Rabu, 17 Oktober 2018


Mari Jaga Bersama SDA Hayati dengan Sadar Karantina

12 Okt 2018, 20:03 WIBEditor : GESHA

Petugas Karantina bersama masyarakat bersama-sama menjaga sumberdaya hayati Indonesia dengan Sadar Karantina | Sumber Foto:HUMAS BARANTAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Indonesia terkenal dengan kekayaan sumberdaya alam (SDA) hayati. Namun hal tersebut bisa sirna jika dirusak oleh organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). 

Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini mengungkapkan bahwa peluang masuknya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) semakin tinggi dengan semakin meningkatnya lalu lintas komoditas pertanian.

Apalagi sekarang ini Indonesia tengah gencar-gencarnya ekspor. Karena itu, petugas karantina pertanian harus melakukan tindakan karantina berupa pemeriksaan, pengamatan dan perlakukan fisik guna memastikan komoditas pertanian tersebut bebas dari masing-masing target Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sehingga aman bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian sumber daya alam hayati tetap terjaga.

Jika ini tidak diawasi secara ketat,  maka OPTK tersebut bisa lolos masuk ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan akan beresiko bagi kelestarian sumber daya alam Hayati kita.

"Jangan salah, benih meski sedikit masuk dalam kategori high risk", tegasnya.

Setiap tahunnya, Badan Karantina Pertanian (Barantan) selalu mengeluarkan Status Jenis OPTK. Untuk tahun 2018, dikeluarkan melalui Permentan 31 tahun 2018 dan dibuat  berdasarkan hasil pemantauan OPTK serta hasil Analisis Resiko Organisme Pengganggu Tumbuhan (AROPT).

Analisa tersebut dilakukan terhadap tumbuhan yang pertama kali dimasukkan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia dan daerah sebarnya.

Analisa tersebut pun berdasarkan hasil pembahasan dengan para ahli dari universitas maupun instansi terkait, sehingga terjadi perubahan status jenis OPTK  yang disesuaikan dengan status terkini OPTK. 

Karenanya,  status OPT sangat berbeda di setiap negara, perbedaan ini juga dapat dijumpai pada sebaran geografis yang lebih sempit, misalnya antar area dalam satu negara.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor abiotik (iklim) dan biotik (ketersediaan inang, musuh alami, kompetitor, budidaya).

"OPTK itu bersifat dinamis, sehingga sangat perlu dilakukan pemutakhiran terhadap status OPTK yang sudah ada melalui pemantauan OPTK dan AROPT secara periodik," tutur Banun.

Karenanya, dengan semakin baik pemantauan, teknik deteksi dan identifikasi semakin berkembang, peralatan serta kemampuan sumber daya manusia yang semakin meningkat,  dapat diketahui sedini mungkin jenis perkembangan terbaru OPTK.

Mitigasi Resiko

Jenis  OPTK tersebut  menjadi dasar dalam mitigasi risiko masuk dan tersebarnya OPTK dari negara lain yang dapat mengancam pertanian dan lingkungan di suatu Negara, dan  juga diperlukan untuk mencegah penyebaran OPTK dari area satu ke area lainnya dalam wilayah Indonesia.

Banun menambahkan, jenis OPTK ini  digunakan sebagai upaya mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan akibat masuk dan tersebarnya OPTK dari negara lain yang dapat merusak pertanian Indonesia dan  juga penting untuk mencegah penyebaran OPTK dari area satu ke area lainnya dalam wilayah Indonesia.

Karenanya, Banun menghimbau segenap masyarakat, pengguna jasa, dan petugas karantina tumbuhan dalam melaksanakan tindakan karantina tumbuhan supaya memperhatikan Permentan  Nomor  31 Tahun 2018 sebagai  landasan hukum dalam melalulintaskan komoditas pertanian sehingga OPTK  tidak masuk ke wilayah NKRI. 

"Agar sumber daya alam hayati Indonesia makin terjaga," tutup Banun. TIA/Jojor Barita

Reporter : Tiara

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018