Rabu, 17 Oktober 2018


Bantu Atasi Stunting, Inpari 46 Nutri Zinc Siap Disebar

09 Okt 2018, 16:53 WIBEditor : Gesha

Gabah dan beras galur IR97477-115-1-CRB-0-SKI-1-SKI-0-2 (Inpari 46 Nutri Zinc), serta varietas pembanding. | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Hingga kini varietas padi yang ada masih memiliki kandungan Zn (Zinc) yang rendah. Karena itu, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) berinisiatif meluncurkan Inpari 46 Nutri Zinc.

"Dalam upaya meningkatkan nilai gizi sekaligus untuk mengatasi kekurangan zat besi pada masyarakat, kami melakukan langkah melalui biofortifikasi, yaitu perakitan varietas padi dengan kandungan Zn tinggi," kata Kepala BB Padi Priatna Sasmita.

Hal ini dilakukan karena kekurangan zat besi masih menjadi permasalahan serius bagi dunia dan Indonesia. Sekitar 30 persen penduduk dunia termasuk Indonesia terutama anak-anak.

Kekurangan zat besi ini sangat berpengaruh pada menurunnya daya tahan tubuh, produktivitas, dan kualitas hidup manusia, termasuk salah satu faktor kekerdilan atau stunting yang prevalensinya cukup besar dan merata di Indonesia.

Perakitan varietas padi unggulan ini juga penting karena hingga sekarang, beras masih menjadi makanan pokok utama masyarakat Indonesia. Namun sayangnya, kandungan zinc dalam varietas yang sudah ada masih rendah.

Adalah Inpari 46 Nutri Zinc yang sudah lulus untuk dilepas sebagai varietas unggul oleh tim penilai pelepas varietas tanaman pangan, dibawah koordinasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan pada sidang pelepasan varietas.

Varietas Inpari 46 Nutri Zinc memiliki kadar amilosa 16,6 persen dan potensi kandungan Zn 34,5 ppm. Dimana, kandungan zinc pada varietas unggul yang selama ini ada hanya 29 ppm.

"Sehingga sangat prospektif untuk dilepas sebagai varietas padi unggul baru dengan keunggulan kandungan Zn tinggi, produktivitas tinggi, tahan WBC, Blas, dan Tungro, serta rasa nasi enak dan pulen”, ungkap Priatna.

Pelepasan varietas baru ini diharapkan akan mampu meningkatkan nilai gizi masyarakat Indonesia pada umumnya dan khususnya dibeberapa tempat dapat mengatasi kondisi gizi Zn buruk yang ditandai antara lain dengan adanya prevalensi kekerdilan (stunting) yang tinggi.

Sedangkan untuk petani,  diharapkan bisa memberikan alternatif bahan tanaman bermutu di lahan sawah irigasi dengan kandungan gizi Zn tinggi, rasa nasi disukai, relatif tahan terhadap hama/penyakit utama, dan daya hasil relatif tinggi.

Mudah-mudahan setelah SK pelesapasan varietas tersebut terbit, benihnya dapat segera diperbanyak agar bisa segera dikembangkan untuk dimanfaatkan petani. Kedepan, varietas ini akan menunjang upaya menjaga ketahanan gizi masyarakat dan ketahanan pangan nasional," terang Priatna.

Rintisan Panjang

BB Padi sebenarnya menyodorkan tiga galur harapan untuk bisa dilepas sebagai varietas unggul dengan kandungan zinc tinggi, yaitu  IR97477-115-1-CRB-0-SKI-1-SKI-0-2 (Inpari 46 Nutri Zinc), IR99680-3-CRB-0-SKI-1-SKI-2-5 (Inpari 47 Nutri Zinc), dan IR99270-34-2-1 (Inpari 48 Nutri Zinc).

Ketiganya dipilih setelah melalui beberapa metode pengujian dari mulai uji multi lokasi, pengujian ketahanan hama penyakit, pengukuran Zn sampai evaluasi karakter mutu gabah dan fisika kimia beras.

Perakitan varietas dengan kandungan zinc tinggi tersebut juga telah melalui proses yang panjang dan dirintis BB Padi di International Rice Research Institute (IRRI) sejak tahun 2000. Rintisan tersebut kemudian menghasilkan galur galur yang diuji di negara-negara kolaborator seperti IRRI, dan Harvest Plust Project (kolaborasi CIAT dan IFPRI).

Material pemuliaan tersebut telah diuji di negara-negara kolaborator penelitian, antara lain Philippines, Bangladesh, dan Indonesia.

Khusus di Indonesia, materi pemuliaan padi Zn tinggi dari IRRI mulai diuji di Indonesia pada tahun 2009 dan diintensifkan mulai pada tahun 2013. Pemurnian dan seleksi materi-materi pemuliaan tersebut telah menghasilkan galur-galur harapan yang mulai diuji multi lokasi pada tahun 2016.

"Di tahun 2016-2017, dilakukan Uji Multi Lokasi galur-galur dengan kandungan Zn tinggi di beberapa provinsi di Pulau Jawa, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat," terang Priatna.

 

Reporter : Kontributor

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018