Loading...

Aturan Baru Biosekuriti Perkarantinaan Segera Diberlakukan

16:50 WIB | Wednesday, 09-May-2018 | Non Komoditi, Karantina | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Komoditas ekspor dan impor bakal dipersyaratkan harus terbebas dari hama dan penyakit. Aturan ini akan diberlakukan negara-negara anggota yang tergabung dalam International Cargo Cooperative Biosecurity Arrangement (ICCBA), termasuk Indonesia.

 

Saat ini Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian RI didukung Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) gencar melakukan sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan swasta menyongsong aturan Biosecurity yang akan diberlakukan secepatnya.

 

“Untuk komoditas ekspor maupun impor, nanti akan ada perlakuan karantina untuk mencegah masuk penyebaran atau menetapnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) ke dalam wilayah negara RI atau ke negara lain,” jelas Ketua ASPPHAMI, Boyke Arie Pahlevi di sela-sela ICCBA Industrial Conference yang digelar di Bali, Senin (7/5).

 

Boyke mengemukakan, ASPPHAMI akan mendukung pemerintah dalam pelaksanaan karantina itu, utamanya dalam Phytosanitary Treatment (tindakan pengobatan untuk kesehatan tumbuhan). Semua komoditas ekspor dan impor harus diperiksa kesehatannya oleh petugas Karantina di lokasi penyimpanan/penimbunannya.

 

Ini merupakan salah satu syarat agar barang ekspor dapat keluar dari pabean dan diterima di negara tujuan ekspor, atau barang impor dapat masuk ke wilayah RI. “Jenis Perlakuan Karantina Tumbuhan yang diserahkan kepada ASPPHAMI adalah perlakuan kimiawi dengan fumigasi,” katanya.

 

Jumlah anggota ASPPHAMI yang terdaftar dalam Barantan sedikitnya mencapai 90 perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Pihaknya akan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan SDM para anggotanya untuk pelaksanaan karantina.

 

“Kami akan menjembatani Barantan dengan para fumigator. Sejauh ini kami juga telah melaksanakan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi fumigator serta melakukan audit dan penilaian terhadap perusahaan fumigasi,” papar Boyke. 

 

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Barantan, Antarjo Dikin mengatakan, komoditas yang memerlukan fumigasi adalah komoditas yang berisiko membawa atau menularkan hama. Tidak hanya pada komoditasnya, fumigasi juga dapat dilakukan terhadap alat angkut atau kontainer apabila berpotensi membawa hama.

 

Selain untuk pencegahan hama dan penyakit karantina juga diterapkan untuk perlindungan kesehatan manusia dengan pengawasan keamanan pangan (food safety) seperti pengawasan cemaran kimiawi dan biologi. “Saat ini, persyaratan keamanan pangan banyak diterapkan secara ketat oleh negara-negara mitra dagang," katanya.

 

Tindakan karantina dilakukan di pre-border, border dan post border. Penerapan tindakan karantina di pre border dilakukan melalui penguatan persyaratan karantina yang harus dipenuhi oleh negara mitra dagang misalnya persyaratan fumigasi sebelum diekspor ke Indonesia. Sementara di border, melalui serangkaian tindakan karantina termasuk inspeksi ketika komoditas masuk di pelabuhan atau bandar udara dan di post border berupa kegiatan monitoring atau post audit terhadap kesesuaian komoditas atau kepatuhan pengguna jasa. Tia/Ira

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162