Loading...

Ada OPT, Laporkan ke Klinik Tanaman IPB

13:44 WIB | Thursday, 22-March-2018 | Tips & Santai, Non Komoditi | Penulis : Gesha

 

 

Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) ibarat tamu yang selalu datang saat musim tanam padi. Untuk membantu petani mengatasi OPT, IPB menyediakan Klinik Tanaman yang selalu bergerak mobile. Tak hanya mengumpulkan data kemunculan hama, Klinik Tanaman juga menjadi Unit Reaksi Cepat (URC) untuk petani Indonesia. 

 

Kepala Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Aji Hermawan menuturkan Klinik Tanaman menjadi salah satu aktifitas pengabdian masyarakat yang dimotori Departemen Proteksi Tanaman IPB. Pihak-pihak yang terlibat berasal dari dosen maupun mahasiswa. 

 

"Menjadi responsif dan cepat karena adanya mitra-mitra petani yang berjejaring dengan klinik tanaman sehingga info insidensi kemunculan hama termonitoring,” kata Aji saat Seminar Nasional Menemukan kembali PHT Kita : Memutus Lingkaran Setan Wereng Cokelat dan Virus Padi, di IPB, Kamis (22/3).

 

Sementara itu Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB, Suryo Wiyono mengatakan Klinik Tanaman hadir untuk merespons persoalan petani dan dunia pertanian. Melalui kegiatan Klinik Tanaman, IPB pernah memberikan warning kepada pemerintah terkait adanya potensi outbreak hama wereng cokelat di tanaman padi.

 

Tahun lalu, IPB juga menerjunkan tim ke 30 kabupaten di daerah Jawa, Bali, Sumatra Selatan dan Lampung. Saat itu kata Suryo, IPB mengingatkan potensi outbreak wereng yang membuat petani kehilangan hasilnya sampai 15%.

 

Ketua Gerakan Petani Nusantara (GPN), Hermanu Triwidodo menuturkan kondisi ledakan hama ini menyerupai yang terjadi pada tahun 2011/2012, hanya saja lokasinya lebih luas. Ledakan wereng cokelat tersebut karena adanya spot populasi wereng  cokelat di hampir semua  daerah sentra produksi padi di Pulau Jawa.

 

"Sekarang, pengawasan dampak WBC tak hanya dilakukan di lapangan darat, tapi juga secara digital melalui pengamatan drone dan satelit untuk melihat luasannya," tutur Hermanu. 

 

 

 

Libatkan Mahasiswa

 

Dalam setiap kegiatannya, Klinik Tanaman melibatkan mahasiswa program sarjana (S-1) maupun pascasarjana (S-2). Bahkan beberapa tahun terakhir, Suryo memberikan penugasan khusus kepada mahasiswa HPT yang pulang kampung untuk melakukan pendataan persoalan petani di wilayahnya.

 

Di tahun lalu juga didapatkan  41,3% lokasi yang ditemui mahasiswa diduga mengalami serangan bacterial grain rot (BGR) atau penyakit busuk bulir bakteri pada tanaman padi. “Status organisme penganggu tanaman ini sebenarnya tergolong A2, harusnya ada dalam jumlah terbatas saja. Tapi di lapangan mahasiswa menemukannya dalam jumlah cukup banyak,” ujarnya.

 

Menariknya, sebanyak 45,8% benih dari pemerintah bergejala BGR. Lalu benih-benih yang dibeli dari toko memiliki 41,2% bergejala BGR. Sedangkan petani yang benihnya membuat sendiri hanya terserang BGR sekitar 36,5%.

 

Suryo mengungkapkan, munculnya penyakit pada tanaman padi itu merupakan akibat dari pola tanam yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam setahun.  Dia menilai, pemerintah memiliki cara pandang keliru untuk meningkatkan produksi tanaman. Tanaman itu adalah makhluk hidup yang memiliki tingkat kejenuhan.

 

“Ketika dipaksa untuk panen tiga kali dalam setahun tidaklah heran menjadi banyak persoalan yang muncul. Misalnya, kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit di hamparan tanaman padi para petani,” ujarnya.

 

Dengan adanya pengetahuan ini sekaligus semangat mahasiswa untuk melindungi pertanaman padi, Suryo bertekad untuk lebih menggenjot lagi aktifitas Klinik Tanaman. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162