Loading...

14 Negara APO Barter Informasi Agribisnis

16:28 WIB | Tuesday, 29-November-2016 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Kegiatan agribisnis sudah tentu menjadi bagian hilirisasi produk pertanian untuk kemudian bisa dinikmati konsumen. Sayangnya, melemahnya perekonomian dunia yang sedang terjadi sekarang berimbas pada pertumbuhan ekonomi dari sektor agribisnis.

 

Perlu adanya gagasan-gagasan baru  dan standarisasi pendekatan untuk keberlanjutan pada masa datang. Penerapannya pun didasarkan kepada dimensi  sosial, ekonomi dan lingkungan. Karenanya, sebanyak 14 negara yang tergabung dalam Asian Productivity Organization (APO) melakukan workshop selama lima hari sejak 28 November-2 Desember 2016 di Bogor.

 

Untuk diketahui, APO merupakan organisasi antar pemerintah regional Asia Pasifik yang terbentuk sejak 1961. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas di negara-negara anggota melalui kegiatan yang menguntungkan seperti pertukaran pengetahuan, informasi dan pengalaman.

 

Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kerjasama dengan luar negeri guna peningkatan kompetensi sumberdaya di Indonesia dan dunia.  Tak hanya kompetensi sumberdaya manusia untuk sektor hulu di pertanian, tapi juga penguatan kompetensi sumberdaya di hilir pertanian seperti agribisnis.

 

“Kami berharap penerapan prinsip berkelanjutan (sustainbility) bagi perusahaan kecil dan menengah juga menjadi konsern dalam workshop ini,” katanya.

 

Narasumber workshop pun tidak main-main, beberapa narasumber dari Indonesia, Switzerland, NewZealand dan Australia hadir untuk memberikan gambaran dan penilaian usaha agribisnis yang berkelanjutan.

 

Peserta Workshop juga diajak untuk studi kasus ke perusahaan yang bergerak di bidang budidaya sayuran dan pengemasan sayuran di Kota Bogor yakni PT Siap Saji dan CV Wiguna.

 

Transfer Ilmu

 

Momon mengatakan kegiatan ini juga bisa menjadi ajang transfer keilmuan antar negara. Apalagi masing-masing negara mempunyai keunggulan dalam bidang SDM  dan organisasi agribisnis. “Dengan workshop ini kita harus mampu mentransfer teknologi yang lebih baik dari luar negeri untuk bisa dikembangkan di Indonesia," tuturnya.

 

Sementara itu Kepala Pusat Pelatihan BPPSDMP, Widi Hardjono mencontohkan Bangladesh mempunyai keunggulan dengan BRAC guna penyuluhan dengan sistem portal kit. Contoh lainnya adalah Taiwan yang kini sudah memiliki bentuk sistem agribisnis yang terbaik.

 

Mongolia yang menugaskan perwakilan bagian Usaha Kecil dan Menengah dalam workshop untuk memaparkan mekanisme skim kredit bagi usaha kecil menengah disana. “Pengalaman-pengalaman yang mereka miliki itu apa, kita saling sharing. Baik dari narasumber maupun peserta,” katanya.

 

Peserta workshop dari Malaysia, Mohd Shah bin Mohd Zain menuturkan, di negaranya, komoditas pertanian seperti tanaman pangan (padi), kelapa, susu sapi hingga madu lebah menjadi andalan agribisnis. “Dengan adanya workshop ini, kami bisa bekerjasama memperkenalkan apa yang sudah Malaysia lakukan untuk meningkatkan produktivitas. Kami juga akan bisa mendapatkan input informasi produktivitas dari negara-negara lain untuk bisa serap,” ungkapnya.

 

Di Malaysia pertumbuhan pelaku agribisnis juga dilindungi kementerian terkait. "Kita salurkan semua informasi dan teknologi kemudian kita pertemukan antara peneliti dan peladang (petani) per kawasan,’” ujarnya.

 

Salah satu narasumber workshop dari Switzerland, Moritz Michael Teriete menuturkan, aspek berkelanjutan dalam suatu usaha agribisnis tidak hanya berpatok kepada keramahan terhadap lingkungan. Namun,  berkaitan secara tidak langsung dengan faktor lain seperti ekonomi dan sosial.

 

“Tentu keadaan ekonomi akan berpengaruh kepada keadaan wirausahawan agribisnis. Ekonomi yang stabil akan menjadikan mereka bisa menghasilkan pendapatan untuk kebutuhan hidupnya,” ungkapnya. Gsh

 

 

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162