Rabu, 17 Oktober 2018


Percepat Proses Sertifikasi Karantina untuk Ekspor, Barantan Jemput Bola

11 Okt 2018, 19:05 WIBEditor : Gesha

Petugas Karantina mengecek mangga yang akan diekspor | Sumber Foto:HUMAS KARANTINA

TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya --- Pemeriksaan karantina pada tiga komoditas pertanian ekspor asal Jawa Timur masing-masing mangga, benih kangkung dan bawang merah oleh petugas Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya dilakukan di gudang pemilik. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses sertifikasi bagi kesehatan dan keamanan produk sesuai dengan persyaratan negara tujuan.

"Kami menjemput bola, petugas akan mendatangi gudang pemilik untuk lakukan pemeriksaan sesuai prosedur, jika lolos sertifikasi kesehatan sebagai persyaratan ekspor langsung diserahkan dan produk siap kirim," kata, Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Musyaffak saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman melepas ekspor perdana mangga harum manis asal Jawa Timur di Surabaya, Senin (8/10).

Lebih lanjut Musyaffak menjelaskan langkah ini adalah bentuk layanan Badan Karantina Pertanian (Barantan) yang disebut Inline Inspection. Layanan ini berguna untuk mendorong ekspor produk pertanian dengan tetap memberikan pengawasan dan jaminan kesehatan dan keamanan.

Sebagai unit pelaksana teknis vertikal Kementan yang memiliki tugas mencegahtangkal hama penyakit hewan dan tumbuhan yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat dan kelestarian sumber daya alam hayati, Barantan terus lalukan terobosan kebijakan, percepatan layanan dengan pemanfaatan teknologi informasi, harmonisasi aturan dan protokol karantina di negara tujuan ekspor serta peningkatan kompetensi SDM perkarantinaan juga sarana dan prasarana serta standardisasi laboratorium.

Pemeriksaan di gudang tersebut merupakan pemeriksaan terakhir sebelum akhirnya produk siap dikirim. Karena jauh hari sebelum peluncuran perdana komoditas hortikultura berupa 100 ton mangga (untuk Singapura dan Malaysia), 800 ton benih kangkung (ke Cina, Malaysia dan Vietnam) dan 800 ton bawang merah (ke Filipina), petugas karantina pertanian selalu melakukan pemeriksaan berupa pengamatan dan perlakukan fisik guna memastikan komoditas pertanian tersebut bebas dari masing-masing target pest, aman dan sehat.

“Hal ini merupakan persyaratan masing-masing negara tujuan ekspor atau export permit, berupa surat kesehatan tumbuhan atau Phitosanitary Certificate, PC,” jelas Musyaffak.

Untuk diketahui Indonesia memang tengah menggenjot ekspor berbagai produk pertanian, tidak terkecuali produk hortikultura. Berdasarkan data BPS, ekspor komoditas hortikultura segar Januari hingga Juli 2018 mencapai Rp 1,22 triliun atau naik sebesar 60,5 persen dibanding periode tahun sebelumnya yang hanya Rp 0,76 triliun.

Ini pertanda upaya Kementan dalam mendorong produktivitas komoditas pertanian berupa bantuan, pendampingan dan membangun kemitraan petani membuahkan hasil positif. Untuk itu, Barantan selaku trade facilitator tool bagi komoditas pertanian terus lakukan percepatan dalam layanan ekspor.

Salah satunya adalah inovasi online single submission yang diinisiasi pada 2013. Layanan ini kemudian diadopsi oleh Kemenko Perekonomian guna memperlancar arus barang yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing bagi produk pertanian yang diekspor.

Barantan juga lakukan uji coba integrasi sistem monitoring arus barang secara real time yaitu IQ-FAST dengan anjungan tunai mandiri, ATM dari Bank Mandiri. Hal ini bakal memungkinkan pengguna jasa lakukan pembayaran layanan karantina via ATM dan menambah percepatan proses sertifikasi, yang menjadi persyaratan ekspor.

Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, sebagai salah satu unit pelaksana teknis utama menjadi 1 dari 10 unit pelaksana teknis di Barantan yang telah terintegrasi dengan sistem Indonesia National Single Window (INSW). Hal ini juga diperuntukan guna mendukung eksportasi produk pertanian asal Jawa Timur.  TIA/Endah/Herny

Reporter : Tiara
BERITA TERKAIT

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018