Rabu, 17 Oktober 2018


Bulir Padi di Lahan Pasang Surut Lebih Bernas Berkat Biosilika Sekam

23 Jul 2018, 12:20 WIBEditor : Kontributor

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Litbang Pascapanen (BB-Pascapanen) telah berhasil memproduksi pupuk silika cair dari sekam padi yang dikenal dengan biosilika. Tak hanya di lahan sawah biasa, pupuk biosilika tersebut ternyata bisa menghasilkan bulir padi yang bernas di lahan pasang surut.

Keberhasilan tersebut terlihat dari pertanaman padi milik petani di lahan pasang surut seluas 4 hektar di Desa Telang Rejo Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). "Pertumbuhan dan produksi padi saya yang diberi biosilika jauh lebih baik dibanding yang tidak diberi biosilika," ujar Ketua Kelompok Tani Daya Murni 2, Hendrik Kuswoyo yang memberanikan diri mencoba pupuk biosilika di sawahnya.

Hendrik menuturkan tanaman padinya yang diberi biosilika memiliki daun yang lebih hijau dan lebih lebar, batang lebih kekar, malai keluar lebih serempak, dan bulir lebih bernas. "Rata-rata produksi padi yang tidak diberi biosilika hanya 45 karung per hektar, sedang padi yang diberi biosilika hasilnya 65 karung per hektar," tegas Hendrik.

Lebih lanjut Hendrik mengatakan dalam satu karung hasil panen padi rata-rata beratnya hanya 70 kg, setelah diberi biosilika hasilnya meningkat 1,4 ton per hektar. Dengan harga gabah kering panen (GKP) saat itu Rp.4.000 per kg, Hendrik mendapat tambahan keuntungan kotor dari padi yang diberi biosilika Rp. 5,6 juta per hektar. "Kalau dikurangi biaya penyemprotan dua kali, tambahan keuntungannya Rp. 5,4 juta per hektar, sedang pupuk biosilikanya saya peroleh dari BB Pascapanen," ungkap Hendrik.

Sementara itu, Peneliti biosilika BB Pascapanen, Hoerudin menuturkan pembuatan pupuk biosilika yang digunakan Hendrik terbuat dari sekam yang selama ini tersisa dari proses penggilingan padi. Padahal, sekam padi mengandung silika (SiO2), suatu senyawa yang banyak dibutuhkan tanaman rerumputan seperti padi, jagung, dan tebu. "Dengan proses yang sederhana, dari sekam padi dapat dihasilkan pupuk biosilika cair yang memiliki pH alkalin, serta kandungan silika dan kalium tinggi," tuturnya.

Hoerudin mengatakan pupuk biosilika cair ini telah didaftarkan dengan merk "BioSINTA" dan saat ini sedang diproduksi masal dan tahap komersialisasi. Ia memperkirakan pupuk biosilika bisa sampai di tangan konsumen dengan harga Rp. 75.000 per liter, jauh lebih murah dibanding pupuk silika cair komersial yang sebagian besar produk impor dengan harga mencapai Rp. 175 ribu sampai Rp. 250 ribu per liter.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumsel, Priatna Sasmita mengungkapkan pemberian biosilika dari sekam dapat mempertahankan ketersediaan silika dalam ekosistem padi sawah. "Pemberian biosilika dapat mengoptimalkan produksi padi pasang surut di Sumsel yang saat ini luasnya mencapai 227.378 hektar dan menjadi salah satu lumbung padi nasional," tuturnya.

Tak harus menunggu bantuan untuk bisa memperoleh pupuk biosilika ini karena petani juga bisa membuat sendiri pupuk biosilika ini dan Balitbang Pertanian melalui BPTP di daerah-daerah sudah melakukan bimbingan teknis agar petani membuatnya sendiri. "Kami sudah adakan pelatihan pembuatan pupuk biosilika di tingkat petani dan pada musim tanam mendatang pupuk biosilika akan diterapkan pada demfarm budidaya padi lahan pasang surut berbasis mekanisasi," tutup Priatna.

 

 

 

Editor : Gesha

TAG

BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018