Loading...

Bawang Merah Kini Tak Hanya Brebes

20:17 WIB | Tuesday, 03-October-2017 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Julianto

Pamor bawang merah kini tak hanya Brebes dan Cirebon. Sejak pemerintah menggerakan pengembangan budidaya komoditas yang kerap menjadi penyumbang inflasi, ketenarannya kian meluas ke seluruh Indonesia.

 

"Adanya program pemerintah yang saling bersinergi untuk mengatur komoditas ini, juga berimplikasi dengan maraknya pertanaman bawang merah seantero Indonesia Raya. Sentra-sentra baru terus bermunculan sepanjang dua tahun terakhir ini," kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, beberapa waktu lalu.

 

Karena itu, bawang merah kini tidak cuma tersohor di Brebes dan Cirebon, melainkan juga di Enrekang (Sulawesi Selatan), Solok (Sumatera Barat), Tapin (Kalimantan Tengah), Demak (Jawa Tengah), Nganjuk (Jawa Timur), Bima (Nusa Tenggara Barat), dan sebagainya.

 

Dengan berkembangnya sentra bawang merah baru tersebut, membuat daerah-daerah yang awalnya sangat tergantung dengan pasokan di Pulau Jawa, perlahan mandiri. Kondisi itu menurut Spudnik, membentuk suatu tatanan tata niaga yang baru. Jalur distribusi dari dan ke suatu daerah kini kecenderungannya berubah. “Perdagangan bawang merah sedang menuju titik keseimbangan baru yang ditandai dengan makin rendahnya fluktuasi dan disparitas harga," papar Spudnik.

 

Membaiknya produksi dan harga bawang merah berdampak positif terhadap perekonomian nasional. Sebab, komoditas tersebut kini turut menjadi salah satu faktor deflasi pada Agustus 2017, setelah sekian lama "dituduh" penyebab inflasi nasional.

 

Ada beberapa kiat pemerintah mendongkrak produksi bawang merah. Pertama, dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta pengawasan terhadap pola tanam bawang merah.

 

Kedua, membuat instrumen pengatur harga batas bawah di produsen dan batas atas pada konsumen untuk beberapa komoditas strategis, termasuk bawang merah. Melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 27 Tahun 2017, disepakati batas bawah konde basah Rp15 ribu/kg, konde askip Rp18.300/kg, dan rogol askip Rp22.500/kg. Sedangkan batas atas di tingkat konsumen Rp 32.000/kg.

 

'Jurus' lain ialah bermitra dengan petani atau disebut "Champion" yang berkomitmen membantu pemerintah dalam stabilisasi harga. Lalu, pemerintah mendukung industri rumah tangga sebagai bentuk perhatian di sektor hilir dengan memberikan alat pengolah bawang merah yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk, khususnya di saat panen melimpah. Yul

 

Editor :  Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162