Loading...

Balitbangtan Kenalkan Deteksi Cepat Aflatoksin pada Pala

11:42 WIB | Tuesday, 08-May-2018 | Inovasi Teknologi, Teknologi | Penulis : Kontributor

Buah Pala telah lama dikenal sebagai komoditi ekspor dari tanaman perkebunan. Namun, kandungan aflatoksin seringkali menghambat. Karena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mulai memperkenalkan cara deteksi cepat aflatoksin. 

 

Pala Indonesia kini kian laris manis di pasar Eropa. Salah satu provinsi pengekspor pala dari Indonesia adalah Sulawesi Utara. Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulut menyebutkan tren pengiriman biji pala maupun fuli ke Italia, Belanda, Inggris, Jerman cenderung meningkat, hampir setiap bulan terjadi realisasi ekspor ke negara tersebut. 

 

Di tahun 2016 lalu, ekspor pala dari Sulawesi Utara ke Eropa khususnya Belanda dan Italia mencapai 19,81 ton pada Februari 2016. Jumlah ini diprediksi terus naik setiap tahunnya. 

 

Namun, realisasi ekspor tersebut bisa terkendala jika pekebun tidak mampu menjaga kualitas termasuk kandungan aflatoksin. Untuk diketahui, aflatoksin adalah zat karsenogenik yang dihasilkan oleh jamur pada biji pala. 

 

Peneliti Balai Besar Pascapanen, Balitbangtan, Tatang Hidayat menuturkan bahwa salah satu hambatan ekspor pala Indonesia di negara tujuan antara lain Uni Eropa adalah adanya kandungan aflatoksin yang melebihi batas yang dipersyaratkan. Beberapa tahun lalu, biji pala asal Indonesia ditolak Uni Eropa karena mengandung aflatoksin hingga 200 ppb/kg. Padahal, batas maksimum UE hanya 5 ppb/kg biji pala.

 

Untuk mengatasi hal tersebut, BB Pascapanen memperkenalkan deteksi cepat aflatoksin yang dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini ada tidaknya aflatoksin pada pala di tingkat petani atau pedagang. 

 

Inovasi deteksi cepat ini dikenalkan dalam Capacity Building Pascapanen Pala untuk Petani dan Petugas Dinas diselenggarakan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHBUN), Ditjen Perkebunan bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara pada tanggal 3 - 5 Mei 2018 di Manado. Kegiatan ini diikuti oleh petani dan petugas dinas provinsi sentra produksi pala, yaitu Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat. 

 

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan petugas dinas dalam melaksanakan pascapanen pala sesuai dengan praktek penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices/GHP). 

 

Nara sumber dalam Capacity Building Pascapanen Pala, yaitu Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan (Ir. Dedi Junaedi, M.Sc), Peneliti Balai Besar Pascapanen Litbang Pascapanen, Balitbangtan (Dr. Edi Mulyono, MS dan Ir. Tatang Hidayat, MS), serta Direktur PT. Alam Sari (Sigit Ismaryanto).

 

Untuk memberikan pengetahuan lapangan kepada peserta tentang penanganan pascapanen pala yang baik dan sesuai standar ekspor, pada kegiatan capacity building pascapanen pala ini juga dilakukan field trip ke PT. Indospices salah satu perusahaan eksportir pala yang ada di Kota Manado.

 

Penanganan Pascapanen

 

Satu-satunya cara pencegahan aflatoksin pada pala adalah penanganan pascapanen yang tepat. 

 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (Ir. Dedi Junaedi, M.Sc) dalam paparannya menjelaskan bahwa agar dapat dihasilkan pala sesuai persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga dapat meminimalisir hambatan ekspor pala di negara tujuan maka pascapanen pala sangat penting mengacu pada praktek penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices/GHP). 

 

Direktorat PPHBUN sendiri telah menerbitkan kebijakan penerapan pascapanen pala yang baik dengan Permentan Nomor 53/Permentan/OT.140/9/2012, tanggal 4 September 2012 tentang Pedoman Penanganan Pascapanen Pala.

 

Direktur PT. Alam Sari, Sigit Ismaryanto mengatakan bahwa diperlukan komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk menghasilkan pala yang sesuai dengan standar mutu sehingga ke depan penolakan ekspor tidak terjadi lagi.

 

Sementara itu, Peneliti Balai Besar Pascapanen Litbang Pascapanen (Dr. Edi Mulyono) dalam paparannya menyampaikan bahwa diversifikasi produk pala sangat penting dilakukan sehingga petani atau UKM tidak hanya terpaku pada produk tradisional seperti biji pala, namun juga harus sudah mulai merambah pada pemanfaatan bagian-bagian buah pala yang lain untuk menghasilkan produk turunan yang beraneka ragam seperti kosmetik, kapsul pala dan lain sebagainya untuk meningkatkan nilai tambah. (TH,EM/gsh/bbpascapanen)

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162