Loading...

Alat dan Mesin Pertanian, Penerobos Keterbatasan Sorgum Likotuden

13:07 WIB | Friday, 19-May-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Tenaga manusia dipastikan tak akan mampu menghadapi sorgum yang membentang di Desa Kawaleo, Larantuka. Teriknya mentari, minimnya air, lahan berbatu adalah pembatasnya. Alat dan mesin (Alsin) menjadi salah satu kunci penerobos keterbatasan itu.

 

Desa Likotuden Kecamatan Kawali merupakan sentra produksi sorgum dengan luasan 40 hektar dan petani sudah mengembangkan sorgum sampai 3 tahun terakhir. Kini melalui program Bioindustri, luas itu bertambah 772 hektar, dan akan mencapai 1000 hektar hinga akhir 2017.

 

Kepala BB Mektan, Serpong, Andi Nur Alamsyah bercerita, seluruh lahan untuk tanaman sorgum yang sudah ditanam berupa lahan tanah berbatu serta berbukit dan tidak rata.  Lahan ini di olah dengan system Tanpa Olah Tanah (TOT). 

 

Penanaman masih dilakukan secara manual dengan cara tugal dan diisi 4 butir biji sorgum kemudian tanahnya ditutup menggunakan kaki. Tanaman dibiarkan tumbuh hanya mengandalkan air hujan tanpa diberi pupuk. 

 

Pemanenan, sebagian besar dilakukan menggunakan tenaga manusia untuk pemotongan bagian atas tanaman sorgum yang ada buahnya dan perontokan menggunakan tresher sorgum buatan pengrajin lokal.

 

Melihat kondisi budidaya sorgum yang tradisional itu, maka peran Alsin menjadi sangat penting. Nur Alamsyah memberikan sebuah ilustrasi, sorgum itu mengandung lapisan perikarp dan lapisan testa yang mengandung tanin dari bagian endospermnya. Lapisan tersebut dapat menurunkan daya cerna protein dalam lambung dan menyebabkan rasa sembelit.

 

Untuk membuang lapisan ini maka diperlukan proses penyosohan biji sorgum sehingga dapat mengurangi kadar tanin dalam biji sorgum. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, penyosohan biji sorgum secara mekanis dapat dilakukan dengan optimal menggunakan mesin penyosoh tipe abrasif.

 

Keterbatasan lain juga akan sangat terasa, apalagi dilihat tenaga kerjanya. Tenaga kerja pertanian yang ada hanya generasi tua sehingga untuk beberapa tahun ke depan akan sangat kekurangan tenaga kerja, akibatnya  upah akan  menjadi mahal.

 

Dia juga menambahkan, provitas sorgum di daerah ini rata-rata 2,7 ton di musim penghujan. Kemudian ada sebagian yang dapat diratun pada musim kemarau namun hasilnya rata-rata 1 ton dan biji sorgum lebih kecil dari hasil musim penghujan. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162