Loading...

Anak Muda Kembali Bertani Karena Terpikat Alsintan

04:32 WIB | Wednesday, 23-May-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Indarto

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menunjukkan ketangkasan mengendarai traktor roda empat

Alat dan mesin pertanian (alsintan) yang  diberikan ke sejumlah kelompok tani atau unit pelayanan jasa alsintan (UPJA) punya peran besar dalam mendukung penguatan mekanisasi pertanian kurun 3 tahun terakhir. Penggunaan alsintan terbukti mampu menekan biaya produksi petani. Berkat alsintan mindset anak muda untuk kembali menekuni dunia pertanian mulai berdenyut di sejumlah daerah.

 

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengemukakan, tanpa optimalisasi penggunaan alsintan tak akan mungkin olah tanah dan panen bisa dilakukan dengan cepat,efektif dan efisien. "Dengan alsintan, sudah banyak anak-anak muda kembali ke desa untuk bertani. Karena anak-anak muda bisa mengolah tanah dengan traktor roda empat dan menaman padi dengan rice transplanter di sawah," kata Andi Amran Sulaiman, pada acara optimalisasi pemanfaatan alsintan di Desa Tenggarang, Kec.Tenggarang, Kab. Bondowoso, Jawa Timur (Jatim), Selasa (22/5).

 

Untuk menunjukkan mudahnya mengolah tanah dengan alsintan, Mentan pun mencoba melakukan olah tanah dengan traktor roda 4. "Kalau anak-anak muda mengolah tanah dengan mengendarai traktor roda empat akan lebih keren. Mereka juga bisa telepon sambil mengendarai traktor di sawah," papar Amran.

 

Ia juga menuturkan, petani yang menanam padi dengan rice transplanter hanya butuh waktu 3 jam/ha. Padahal, kalau dilakukan secara tradisional perlu waktu 25 hari/ha. "Penggunaan rice transplanter selain lebih cepat, juga bisa menekan biaya produksi. Sebab, kalau panen dilakukan secara manual perlu biaya sekitar Rp 2 juta/ha. Nah, dengan combine transplanter biaya panen bisa ditekan hanya Rp 1 juta/ha," kata Amran.

 

Menurut Amran, penggunaan combine harvester juga berdampak posotif terhadap berkurangnya kehilangan hasil. Artinya, dengan alat tersebut bisa menekan losses ketika panen sebesar 10%. "Jadi, penggunaan alsintan sangat membantu petani untuk menekan biaya produksi dan kehilangan hasil," ujarnya.

 

Optimalisasi alsintan, lanjut Amran juga berdampak positif terhadap percepatan tanam. Sehingga, lahan sawah yang sebelumnya hanya bisa ditanami 2 kali setahun, saat ini bisa tanam 3 kali setahun. "Waktu bisa dihemat, terjadi peningkatan produksi yang signifikan,biaya bisa ditekan dan pendapatan petani naik 3 kali. Jadi, tak aneh kalau anak muda saat ini banyak yang tertarik bertani dengan lagi," demikian Amran. (idt)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162