Rabu, 17 Oktober 2018


Ubah Pola Pikir Bisnis Peternak Rakyat Lewat SPR

10 Okt 2018, 17:08 WIBEditor : Gesha

Pendamping SPR melakukan praktek di Muara Enim | Sumber Foto:LPPM IPB

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Selama ini, peternak rakyat hanya berpikiran beternak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri saja. Kalaupun berbisnis, tidak memiliki kekuatan modal yang cukup. Karena itu, Institut Pertanian Bogor (IPB) sudah memulai untuk mengubah mindset bisnis dari peternak rakyat dalam bentuk Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).

"Kini sudah berjalan lima tahun. Mereka (peternak) merasa dianggap, mereka merasa diperankan, akhirnya mereka mengubah cara berpikir secara berjamaah. Dari nggak bisa apa-apa, kemudian terpikir untuk bisnis kolektif itu setelah 4 tahun menimba ilmu di SPR," beber pengagas SPR, Prof Muladno.

Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB tersebut bahkan menunjuk SPR dari Bojonegoro (Kecamatan Temayang, Kecamatan Kasiman, Kecamatan Kedungadem) dan Sumatera Selatan (Kecamatan Betung-Kabupaten Banyuasin, Kecamatan Sungai Lilin-Kabupaten Musi Banyuasin dan Kecamatan Mesuji Raya Oki-Kabupaten Ogan Komering Ilir 2) menjadi contoh sukses pembinaan SPR.

Untuk diketahui, SPR muncul dari gagasan untuk memberdayakan peternak skala kecil yang mengusahakan sekitar 98 persen ternak di Indonesia. Dan lebih dari 4 juta peternak skala kecil merupakan aset bagi pemerintah dalam membantu program-program penyediaan produk ternak bagi rakyat Indonesia.

Lebih jauh Prof Muladno menjelaskan, peternak rakyat inilah yang harus diubah pola pikirnya. Sebab banyak hal negatif dan menyedihkan yang terjadi pada mereka saat tidak dibekali ilmu dan pengetahuan peternakan yang memadai. Misalnya, ternak dijual murah, ternak berkualitas buruk dipertahankan tetapi yang berkualitas malah dijual atau dipotong.

Jutaan peternak rakyat inilah yang harus diubah cara berpikir sekaligus cara berbisnisnya. Mereka perlu berhimpun diri dalam kebersamaan untuk membangun perusahaan kolektif berbadan hukum dimana ternak dan semua asset lahan yang dimiliki merupakan aset bersama yang dikelola secara profesional dan proporsional.

Untuk meningkatkan produksi ternak, pendampingan dari pemulia ternak juga hadir. "Awalnya, orang-orang kita lakukan pendampingan kepada peternak di daerah yang diinginkan. Tapi begitu saya pergi, mereka bergerak meniru apa yang kami rekomendasikan secara perlahan-lahan dan akhirnya mereka semua jadi," tuturnya.

SPR dibentuk dalam satu kawasan pemukiman peternak berskala kecil yang dapat berupa satu dusun atau satu desa atau satu kecamatan. Satu SPR terdiri dari minimal 1000 ekor ternak betina produktif dengan maksimal 100 ekor jantan.

Di dalam kawasan SPR, berbagai ilmu pengetahuan seperti reproduksi, pakan, pembibitan, manajemen, sosial ekonomi, hingga pengembangan jejaring diberikan kepada peternak.

"Ada empat komponen yang penting, pertama mengubah mindset dan bobotnya 40 persen. Kedua, wawasan bisnis dengan bobot 30 persen,  kemudian penerapan ilmu dan teknologi dengan bobot 20 persen dan 10 persen sisanya merupakan komitmen dari Pemerintah Daerah Kabupaten. Cukup itu aja komponen-komponen penting yang harus dibangun di setiap komunitas. Apapun jenis ternaknya," bebernya.

Kerjasama

Program SPR merupakan upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak Indonesia dengan melakukan pelatihan dan diseminasi teknologi serta pembentukan kelembagaan peternak yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan produksi daging nasional.

IPB telah membangun beberapa SPR di sentra-sentra produksi ternak di Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah daerah, dengan jenis ternak antara lain sapi, kambing, dan ayam.

Sampai hari ini sudah ada 29 SPR yang dikembangkan di 13 kabupaten di Indonesia. Bahkan Prof Muladno tengah merintis kerjasama dengan Universitas di beberapa daerah untuk pendampingan langsung pada SPR di daerah.

"Saya minta perguruan tinggi harus mulai akan diundang untuk memindahkan konsep ilmu (SPR) ini, karena kami nggak mungkin sendiri. Misalnya, nanti untuk mengerjakan peternak di Lombok sana dengan Universitas Negeri Mataram (Unram) saja, begitu pula di Bengkulu dengan Universitas Bengkulu," bebernya.

Prof Muladno yakin jika semua universitas mengerti konsep SPR ini, pemenuhan kebutuhan daging dari hewan ternak sekaligus kesejahteraan peternak bisa diperoleh sekaligus. (gsh)

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Gesha

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018