakao ke depan kami harapkan bisa mengolah biji kakao  menjadi cokelat atau aneka olahan berbahan baku cokelat  khas Lampung Timur,” kata salah satu petani kakao Lampung Timur, Riswanto, di Jakarta (11/10).

Menariknya, kebun kakao di Lampung Timur  sangat potensial dikembangkan menjadi agrowisata. “Nantinya, petani kakao tak hanya fokus budidaya saja. Tapi, mengembangkan olahan kakao sendiri. Wisatawan selain bisa menikmati keindahan pohon kakao yang sedang berbuah, bisa langsung membeli cokelat atau buah tangan lainnya dari bahan baku kakao,” bebernya.

Setelah kakao yang dikembangkan petani  bisa disulap menjadi agrowisata, diharapkan kesejahteraan petani akan meningkat. “Petani kakao yang selama ini hanya menjual biji kakao nantinya bisa mendapatkan nilai tambah. Wisatawan bisa menikmati olahan kakao yang sudah difermentasi. Wisatawan juga bisa membeli olahan kakao langsung ke petaninya,” kata Riswanto.

Tak banyak yang tahu jika Provinsi Lampung menyimpan potensi pertanaman kakao yang baik. Khususnya di Lampung Timur, petani sudah banyak yang bisa menghasilkan produksi yang bagus dengan teknik sambung pucuk.

Kakao yang ditanam dengan teknik sambung pucuk ini pada umur 9 bulan sudah mulai belajar berbuah. Pada usia 15 bulan,  kakao sudah mulai berbuah dengan produktivitas sebanyak 2 kg per pohon.

Riswanto juga mengatakan, saat ini kakao yang dibudidaya sejumlah petani Lampung Timur tumbuh dengan baik. Kakao yang ditanam pun bisa tumbuh dengan subur di musim kemarau. “Sehingga banyak petani lainnya di luar Lampung Timur tertarik untuk menanam  kakao  Masamba Coco Clone (MCC) yang kami kembangkan,” ujarnya.

Meski banyak petani tertarik berbudidaya kakao, menurut Riswanto, persediaan bibit kakao sambung pucuk sangat terbatas. Riswanto yang juga selaku penangkar bibit kakao ini pada tahun 2016 hanya mampu menyediakan bibit kakao sebanyak  4.000 batang. Selanjutnya, pada tahun 2017  sebanyak 10.000 batang, dan pada tahun  2018  sebanyak  35.000 batang.

“Pada tahun 2019 kami harapkan, persiapan bibitnya bisa meningkat sampai 70.000 batang. Karena permintaannya meningkat dua kali lipat,” jelas Riswanto. (idt)

 

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018