Rabu, 17 Oktober 2018


PPDPI Solusi Bertani di Musim Kemarau

11 Okt 2018, 17:32 WIBEditor : Gesha

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Yanuardi menyebutkan kegiatan PPDI yang dimulai sejak 2015 ini merupakan teknologi sederhana yang diterapkan oleh kelompok tani sesuai dengan kriteria dan spesifikasi lahannya. | Sumber Foto:Tiara

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Musim kemarau yang masih berlangsung hingga Oktober kali ini, diprediksi mempengaruhi produksi padi nasional. Namun, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) menyiasati hal tersebut dengan program Penerapan Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PPDPI) untuk merangsang kemandirian petani beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Yanuardi menyebutkan kegiatan PPDI yang dimulai sejak 2015 ini merupakan teknologi sederhana yang diterapkan oleh kelompok tani sesuai dengan kriteria dan spesifikasi lahannya. Dan dilakukan melalui penerapan teknologi adaptif di lahan usahataninya terutama di wilayah yang rawan banjir/kekeringan. Tahun ini kegiatan PPDPI dialokasikan sebanyak 40 unit (400 ha) yang tersebar pada 18 provinsi.

Pada wilayah rawan banjir, teknologi yang diterapkan adalah biopori, sedangkan pada wilayah rawan kekeringan sumur suntik/pantek sebagai alternatif atau solusi pengairan pada saat mengalami keterbatasan air akibat sungai dan irigasi yang kering.

Dengan memanfaatkan air dalam tanah, dibuatlah titik sumur untuk selanjutnya di pompa menggunakan mesin pompa portable. Dan pengggunaan teknologi biopori maupun sumur suntik, tidak saja di satu musim tanam tetapi dapat digunakan secara berkelanjutan pada musim tanam selanjutnya.

Beberapa wilayah di Indonesia memang terkenal langganan kekeringan. Kasubdit Penanggulangan Dampak Perubahan Iklim, Baskoro Sugeng Wibowo mencontohkan desa rawan kekeringan di Desa Margosari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daerah tersebut merupakan daerah yang rawan kekeringan karena lokasinya di hilir sehingga mendapatkan giliran air terakhir. "Ketika debit air mulai berkurang bisa dipastikan lahan-lahan di Kelompok Tani Suka Tani akan mengalami kekeringan," tambah Baskoro.

Menyikapi hal tersebut, Kelompok Tani Suka Tani yang ada di wilayah tersebut dijadikan sebagai salah satu kelompok pelaksana kegiatan PPDPI. Pemilihan teknologi adaptif di Kelompok tersebut adalah sumur suntik/pantek, dengan membuat kedalaman 20 meter yang dapat menyedot air tanah hingga dapat mengairi pertanaman.

"Kelompok yang memiliki luas baku lahan 15 ha, membuat 15 titik sumur dengan anggaran yang difasilitasi oleh Kementan dan didukung dengan dana swadaya petani, sehingga keseluruhan luasan kelompok dapat diairi dengan sumur suntik/pantek," pungkasnya.

Selain penggunaan teknologi adaptif juga dilakukan pertemuan kelompok sebagai ajang diskusi bagi anggota kelompok selama mengikuti kegiatan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan kemandirian petani dalam penanganan dampak perubahan iklim.

"Keberhasilan panen di tengah musim kemarau menjadi bukti bahwa DPI bukan menjadi halangan, justru menjadi tantangan agar petani lebih mandiri dan memiliki kemampuan dalam penanganan DPI di lahan usaha taninya," tutupnya.

 

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018